Korban pembacokan di Mataram meninggal dunia, ternyata siswa kelas 2 SMP

Direktur RSUD Kota Mataram dr. NK Eka Nurhayati (jilbab kuning) saat mendampingi Wali Kota Mataram Mohan Roliskana bersama istri menjenguk korban kekerasan diduga dilakukan kelompok geng motor, sebelum dinyatakan meninggal dunia pukul 14.58 Wita, Selasa (27/10/2026), di ruang ICU RSUD Mataram.
Direktur RSUD Kota Mataram dr. NK Eka Nurhayati (jilbab kuning) saat mendampingi Wali Kota Mataram Mohan Roliskana bersama istri menjenguk korban kekerasan diduga dilakukan kelompok geng motor, sebelum dinyatakan meninggal dunia pukul 14.58 Wita, Selasa (27/10/2026), di ruang ICU RSUD Mataram.

kicknews.today – Seorang siswa kelas 2 SMP yang menjadi korban pembacokan di Jalan Udayana, Kota Mataram, meninggal dunia setelah menjalani perawatan intensif. Korban dinyatakan meninggal di ruang ICU RSUD H Moh Ruslan Kota Mataram, Selasa (27/10/2026), pukul 14.58 WITA.

Direktur Utama RSUD H Moh Ruslan Kota Mataram, dr. NK Eka Nurhayati, membenarkan kabar tersebut. Korban sebelumnya mendapat penanganan medis akibat luka serius dalam penyerangan yang terjadi pada Minggu (25/10/2026) dini hari.

“Iya, korban dinyatakan meninggal pada pukul 14.58 Wita,” kata Eka, Selasa (27/10/2026).

Korban merupakan satu dari tiga remaja yang diserang di kawasan Udayana. Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Mataram, Joko Jumadi, yang turut mendampingi keluarga sebagai tim kuasa hukum, juga mengonfirmasi meninggalnya korban.

“Satu meninggal, yang paling parah,” ungkap Joko.

Beberapa jam sebelum kabar duka tersebut, Wali Kota Mataram Mohan Roliskana bersama istrinya sempat menjenguk korban di rumah sakit. Kunjungan itu didampingi direktur rumah sakit dan tim medis yang menangani pasien.

Menurut Eka, korban telah mendapat perawatan intensif dengan bantuan ventilator serta obat-obatan untuk menjaga kondisi tubuhnya. Namun, kondisinya belum menunjukkan perkembangan yang berarti hingga akhirnya dinyatakan meninggal.

Pihak rumah sakit tidak membebankan biaya perawatan kepada keluarga atas instruksi Wali Kota Mataram. Rumah sakit juga berkoordinasi dengan Dinas Sosial untuk membantu kebutuhan pemakaman apabila diperlukan.

Baca juga: Nonton voli berujung pembacokan di Bima, satu pemuda tewas dan tiga terduga pelaku ditangkap

Sementara itu, penanganan kasus pembacokan terus berkembang. Polresta Mataram telah mengamankan 10 orang yang diduga terlibat. Sejumlah senjata tajam turut disita untuk kepentingan penyelidikan.

Kasatreskrim Polresta Mataram AKP I Made Dharma Yulia Putra mengatakan orang-orang yang diamankan masih menjalani pemeriksaan. Sebagian di antaranya berusia anak.

“Rata-rata masih SMP, ada yang berusia 14, 15, 17, dan 21 tahun,” ujar Dharma, Selasa (27/10/2026).

Polisi masih mendalami peran masing-masing orang yang diamankan. Jumlah terduga pelaku juga masih mungkin bertambah seiring pengembangan perkara.

Berdasarkan keterangan awal yang dihimpun kepolisian, ketiga korban sedang melintas menggunakan satu sepeda motor di Jalan Udayana ketika dihampiri sejumlah orang. Sepeda motor mereka kemudian terjatuh, disusul dugaan penyerangan menggunakan senjata tajam.

Selain kejadian di Udayana, polisi menangani dugaan penganiayaan di Jalan Sriwijaya pada dini hari yang sama. Dalam kejadian tersebut, seorang korban terluka dan harus mendapat perawatan medis.

Kasi Humas Polresta Mataram Iptu Edy Sutrisno sebelumnya menyampaikan bahwa penyelidikan dilakukan untuk memastikan kronologi serta mengungkap pihak-pihak yang terlibat dalam kedua peristiwa itu.

Menyikapi kekerasan tersebut, Mohan meminta kepolisian mengusut tuntas perkara dan mengungkap pelakunya. Pemkot Mataram juga telah mengumpulkan camat dan lurah untuk memperkuat komunikasi dengan masyarakat mengenai situasi keamanan.

Ia mengajak orang tua meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas anak, terutama saat berada di luar rumah hingga larut malam. Masyarakat diminta tetap tenang dan menyerahkan penanganan perkara kepada kepolisian. (red.)

Facebook
Twitter
WhatsApp
Email

Kontributor →

Kontributor kicknews

–

Artikel Terkait

Ultah Lombok Tengah

OPINI