145 hari tanpa hujan, 2 kecamatan di Kabupaten Bima masuk kategori kekeringan ekstrem

Ilustrasi kekeringan
Ilustrasi kekeringan
kicknews.today – Musim kemarau di Nusa Tenggara Barat (NTB) belum menunjukkan tanda-tanda mereda. BMKG mencatat Hari Tanpa Hujan (HTH) terpanjang mencapai 145 hari di Pos Hujan Belo dan Bolo, Kabupaten Bima. Kondisi tersebut masuk kategori kekeringan ekstrem.
Ancaman kekeringan semakin serius menyusul fenomena El Niño kategori sangat kuat yang diprediksi bertahan hingga awal 2027. Masyarakat pun diminta menghemat penggunaan air bersih dan meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran.
Berdasarkan Informasi Iklim Dasarian I Oktober 2026 yang dirilis BMKG Stasiun Klimatologi Nusa Tenggara Barat, curah hujan di sebagian besar wilayah NTB pada periode 1–10 Oktober 2026 berada pada kategori rendah, yakni 0–10 milimeter per dasarian.
Curah hujan tertinggi tercatat di wilayah Lenangguar, Kabupaten Sumbawa, sebesar 71 milimeter. Sementara itu, sifat hujan di sebagian besar wilayah NTB berada pada kategori bawah normal.
Forecaster on duty BMKG NTB, Made Budi Setyawan dan Cakra Mahasurya Atmojo Pamungkas, melaporkan bahwa kondisi HTH di NTB secara umum berada pada rentang 11–20 hari hingga lebih dari 60 hari.
Dalam peringatan dini kekeringan meteorologis, BMKG menetapkan sembilan kecamatan di Kabupaten Bima dalam kategori Awas. Wilayah tersebut meliputi Kecamatan Belo, Bolo, Lambitu, Parado, Sanggar, Sape, Soromandi, Tambora, dan Wawo.
Sementara Kecamatan Langgudu masuk kategori Waspada. Untuk wilayah Kota Bima, Kecamatan Raba juga masuk kategori Awas.
Di Kabupaten Dompu, lima kecamatan yang masuk kategori Awas yakni Dompu, Kempo, Pajo, Pekat, dan Woja.
Peringatan serupa juga berlaku di sejumlah wilayah Kabupaten Sumbawa, Lombok Utara, Lombok Timur, dan Lombok Tengah. Kondisi ini menandakan ancaman kekeringan meteorologis meluas di berbagai daerah NTB.
BMKG menjelaskan, dinamika atmosfer global turut memengaruhi kondisi musim kemarau di NTB.
Hasil pemantauan menunjukkan indeks ENSO di wilayah Nino3.4 berada pada kategori El Niño sangat kuat dengan nilai +3,07. Sementara itu, Indian Ocean Dipole (IOD) berada pada fase positif dengan indeks +0,782 dan diprediksi berpeluang bertahan hingga akhir 2026.
BMKG juga memprediksi El Niño dengan level sangat kuat akan bertahan hingga awal 2027. Selain itu, sebagian besar wilayah Indonesia diprakirakan berada dalam kondisi kering.
Untuk periode 11–20 Oktober 2026, peluang hujan di sebagian besar wilayah NTB diperkirakan kurang dari 10 persen. Peluang hujan sebesar 10–20 persen hanya terdapat di sebagian kecil wilayah Lombok Barat bagian utara.
Pada periode tersebut, BMKG tidak mengeluarkan peringatan dini curah hujan tinggi.
BMKG mengimbau masyarakat di seluruh wilayah NTB agar menggunakan air secara bijak untuk mengantisipasi potensi krisis air bersih akibat musim kemarau berkepanjangan.
Masyarakat juga diminta mewaspadai potensi kebakaran hutan, lahan, dan permukiman. Warga diingatkan tidak membakar sampah sembarangan serta tidak meninggalkan sumber api tanpa pengawasan.
Selain itu, masyarakat diharapkan terus memantau informasi resmi BMKG untuk mengantisipasi dampak bencana dan mendukung perencanaan aktivitas sehari-hari.
BMKG juga mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan serta memenuhi kebutuhan cairan tubuh selama cuaca panas dan kondisi kering berlangsung.
Dengan semakin panjangnya periode tanpa hujan dan pengaruh El Niño yang kuat, penghematan air dan peningkatan kewaspadaan menjadi langkah penting untuk mengurangi dampak kekeringan di NTB. (jr)
Facebook
Twitter
WhatsApp
Email

Kontributor →

Kontributor kicknews

–

Artikel Terkait

HUT KLU11

OPINI