kicknews.today – Video yang memperlihatkan kericuhan antara sejumlah siswa dan seorang warga di depan Madrasah Aliyah Nahdlatul Wathan (MA NW) Lepak, Kecamatan Sakra Timur, Kabupaten Lombok Timur, beredar luas di media sosial.
Kepolisian menyebut kericuhan tersebut dipicu kesalahpahaman setelah seorang pengendara sepeda motor terjatuh di depan sekolah. Tidak ada korban luka dalam kejadian itu dan polisi telah memediasi para pihak.

Peristiwa tersebut terjadi pada Sabtu (19/9/2026) sekitar pukul 14.00 Wita, bertepatan dengan waktu kepulangan siswa.
Kapolsek Sakra Timur Ipda Taufiq Andri Hidayat menjelaskan, pengendara bernama Nazar (40), warga Dusun Lepak, Desa Lepak, melintas menggunakan sepeda motor ketika kondisi jalan di depan sekolah sedang ramai.
Saat melintas di dekat tempat parkir kendaraan siswa yang berada di tepi jalan, Nazar terpeleset dan terjatuh. Sejumlah siswa yang melihat kejadian tersebut kemudian mendekat dengan maksud membantu.
Namun, Nazar diduga mengira dirinya terjatuh akibat sepeda motor siswa yang diparkir hingga memakan sebagian badan jalan. Kesalahpahaman tersebut kemudian memicu adu mulut hingga terjadi kericuhan.
“Ini hanya salah paham. Korban terjatuh kemudian hendak memukul para siswa, tetapi sudah diredam sehingga tidak ada korban luka,” kata Taufiq.
Kericuhan tidak berlangsung lama karena seorang anggota Bhabinkamtibmas yang sedang bertugas di sekitar lokasi segera turun tangan dan melerai para pihak.
Taufiq memastikan tidak ada korban luka dalam kejadian tersebut. Polisi kemudian mempertemukan pihak-pihak yang terlibat agar persoalan tidak berkembang menjadi konflik lebih besar.
“Kalau masalah antara korban yang terjatuh dan para siswa yang terlibat cekcok, sudah kami tengahi dan akan diselesaikan secara damai,” ujarnya.
Selain memediasi para pihak, kepolisian meminta pengelola sekolah menata kembali lokasi parkir kendaraan siswa. Penataan dinilai perlu karena sekolah berada di dekat tikungan dan kendaraan yang diparkir di tepi jalan berpotensi mengganggu pengguna jalan.
Polisi menyarankan agar kendaraan siswa dipindahkan ke lahan lain yang dinilai lebih aman. Namun, penggunaan lahan tersebut masih terkendala kesepakatan biaya antara pemilik lahan dan pihak sekolah.
“Sudah kami minta pihak sekolah merapikan parkir, tetapi belum selesai karena pemilik lahan yang akan dijadikan tempat parkir meminta biaya Rp2.000 untuk setiap sepeda motor. Sementara pihak sekolah menginginkan pembayaran Rp250 ribu per bulan,” jelas Taufiq.
Ia berharap pihak sekolah dan pemilik lahan segera menemukan kesepakatan sehingga kendaraan siswa tidak lagi diparkir di tepi jalan. Penataan tempat parkir diharapkan dapat menjaga keselamatan siswa dan pengguna jalan serta mencegah kejadian serupa terulang. (cit)






