kicknews.today – Ketika Agustus tiba, kemeriahan biasanya berkumpul di lapangan. Ada panjat pinang, tarik tambang, gerak jalan, panggung hiburan hingga aneka perlombaan menyambut Hari Kemerdekaan.
Namun ketika Rabiul Awal datang di Lombok, kemeriahan seperti berpindah ke tempat yang lebih kecil sekaligus jauh lebih luas: rumah-rumah warga.

Dapur mulai sibuk. Dulang disiapkan. Kerabat dari kampung lain berdatangan. Orang saling mesilaq atau mengundang, lalu duduk makan bersama. Di tempat lain terdengar selawat dan pembacaan Barzanji. Ada keluarga yang memilih momentum Maulid untuk ngurisan, khataman Al-Qur’an atau kegiatan keluarga lainnya.
Perayaan itu juga tidak selalu berhenti pada 12 Rabiul Awal. Dari satu dusun, kemeriahan dapat berpindah ke dusun lainnya sesuai giliran pelaksanaan.
Lalu mengapa Maulid di Lombok terasa begitu besar, bahkan di banyak tempat tampak lebih semarak dibandingkan Agustusan?
Jawabannya ternyata tidak cukup hanya dengan mengatakan masyarakat Lombok religius.
Penelitian Zaenuddin Mansyur berjudul Tradisi Maulid Nabi dalam Masyarakat Sasak yang diterbitkan jurnal Ulumuna pada 2005 menunjukkan bahwa perayaan Maulid masyarakat Sasak memiliki lapisan historis, filosofis dan sosiologis yang kuat.
Mansyur secara khusus melihat Maulid bukan semata ritual keagamaan.
“Di dalamnya juga terkandung nilai filosofis dan nilai sosiologis, seperti memperkuat silaturrahmi dan kebersamaan,” tulis Mansyur dalam penelitiannya.
Silaturahmi itu antara lain muncul melalui kebiasaan saling mengundang kerabat. Sementara kebersamaan terlihat ketika masyarakat duduk dan makan bersama dalam satu dulang atau begibung.
Dua dekade kemudian, gambaran serupa masih ditemukan.
Penelitian Dina Aulia, Lalu Sumardi, Bagdawansyah Alqadri dan Muh. Zubair dari Universitas Mataram yang diterbitkan dalam Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan pada 2023 meneliti langsung tradisi Maulid masyarakat Dusun Gubuk Barat, Desa Mamben Daya, Kecamatan Wanasaba, Lombok Timur.
“Masyarakat di Dusun Gubuk Barat Desa Mamben Daya memiliki antusias tinggi dalam perayaan maulid nabi sebagai tradisi turun temurun yang pasti dilaksanakan setiap tahunnya,” tulis para peneliti.
Penelitian etnografi tersebut menemukan perayaan berlangsung dalam dua tahap, yakni pra-acara dan acara puncak, dengan rangkaian kegiatan sejak 1 hingga 12 Rabiul Awal.
Para peneliti juga menemukan sejumlah nilai di dalamnya, mulai dari nilai keagamaan, kebersamaan, tolong-menolong, keindahan hingga budaya.
Yang menarik, Maulid di Gubuk Barat bukan perayaan yang berdiri sendirian.
Setelah perayaan di dusun tersebut selesai, dusun-dusun lain di Desa Mamben Daya menyelenggarakan Maulid pada hari berbeda sesuai gilirannya.
Di sinilah salah satu kunci mengapa Maulid di Lombok terasa panjang dan meriah.
Keramaian tidak terjadi serentak pada satu titik lalu selesai.
Ia bergerak.
Hari ini orang menjadi tamu. Beberapa hari kemudian, ketika kampungnya mendapatkan giliran, ia bisa berubah menjadi tuan rumah.
Tradisi mesilaq memperluas jaringan itu.
Dalam penelitian di Mamben Daya, undangan tidak hanya ditujukan kepada warga sekitar, tetapi juga tokoh agama, tokoh masyarakat, instansi pemerintahan hingga kelompok masyarakat dan organisasi lainnya.
Dengan demikian, Maulid bukan hanya acara yang didatangi masyarakat.
Masyarakat sendiri menjadi bagian dari mesin yang menggerakkan acara tersebut.
Rumah tangga ikut bergerak.
Ada yang memasak. Ada yang menyiapkan jajanan. Ada yang membawa makanan. Ada yang mengundang kerabat. Ada pula yang membantu kebutuhan keluarga lain.
Penelitian Universitas Mataram itu bahkan menemukan Maulid menjadi ruang silaturahmi keluarga dengan jumlah undangan yang setiap tahun dapat membeludak.
Dalam salah satu rangkaiannya, masyarakat juga duduk berkelompok ketika pembagian sanganan dan makan bersama, bahkan ketika sebelumnya tidak saling mengenal.
Para peneliti melihat kebersamaan tersebut tidak terlepas dari tingginya antusias masyarakat dalam merayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Di situlah makanan mendapatkan fungsi lebih dari sekadar hidangan.
Ia menjadi perekat hubungan sosial.
Ada pula dimensi tolong-menolong.
Penelitian di Mamben Daya mencatat beberapa tahapan dalam Maulid sejak dahulu dipertahankan sebagai ruang membantu sesama, bersedekah dan berbagi.
Salah satu ciri khasnya adalah sanganan, susunan buah dan jajanan yang dihias dan hanya muncul dalam perayaan Maulid setempat. Warga bahkan dapat mengeluarkan biaya ratusan ribu hingga lebih dari Rp1 juta untuk membuatnya, meski tidak ada kewajiban atau paksaan untuk ikut.
Antusiasme seperti itu memperlihatkan bahwa Maulid telah masuk jauh ke ruang domestik masyarakat.
Kompleksitas hubungan agama dan kebudayaan Sasak sebenarnya telah lama menjadi perhatian antropolog asing.
Antropolog Swedia Sven Cederroth, melalui penelitiannya terhadap masyarakat Sasak Lombok dalam The Spell of the Ancestors and the Power of Mekkah: A Sasak Community on Lombok, menggambarkan kehidupan masyarakat Sasak dalam ruang pertemuan antara Islam, adat, struktur sosial dan warisan lokal.
Kerangka itu membantu menjelaskan mengapa perayaan keagamaan di Lombok dapat berkembang menjadi lebih dari sekadar seremoni agama.
Dalam Maulid, agama bertemu keluarga.
Keluarga bertemu adat.
Adat bertemu makanan.
Makanan mempertemukan tamu.
Dan tamu menghubungkan satu rumah dengan rumah lainnya.
Karena itu, kemeriahan Maulid tidak tepat dibaca sebagai bukti masyarakat Lombok lebih memilih Maulid daripada Hari Kemerdekaan, apalagi sebagai ukuran tinggi-rendahnya nasionalisme.
Keduanya memiliki arsitektur sosial yang berbeda.
Agustusan sebagai peringatan kemerdekaan Republik Indonesia umumnya mengumpulkan masyarakat melalui upacara, perlombaan, panggung hiburan dan kegiatan yang dikelola panitia, sekolah, lingkungan atau pemerintah.
Maulid bekerja dengan cara berbeda.
Ia masuk hingga ke dalam rumah.
Ketika keluarga menjadi pelaku langsung sebuah perayaan, ukurannya tidak lagi ditentukan hanya oleh seberapa besar panggung dibangun atau berapa banyak orang berkumpul di satu lapangan.
Dapur pun menjadi panggung.
Keramaiannya tersebar.
Di satu rumah orang memasak. Di rumah lain tamu baru berdatangan. Di masjid orang berselawat. Di dusun sebelah warga bersiap menunggu giliran Maulid berikutnya.
Dan siklus itu dapat berlangsung berhari-hari.
Karena itulah pertanyaan kenapa Maulid di Lombok terasa lebih meriah daripada Agustusan mungkin menemukan jawabannya bukan di lapangan tempat perlombaan berlangsung.
Jawabannya justru berada di rumah-rumah orang Sasak.
Sebab Agustusan terutama mengumpulkan orang pada sebuah perayaan, sementara Maulid telah lama menghubungkan rumah dengan rumah. (*)






