kicknews.today – Sebanyak 20 orang dengan HIV di Kota Bima tercatat kehilangan kontak dalam pemantauan petugas kesehatan atau masuk kategori loss to follow-up. Mereka merupakan bagian dari 97 pasien yang disebut dalam catatan Dinas Kesehatan Kota Bima, sementara 77 lainnya masih menjalani pengobatan.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Bima, Ahmad, mengatakan pemantauan terhadap pasien yang mengakses layanan terus dilakukan untuk menjaga keberlanjutan penanganan.
“Untuk keseluruhan kasus di Kota Bima ini 97 kasus. Dengan jumlah yang intens berobat sampai saat ini 77 kasus,” kata Ahmad, Selasa (20/10/2026).
Belum ada penjelasan terperinci mengenai penyebab 20 pasien tersebut kehilangan kontak dengan layanan, termasuk apakah mereka berpindah fasilitas kesehatan, tidak lagi menjalani kontrol, atau mengalami kendala lain dalam mengakses pengobatan.
Dinkes juga mencatat 12 pasien HIV meninggal dunia selama periode 2024 hingga Agustus 2026. Keterangan yang disampaikan tidak merinci penyebab kematian maupun kaitannya dengan keteraturan pengobatan.
Ahmad menyebut edukasi mengenai HIV akan terus diperkuat dengan melibatkan tokoh agama, pemerintah setempat, dan unsur kewilayahan.
Persoalan menjaga pasien tetap terhubung dengan layanan kesehatan juga menjadi perhatian RSUD Bima. Dalam keterangan terpisah pada September lalu, konselor sekaligus anggota Tim Perawatan, Dukungan, dan Pengobatan HIV RSUD Bima, dr. Muhammad Akbar, menjelaskan adanya hambatan jarak, perpindahan tempat tinggal karena merantau, serta tekanan sosial yang dapat mengganggu keberlanjutan terapi.
Menurut Akbar, sebagian pasien menghadapi rasa malu dan kekhawatiran terhadap penerimaan lingkungan sehingga kesulitan mempertahankan akses layanan. Keterangan tersebut menggambarkan tantangan pelayanan di RSUD Bima, bukan penjelasan khusus mengenai 20 pasien dalam catatan Dinkes Kota Bima.
“Yang penting bukan hanya menemukan kasus, tetapi memastikan pasien tetap terhubung dengan layanan dan menjalani pengobatan secara rutin,” katanya.
Baca juga: Kasus TBC di NTB capai 5.076 selama 2025, tertinggi di Mataram
Penguatan pendampingan sebelumnya telah dibahas Pemkot Bima dalam pertemuan Forum Kemitraan Pencegahan dan Pengendalian AIDS, Tuberkulosis, dan Malaria pada 6 Oktober 2026.
Dalam forum tersebut, pemerintah menempatkan pencegahan, deteksi dini, pendampingan, serta penghapusan stigma dan diskriminasi sebagai bagian dari penanganan HIV. Kerja sama melibatkan fasilitas kesehatan, organisasi masyarakat, komunitas, dunia pendidikan, dan perangkat pemerintah.
Pemkot juga menekankan pentingnya data serta sistem pelaporan yang akurat agar penanganan dapat disesuaikan dengan kebutuhan pasien.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan akses terhadap terapi antiretroviral dan dukungan agar pasien tetap menjalani pengobatan sangat penting untuk menjaga kesehatan orang dengan HIV. Pasien yang menjalani terapi dan memiliki jumlah virus tidak terdeteksi tidak menularkan HIV kepada pasangan melalui hubungan seksual.
HIV juga tidak menular melalui interaksi sehari-hari seperti berjabat tangan, berpelukan, maupun berbagi makanan dan minuman. Pemahaman yang tepat dapat membantu menciptakan lingkungan yang mendukung pasien untuk tetap mengakses pemeriksaan dan pengobatan. (red.)


