Kekeringan memburuk, Jerowaru naik status Awas bersama empat kecamatan di Lombok Timur

Tanaman mengering akibat minimnya curah hujan saat musim kemarau. Lima kecamatan di Lombok Timur kini berada pada status Awas kekeringan meteorologis, yakni Jerowaru, Labuhan Haji, Suela, Sukamulia dan Wanasaba. Foto: Istimewa
Tanaman mengering akibat minimnya curah hujan saat musim kemarau. Lima kecamatan di Lombok Timur kini berada pada status Awas kekeringan meteorologis, yakni Jerowaru, Labuhan Haji, Suela, Sukamulia dan Wanasaba. Foto: Istimewa

kicknews.today – Kondisi kekeringan di Kabupaten Lombok Timur terus memburuk. Kecamatan Jerowaru yang sebelumnya berada pada level Siaga kini naik menjadi Awas kekeringan meteorologis, bersama empat kecamatan lainnya, yakni Labuhan Haji, Suela, Sukamulia, dan Wanasaba.

Berdasarkan analisis kondisi iklim dasarian II Agustus 2026, BMKG mencatat lima kecamatan tersebut berada pada level tertinggi peringatan dini kekeringan meteorologis.

Perubahan paling menonjol terjadi di Jerowaru. Pada pemetaan sebelumnya awal Agustus, Jerowaru masih berada pada level Siaga, sementara Labuhan Haji, Suela, Sukamulia, dan Wanasaba sudah masuk kategori Awas. Kini Jerowaru ikut naik ke level Awas.

Situasi kekeringan semakin diperkuat oleh panjangnya hari tanpa hujan. Pos Hujan Swela atau Suela di Lombok Timur mencatat 94 hari berturut-turut tanpa hujan, atau lebih dari tiga bulan. Durasi lebih dari 60 hari masuk kategori kekeringan ekstrem berdasarkan klasifikasi hari tanpa hujan.

Forecaster on Duty BMKG Stasiun Klimatologi NTB, Made Budi Setyawan mengatakan peluang hujan di seluruh wilayah NTB pada dasarian III Agustus, periode 21-31 Agustus 2026, sangat kecil.

“Potensi hujan di seluruh wilayah NTB pada dasarian III Agustus dicatat sangat kecil dengan peluang di bawah 10 persen,” kata Made dalam keterangan yang dikutip dari informasi BMKG.

Kondisi tersebut dipengaruhi El Niño sangat kuat. Monitoring BMKG pada dasarian I Agustus menunjukkan indeks Niño 3.4 mencapai +2,77. BMKG sebelumnya juga memprediksi Agustus menjadi salah satu periode puncak musim kemarau 2026.

Dampak kekeringan sudah dirasakan masyarakat Lombok Timur. BPBD sebelumnya mencatat Jerowaru, Suela, Montong Gading, dan Pringgabaya sebagai wilayah yang menjadi fokus penanganan krisis air bersih. Di Jerowaru, kebutuhan air cukup mendesak terutama di Desa Sekaroh dan Seriwe.

Distribusi air bersih juga telah dilakukan di Desa Sekaroh. Polres Lombok Timur bersama pemerintah daerah menyalurkan air kepada masyarakat pesisir pada 15 Agustus 2026. Warga disebut masih membutuhkan pasokan air selama proses pembangunan jaringan pipa berlangsung.

BMKG mengingatkan pemerintah daerah dan masyarakat untuk mengantisipasi kelangkaan air bersih serta meningkatnya risiko kebakaran hutan, lahan dan permukiman selama periode kering.

Masyarakat diminta menggunakan air secara bijak serta menghindari pembakaran sampah atau aktivitas lain yang berpotensi memicu kebakaran.

Dengan naiknya status Jerowaru menjadi Awas dan peluang hujan yang masih sangat rendah hingga akhir Agustus, kebutuhan pasokan air bersih di wilayah selatan Lombok Timur berpotensi semakin meningkat. (red)

Facebook
Twitter
WhatsApp
Email

Kontributor →

Kontributor kicknews

Artikel Terkait

HUT KLU11

OPINI