Kapan sebenarnya musim hujan mulai di NTB?

ilustrasi musim hujan
ilustrasi musim hujan

kicknews.today – Hujan yang turun sesekali belum tentu menandakan kemarau telah berakhir. Di Nusa Tenggara Barat, awal musim hujan 2026/2027 diprediksi berlangsung bertahap mulai akhir November, kemudian meluas pada pertengahan hingga akhir Desember 2026.

Artinya, NTB tidak memiliki satu tanggal yang berlaku untuk seluruh daerah. Mataram bisa memasuki musim hujan lebih dahulu, sementara sebagian wilayah Pulau Sumbawa masih menunggu beberapa pekan berikutnya.

“Kami perkirakan 93 persen itu masuk musim hujan pada Desember 2026,” kata Kepala Stasiun Klimatologi NTB Nuga Putrantijo dalam konferensi pers di Lombok Barat, Rabu (30/9/2026).

BMKG membagi NTB menjadi 27 zona musim, terdiri atas 10 zona di Pulau Lombok dan 17 zona di Pulau Sumbawa. Dua zona diperkirakan mulai memasuki musim hujan pada akhir November, 10 zona pada pertengahan Desember, dan 15 zona pada akhir Desember.

Baca juga: 93 persen wilayah di NTB diprediksi baru masuk musim hujan Desember 2026

Dalam rincian prakiraan Stasiun Klimatologi NTB, Kota Mataram masuk kelompok yang diprediksi mengawali musim hujan pada dasarian III November, yakni rentang 21–30 November 2026.

Zona yang sama mencakup sebagian Lombok Barat bagian tengah serta sebagian kecil wilayah Lombok Utara bagian selatan dan Lombok Tengah bagian tengah.

Sebagian wilayah Lombok lainnya menyusul pada dasarian II Desember atau 11–20 Desember. Sementara itu, sebagian Lombok Barat bagian selatan serta sebagian kecil Lombok Tengah bagian selatan diprediksi baru mulai pada 21–31 Desember.

Di Pulau Sumbawa, awal musim hujan juga terbagi antara pertengahan dan akhir Desember. Kota Bima dan sejumlah wilayah Kabupaten Bima serta Dompu masuk kelompok akhir Desember. Pembagian ini mengikuti zona dengan karakter hujan serupa, sehingga satu kabupaten dapat memiliki lebih dari satu waktu awal musim.

Lalu, bagaimana jika hujan sudah turun sebelum waktu tersebut?

Penentuan musim melihat jumlah hujan dan keberlanjutannya dalam beberapa pekan. BMKG menggunakan satuan dasarian, yaitu periode sekitar 10 hari, untuk menilai apakah pola hujan sudah memenuhi kriteria awal musim.

Secara umum, awal musim hujan ditandai curah hujan sedikitnya 50 milimeter dalam satu dasarian, kemudian diikuti dua dasarian berikutnya yang memenuhi kriteria musim hujan. BMKG juga memiliki ketentuan berdasarkan akumulasi tiga dasarian apabila salah satu periode berikutnya berada di bawah ambang tersebut.

Dari kriteria itu, hujan deras dalam satu sore belum cukup untuk menyimpulkan bahwa musim telah berganti. Yang perlu diperhatikan adalah apakah hujan berlanjut dan jumlahnya mencukupi dalam periode berikutnya.

Karena itu, prakiraan hujan harian dan prakiraan awal musim menjawab kebutuhan berbeda. Prakiraan harian membantu masyarakat mengetahui kemungkinan hujan dalam waktu dekat. Prakiraan musim memberi gambaran perubahan pola hujan untuk perencanaan yang lebih panjang, termasuk pertanian dan pengelolaan air.

Kemunduran musim kali ini berkaitan dengan kondisi atmosfer dan laut. Dalam penjelasan resminya pada 22 September 2026, BMKG menyebut El Niño sangat kuat dan pengaruh Indian Ocean Dipole atau IOD mengurangi curah hujan serta memperpanjang periode kering di sebagian besar Indonesia.

BMKG juga menjelaskan bahwa awal musim hujan bergerak bertahap antarwilayah. Karena itu, informasi bahwa sebagian Indonesia mulai hujan pada November tidak berarti seluruh NTB memasuki musim yang sama pada bulan tersebut.

Baca juga: Musim hujan NTB cuma 3–4 bulan, BMKG ingatkan risiko banjir

Hal lain yang perlu dibedakan adalah awal musim dan puncaknya. Prakiraan NTB menunjukkan puncak musim hujan pada Januari 2027 di dua zona, Februari di empat zona, dan Maret di 21 zona. Dengan demikian, informasi puncak hujan pada Maret tidak berarti masyarakat harus menunggu sampai Maret untuk mulai mendapatkan hujan.

Bagi petani, perbedaan beberapa pekan tersebut penting untuk menentukan waktu tanam dan kebutuhan air. BMKG merekomendasikan penyesuaian jadwal tanam, pemilihan varietas dengan siklus lebih pendek, serta penggunaan air secara hemat selama kondisi kering masih berlangsung.

Pemerintah daerah juga diminta menyiapkan dua kebutuhan sekaligus: menjaga ketersediaan air selama kemarau dan membenahi drainase serta kesiapan menghadapi banjir ketika hujan meningkat.

Prakiraan akhir November hingga Desember menjadi pegangan awal, bukan kepastian tanggal turunnya hujan di setiap desa. Untuk keputusan di tingkat lahan maupun permukiman, perkembangan hujan setempat dan pembaruan informasi BMKG tetap perlu diikuti. (red.)

Facebook
Twitter
WhatsApp
Email

Kontributor →

Kontributor kicknews

–

Artikel Terkait

Ultah Lombok Tengah

OPINI