kicknews.today – Musim kemarau panjang yang melanda Desa Kuripan Timur, Kecamatan Kuripan, Kabupaten Lombok Barat, berdampak serius terhadap sektor pertanian setempat. Selain memicu kelangkaan air bersih, ratusan hektare lahan pertanian di wilayah tersebut terancam kehilangan produktivitas akibat terbatasnya pasokan air irigasi.
Memasuki Musim Tanam Ketiga (MT III), sejumlah petani di Desa Kuripan Timur mengaku mengalami gagal panen total. Tanaman padi, jagung, hingga kacang hijau tidak mampu tumbuh secara normal akibat ketiadaan pasokan air.
Kondisi paling memprihatinkan dialami petani di Dusun Batu Banteng. Lahan pertanian yang semestinya menjadi sumber penghasilan utama warga kini berubah mengering.
Salah seorang petani setempat, Lalu Abdul Rahim, mengungkapkan bahwa kekeringan yang berlangsung sejak September 2026 membuat sebagian besar tanaman pada musim tanam ketiga mengalami kerusakan parah.
“Sejak awal tanam padi, lahannya sudah kering. Kemudian diganti kacang hijau, tidak ada yang tumbuh, bahkan daunnya pun tidak ada. Lalu diganti lagi dengan jagung. Jagung yang seharusnya tumbuh normal pada usia 20 hari, kini sudah hampir tiga bulan kondisinya masih kecil dan baru keluar bunga. Karena tidak ada air, tanaman tidak bisa tumbuh normal,” ujar Abdul Rahim, Selasa (20/10/2026).
Menurutnya, kekeringan tidak hanya disebabkan oleh minimnya curah hujan, tetapi juga akibat terhentinya pasokan air dari saluran irigasi. Program Optimalisasi Lahan (Oplah) yang sempat diandalkan pun belum mampu menyelesaikan masalah karena sumber air sungai besar yang diincar turut mengering.
Dampak kegagalan panen ini membuat para petani menanggung kerugian biaya produksi yang cukup besar, mulai dari modal pembelian benih, pupuk, pengolahan lahan, hingga biaya tanam.
Abdul Rahim memperkirakan, petani dengan luas garapan sekitar 30 are mengalami kerugian berkisar Rp3 juta hingga Rp4 juta.
Hal senada disampaikan petani lainnya, Lalu Keman. Lahan padi seluas 40 are miliknya terancam gagal panen total karena sama sekali tidak mendapatkan pasokan air sejak awal penanaman.
“Tanaman padi sudah berumur sekitar dua bulan, tetapi daun-daunnya sudah gosong di sawah. Tanaman jagung dan kacang hijau juga tidak berbuah. Total kerugian saya mencapai sekitar Rp6 juta,” ungkap Keman.
Agar tidak terbuang sia-sia, Keman terpaksa membabat sisa tanaman padinya untuk dijadikan pakan ternak sapi. Menghadapi persoalan tahunan ini, ia berharap pemerintah segera merealisasikan pembangunan sumur bor sebagai sumber air alternatif bagi pertanian warga.
Menanggapi keluhan warga, Kepala Desa Kuripan Timur, Anwar Efendi, membenarkan bahwa kemarau panjang telah berdampak luas pada sektor pertanian dan ketersediaan air bersih warga.
Anwar menjelaskan, pemerintah desa bersama BPBD dan dinas terkait terus menyalurkan bantuan air bersih setiap hari ke dusun-dusun yang terdampak.
Untuk jangka panjang, Pemprov dan Pemkab telah menerima usulan pembangunan sumur bor dari pemerintah desa. Dari delapan titik yang diusulkan untuk mengairi sekitar 155 hektare lahan pertanian di empat dusun, tiga titik telah disetujui untuk ditindaklanjuti secara teknis.
Ketiga lokasi rencana pembangunan sumur bor tersebut berada di Dusun Belungsuk, Dusun Berambang, dan Dusun Batu Banteng. Tahapan selanjutnya adalah pelaksanaan survei geolistrik untuk memastikan keberadaan potensi sumber air bawah tanah.
“Dari delapan titik yang kami usulkan, sementara ada kesanggupan untuk tiga titik. Lokasinya sudah disurvei bersama, tinggal proses geolistrik. Kami berharap lima titik sisanya juga dapat direalisasikan secara bertahap agar kebutuhan air masyarakat dan lahan pertanian warga bisa kembali produktif,” pungkas Anwar. (wii/*)


