NTB dikepung kekeringan, 135 hari tanpa hujan terjadi di Bima

ilustrasi kekeringan
ilustrasi kekeringan

kicknews.today — Kekeringan meteorologis di Nusa Tenggara Barat (NTB) semakin meluas. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat Hari Tanpa Hujan Berturut-turut (HTH) di sejumlah wilayah telah mencapai kategori kekeringan ekstrem, bahkan hingga 135 hari.

Berdasarkan Informasi Iklim Dasarian III September 2026 yang dirilis BMKG Stasiun Klimatologi Nusa Tenggara Barat, curah hujan di sebagian besar wilayah NTB berada pada kategori rendah, yakni hanya 0–10 milimeter per dasarian.

Forecaster BMKG Stasiun Klimatologi Nusa Tenggara Barat, Made Budi Setyawan menjelaskan, monitoring HTH menunjukkan kondisi NTB berada pada rentang menengah, 11–20 hari, hingga kekeringan ekstrem lebih dari 60 hari. HTH terpanjang tercatat di Pos Hujan Belo dan Bolo, Kabupaten Bima, mencapai 135 hari dan masuk kategori kekeringan ekstrem.

“Kondisi tersebut diperparah dinamika atmosfer global. Hasil monitoring menunjukkan indeks Indian Ocean Dipole (IOD) berada pada fase positif dengan indeks +0,935 dan berpeluang bertahan hingga akhir 2026,” jelasnya, Kamis (1/10/2026).

Sementara itu, anomali suhu muka laut di wilayah Nino3.4 menunjukkan fenomena El Niño sangat kuat dengan indeks +2,63. BMKG memprediksi kondisi El Niño sangat kuat tersebut masih bertahan hingga awal 2027.

Aliran massa udara di sebagian besar wilayah Indonesia juga didominasi angin timuran. Secara spasial, sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi berada dalam kondisi kering.

“Kondisi ini diperkirakan masih berlanjut pada awal Oktober. BMKG memprakirakan peluang curah hujan pada Dasarian I Oktober 2026 atau periode 1–10 Oktober di sebagian besar wilayah NTB sangat rendah, dengan peluang kurang dari 10 persen,” ujarnya.

Sejumlah Wilayah Masuk Level Awas

BMKG menetapkan peringatan dini kekeringan meteorologis dalam tiga tingkatan, yakni Waspada, Siaga dan Awas. Level Waspada meliputi Praya Tengah di Lombok Tengah; Montong Gading, Sikur dan Wanasaba di Lombok Timur; serta Sekongkang dan Seteluk di Sumbawa Barat.

Level Siaga mencakup Kecamatan Sanggar di Kabupaten Bima, Sambelia di Lombok Timur, Bayan di Lombok Utara serta Buer di Kabupaten Sumbawa.

Sementara wilayah yang masuk Level Awas tersebar di sejumlah kabupaten/kota. Di Kabupaten Bima, wilayah Level Awas meliputi Kecamatan Belo, Bolo, Lambitu, Langgudu, Mada Pangga, Palibelo, Sape, Soromandi, Tambora dan Wawo.

“Di Kabupaten Dompu, Level Awas mencakup Kecamatan Dompu, Kempo, Kilo, Manggelewa, Pajo, Pekat dan Woja,” imbuhnya.

Level Awas juga mencakup sejumlah wilayah di Lombok Barat, Lombok Tengah, Lombok Timur, Lombok Utara, Sumbawa Barat, Kabupaten Sumbawa serta Kota Mataram dan Kota Bima. Untuk Kota Bima, Kecamatan Raba masuk dalam wilayah dengan status Level Awas.

BMKG mengimbau masyarakat NTB menggunakan air secara bijak seiring meluasnya wilayah yang masuk Level Siaga hingga Awas akibat HTH yang semakin panjang.

Masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan, lahan maupun permukiman.

BMKG mengingatkan warga agar tidak melakukan pembakaran sampah secara sembarangan serta tidak meninggalkan sumber api tanpa pengawasan.

Dengan kondisi musim kemarau yang diperkuat fenomena El Niño, masyarakat diminta terus memantau informasi resmi BMKG untuk mengantisipasi dampak kekeringan maupun potensi bencana lainnya.

BMKG juga mengingatkan masyarakat untuk menjaga kesehatan dan memastikan kecukupan cairan tubuh selama periode cuaca kering. (jr)

Facebook
Twitter
WhatsApp
Email

Kontributor →

Kontributor kicknews

–

Artikel Terkait

HUT KLU11

OPINI