Masuk surga jalur cinta Rasul, jejak ajaran Tuan Guru di balik Maulid orang Sasak

Suasana peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Lombok yang diisi dengan pengajian, selawat dan jamuan bersama. Foto: Istimewa
Suasana peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Lombok yang diisi dengan pengajian, selawat dan jamuan bersama. Foto: Istimewa

kicknews.today – Di Lombok, Maulid Nabi Muhammad SAW tidak hanya hidup di masjid atau pesantren. Ia masuk ke rumah-rumah, menjadi jamuan keluarga, terdengar dalam lantunan selawat, hadir dalam pengajian tuan guru, bahkan di Bayan, Lombok Utara, menyatu dengan tata adat yang diwariskan lintas generasi.

Di balik semua itu terdapat satu benang merah yang sama: kecintaan kepada Rasulullah.

Ada ungkapan sederhana yang belakangan mudah digunakan untuk menggambarkan harapan tersebut, “masuk surga jalur cinta Rasul.”

Harapan untuk kelak dikumpulkan bersama orang yang dicintai memiliki pijakan kuat dalam hadis Nabi Muhammad SAW.

Salah satu kisahnya diriwayatkan Anas bin Malik.

Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah dan bertanya kapan hari kiamat akan terjadi. Nabi tidak langsung menjawab waktunya, tetapi bertanya apa yang telah ia persiapkan.

Laki-laki itu menjawab bahwa ia tidak memiliki banyak tambahan amal berupa salat, puasa maupun sedekah, tetapi ia mencintai Allah dan Rasul-Nya.

Rasulullah kemudian berkata:

“Anta ma’a man ahbabta.”

Artinya, “Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.”

Riwayat tersebut terdapat dalam Sahih al-Bukhari. Dalam riwayat yang sama, Anas bin Malik menceritakan betapa gembiranya para sahabat mendengar perkataan Rasulullah tersebut.

Anas kemudian mengatakan dirinya mencintai Rasulullah, Abu Bakar dan Umar. Karena kecintaan itu, ia berharap dapat bersama mereka meskipun merasa amalnya tidak setara dengan amal mereka.

Hadis dengan makna “seseorang akan bersama dengan siapa yang dicintainya” juga diriwayatkan melalui sejumlah jalur dalam kitab-kitab hadis, termasuk Sahih Muslim.

Dari sinilah pembicaraan mengenai mahabbah atau kecintaan kepada Rasul memperoleh salah satu pijakannya.

Cinta kepada Rasul kemudian diekspresikan dengan mengenal kehidupannya, mengikuti ajarannya, menghidupkan sunnah dan memperbanyak selawat.

Dari Makkah kembali ke Lombok

TGH Umar Kelayu, ulama asal Kelayu, Lombok Timur, yang menjadi salah satu mata rantai penting jaringan keilmuan tuan guru Sasak. Foto: Rekonstruksi Arsip/Istimewa

Di Lombok, ajaran tersebut bertemu dengan perjalanan panjang jaringan keilmuan para tuan guru.

Pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20, hubungan ulama Sasak dengan pusat-pusat keilmuan Islam di Makkah semakin kuat.

Salah satu figur penting dalam jaringan tersebut adalah TGH Umar Kelayu, ulama asal Kelayu, Lombok Timur. Sejumlah kajian menempatkannya sebagai salah satu mata rantai penting dalam perkembangan jaringan keilmuan tuan guru Sasak.

Hubungan Lombok dengan Makkah ketika itu tidak hanya berlangsung melalui perjalanan ibadah. Sejumlah orang Sasak tinggal dan belajar bertahun-tahun di Tanah Suci sebelum kembali atau meneruskan pengajaran kepada murid-murid dari Nusantara.

Dari jaringan keilmuan tersebut muncul sejumlah nama yang kemudian dikenal berpengaruh di berbagai wilayah Lombok.

Di antaranya TGH Muhammad Rais Sekarbela, TGH Abdul Karim Praya, TGH Abdul Hamid Pejeruk, TGH Badrul Islam Pancor, serta sejumlah ulama Sasak lainnya yang meneruskan pengajaran agama di tengah masyarakat.

TGH Muhammad Rais Sekarbela, misalnya, tercatat menuntut ilmu di Makkah dan berguru kepada TGH Umar Kelayu. Sepulang dari Tanah Suci, ia membuka pengajian dan kemudian dikenal sebagai salah satu ulama penting di Sekarbela.

Dari pusat-pusat pengajian tersebut kembali lahir murid dan tokoh agama yang kemudian menyebarkan ilmu ke kampung-kampung lain.

Pada generasi berikutnya terdapat pula TGH Muhammad Saleh Hambali atau Tuan Guru Bengkel, salah satu ulama berpengaruh di Lombok Barat.

Kemudian pada abad ke-20 muncul TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid atau Maulana Syaikh, pendiri Nahdlatul Wathan, yang juga menempuh pendidikan di Makkah sebelum kembali membangun pendidikan dan dakwah di Lombok.

Perjalanan para tuan guru tersebut ikut membentuk wajah keberagamaan masyarakat Sasak.

Melalui pengajian, masjid dan pesantren, masyarakat tidak hanya mempelajari fikih dan tata cara ibadah, tetapi juga Al-Qur’an, hadis, sejarah kehidupan Rasulullah, akhlak Nabi dan selawat.

Maulid Nabi kemudian menjadi salah satu ruang tempat seluruh unsur itu bertemu.

Di sejumlah tempat, keluarga membuka rumah dan mengundang kerabat serta tetangga untuk makan bersama. Di tempat lain, masyarakat berkumpul di masjid, mendengarkan pengajian tuan guru, membaca selawat dan menikmati hidangan yang disiapkan warga.

Kemeriahan Maulid di Lombok pun tumbuh bersama perjalanan panjang transmisi keagamaan melalui tuan guru, masjid, pesantren dan rumah-rumah masyarakat Sasak.

Dari Makkah ilmu dibawa pulang. Dari rumah tuan guru ilmu diajarkan kepada murid. Dari para murid ia menyebar ke kampung-kampung.

Bersama ilmu tersebut, cerita dan kecintaan kepada Rasulullah ikut diwariskan.

Di Bayan, Maulid masuk ke ruang adat

Masyarakat saat mengikuti Maulid Adat Bayan yang digelar di kawasan Masjid Kuno Bayan Beleq. (Foto. kicknews.today/Anggi)
Masyarakat saat mengikuti Maulid Adat Bayan yang digelar di kawasan Masjid Kuno Bayan Beleq. (Foto. kicknews.today/Anggi)

Perjalanan Maulid di Lombok juga memiliki wajah khas di Bayan, Lombok Utara.

Di wilayah ini, peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW dikenal melalui Maulid Adat Bayan, sebuah tradisi yang mempertemukan unsur keagamaan dan tata adat masyarakat setempat.

Penelitian tentang Maulid Adat Bayan mendokumentasikan pelaksanaannya selama dua hari berdasarkan perhitungan adat setempat, yakni pada 14 dan 15 Rabiulawal.

Hari pertama dikenal sebagai Kayu Aiq, yang diisi dengan berbagai rangkaian persiapan.

Pada hari berikutnya berlangsung sejumlah prosesi seperti bisoq meniq atau mencuci beras, memasak makanan, doa dan makan bersama yang dipusatkan di kawasan Masjid Kuno Bayan.

Penelitian juga mencatat unsur lain dalam rangkaian perayaan, seperti praja mulud, khotbah dan pembagian peran masyarakat sesuai tata adat.

Di Bayan, kelahiran Rasulullah tidak hanya dikenang melalui ceramah atau pembacaan selawat.

Ia hadir dalam pakaian, makanan, pembagian tugas masyarakat, ruang masjid kuno dan berbagai prosesi yang diwariskan lintas generasi.

Maulid Adat Bayan menjadi salah satu bentuk khas peringatan kelahiran Nabi di Lombok, sekaligus menunjukkan bagaimana nilai agama dapat hidup berdampingan dengan tradisi masyarakat setempat.

Maulana Syaikh dan jalan selawat

Rekonstruksi visual TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid atau Maulana Syaikh, pendiri Nahdlatul Wathan dan salah satu ulama besar Lombok abad ke-20. Foto: Rekonstruksi visual dari arsip/Istimewa

Jejak kecintaan kepada Rasul juga terlihat dalam warisan TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid.

Maulana Syaikh meninggalkan berbagai karya dan tradisi keagamaan yang terus diamalkan jamaah Nahdlatul Wathan.

Di antaranya terdapat Shalawat Nahdlatain, yang dikenal sebagai salah satu karya Maulana Syaikh.

Selawat mempunyai posisi penting dalam tradisi keagamaan tersebut sebagai ungkapan cinta dan penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW.

Namun pesan Maulana Syaikh juga menekankan pentingnya menghidupkan ajaran Rasul.

Dalam Wasiat Renungan Masa, salah satu baitnya berbunyi:

“Menghidupkan Qur’an menghidupkan Sunnah.”

Pesan itu memperlihatkan hubungan antara kecintaan kepada Rasul dengan upaya menjalankan ajarannya.

Selawat menjadi ungkapan cinta, sementara sunnah menjadi jalan untuk menghidupkan teladan Nabi dalam kehidupan sehari-hari.

Dari Bayan hingga rumah-rumah orang Sasak

Jika seluruh jejak itu disatukan, terlihat bahwa Maulid di Lombok berkembang dalam banyak ruang.

Ada jalur ilmu melalui para tuan guru dan hubungan panjang Lombok-Makkah.

Ada pesantren dan pengajian.

Ada karya dan selawat ulama.

Ada pula tradisi adat seperti yang bertahan di Bayan.

Kemudian semuanya bertemu di ruang yang paling dekat dengan kehidupan masyarakat Sasak: rumah dan kampung.

Anak-anak mendengar nama Rasulullah dari orang tua mereka.

Masyarakat mendengarkan tuan guru bercerita tentang Nabi.

Selawat dibaca bersama.

Tetangga dan keluarga dipertemukan.

Makanan dimasak dan dibagikan.

Cara merayakannya dapat berbeda antara Bayan, Pancor, Sekarbela, Pejeruk, Praya atau kampung-kampung lain di Lombok. Tetapi figur yang dikenang tetap sama: Muhammad SAW.

Di situlah ungkapan “masuk surga jalur cinta Rasul” menemukan konteksnya.

Sebuah harapan untuk mencintai Rasulullah, semakin dekat dengan ajarannya, dan kelak memperoleh kebersamaan dengan sosok yang dicintai.

Harapan yang merujuk pada ucapan Nabi lebih dari 1.400 tahun lalu:

“Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.”

Mungkin di situlah salah satu lapisan terdalam kemeriahan Maulid orang Sasak.

Di balik dulang makanan, selawat, pengajian, masjid dan adat, ada satu kerinduan yang terus diwariskan:

mencintai Rasulullah semasa hidup dan berharap kelak dikumpulkan bersamanya. (red.)

Facebook
Twitter
WhatsApp
Email

Kontributor →

Kontributor kicknews

Artikel Terkait

HUT KLU11

OPINI