Anak SMP jadi korban, anak SMP diduga pelaku pembacokan: ada apa dengan remaja Mataram?

Suasana di Jalan Udayana Mataram pada malam hari
Suasana kawasan Udayana, Kota Mataram. Kasus pembacokan yang menewaskan seorang pelajar SMP menjadi sorotan terhadap keamanan ruang publik dan perlindungan anak.

kicknews.today – Seorang siswa kelas 2 SMP meninggal setelah menjadi korban pembacokan di Jalan Udayana, Kota Mataram. Di sisi lain, sebagian dari 10 orang yang diamankan polisi terkait rangkaian kekerasan tersebut juga masih berstatus pelajar SMP.

Peristiwa ini menyisakan persoalan yang lebih luas dari penangkapan terduga pelaku. Ketika anak menjadi korban sekaligus diduga terlibat dalam kekerasan, perhatian perlu diarahkan pada lingkungan pergaulan, hubungan keluarga, dan keamanan ruang publik tempat mereka beraktivitas.

Korban dinyatakan meninggal di ruang ICU RSUD H Moh Ruslan Kota Mataram, Selasa (27/10/2026), pukul 14.58 WITA. Ia sebelumnya mendapat perawatan intensif akibat penyerangan pada Minggu (25/10/2026) dini hari.

“Iya, korban dinyatakan meninggal pada pukul 14.58 Wita,” kata Direktur Utama RSUD H Moh Ruslan Kota Mataram, dr. NK Eka Nurhayati.

Sementara itu, Kasatreskrim Polresta Mataram AKP I Made Dharma Yulia Putra mengungkapkan usia sejumlah orang yang diamankan dalam pengusutan perkara tersebut.

“Rata-rata masih SMP, ada yang berusia 14, 15, 17, dan 21 tahun,” ujarnya, Selasa (27/10/2026).

Polisi masih memeriksa peran masing-masing orang. Tiga dari 10 orang yang diamankan disebut telah berusia dewasa. Sebagian juga berasal dari luar Kota Mataram. Dengan demikian, perkara ini tidak bisa dijadikan gambaran perilaku seluruh remaja di kota tersebut.

Pengalaman menghadapi kekerasan jalanan remaja di Yogyakarta memberi bahan pembanding. Dalam pembahasan fenomena klitih, psikolog Istiana Tajuddin menjelaskan bahwa kebutuhan diterima oleh lingkungan sosial memiliki peran penting dalam kehidupan remaja.

“Bagi remaja, berada di lingkungan sosial itu penting sekali, jadi pertimbangan utamanya adalah saya ingin diterima di sini,” ujar Istiana dalam diskusi Fakultas Psikologi UGM bersama TVRI Yogyakarta pada 16 Juni 2026.

Dalam diskusi tersebut, kebutuhan mendapat pengakuan dibahas sebagai salah satu dorongan yang dapat membuat remaja mengikuti tindakan agresif kelompok. Kedekatan dengan teman menjadi persoalan ketika penerimaan dalam kelompok berkaitan dengan keberanian melakukan kekerasan.

Penelitian Arum Febriani dari Fakultas Psikologi UGM turut memberikan gambaran mengenai faktor risiko tersebut. Penelitian berjudul Klithih: Faktor Risiko dan Developmental Pathway Pelakunya, yang terbit dalam jurnal Humanitas pada Agustus 2018, melibatkan 10 remaja berusia 15–17 tahun di Lembaga Pembinaan Khusus Anak Wonosari, Yogyakarta.

Dari wawancara dan analisis kualitatif, penelitian itu menemukan tiga faktor risiko: hubungan yang buruk dengan orang tua, keterikatan pada kelompok teman sebaya yang berperilaku menyimpang, serta rendahnya motivasi akademik.

Temuan tersebut menggambarkan pengalaman peserta penelitian di Yogyakarta. Penyebab keterlibatan anak dalam perkara Mataram tetap harus ditelusuri melalui pemeriksaan. Namun, kajian itu menunjukkan pentingnya melihat hubungan antara kehidupan anak di rumah, sekolah, dan lingkungan pergaulannya.

Baca juga: Korban pembacokan di Mataram meninggal dunia, ternyata siswa kelas 2 SMP

Pembahasan serupa disampaikan psikolog klinis anak dan remaja dari Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia, Vera Itabiliana Hadiwidjojo, saat mengulas tawuran remaja pada 18 Februari 2024.

Vera menjelaskan bahwa keinginan menjadi bagian dari kelompok dapat mendorong remaja mengikuti nilai yang berlaku di dalamnya, termasuk ketika kelompok menerima kekerasan. Ia juga menyoroti kurangnya pengamanan atau pencegahan di lingkungan serta terbatasnya wadah penyaluran energi remaja.

Pandangan itu memperluas perhatian dari perilaku individu menuju lingkungan yang memungkinkan kekerasan tumbuh. Pengawasan anak perlu disertai kesempatan memperoleh pertemanan, kegiatan, dan pengakuan melalui aktivitas yang sehat.

Di Mataram, Wali Kota Mohan Roliskana telah meminta orang tua meningkatkan pengawasan, terutama terhadap aktivitas anak pada malam hingga dini hari. Camat dan lurah juga diminta berkomunikasi dengan masyarakat mengenai situasi keamanan.

“Saya berharap masyarakat tetap tenang karena ini masih dalam proses penyelidikan kepolisian,” kata Mohan, Senin (26/10/2026).

Pengawasan keluarga tetap perlu berjalan bersama pengamanan ruang publik. Setiap warga berhak terlindungi dari serangan, termasuk ketika berada di jalan pada dini hari.

Pelaksana Tugas Kepala Satpol PP Kota Mataram, Lalu Martawang, menyebut pemerintah kota bersama kepolisian telah melaksanakan Kegiatan Rutin yang Ditingkatkan (KRYD). Namun, pergerakan pelaku yang berpindah lokasi menjadi tantangan.

“Ketika KRYD dilakukan rutin di sini, tapi kemudian tiba-tiba muncul di tempat lain. Ini yang akan ditelusuri oleh teman-teman kepolisian,” jelasnya.

Dari pembanding tersebut, evaluasi pencegahan di Mataram perlu menjangkau dua sisi: bagaimana anak memperoleh dukungan dalam kesehariannya dan bagaimana lingkungan merespons tanda-tanda kekerasan. Hubungan dengan orang tua, keterlibatan di sekolah, pergaulan dengan orang dewasa, hingga akses terhadap senjata tajam menjadi hal yang perlu ditelusuri.

Pengungkapan perkara tetap menjadi tanggung jawab kepolisian. Sementara itu, keluarga, sekolah, dan pemerintah daerah memiliki ruang untuk memperkuat pendampingan agar anak tidak mencari penerimaan melalui kekerasan. Kematian seorang siswa SMP di Udayana menunjukkan betapa besar akibat ketika perlindungan itu tidak berhasil mencegah terjadinya serangan. (red.)

Facebook
Twitter
WhatsApp
Email

Kontributor →

Kontributor kicknews

–

Artikel Terkait

Ultah Lombok Tengah

OPINI