Kasus DBD menurun, perubahan cuaca jadi ancaman baru di Lombok Utara

Ilustrasi.

kicknews.today – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Lombok Utara (KLU) menunjukkan tren penurunan signifikan pada tahun 2026. Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dikes) Kabupaten Lombok Utara, tercatat sebanyak 73 kasus positif DBD selama periode Januari hingga Juni 2026. Jumlah tersebut jauh lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang mencapai 134 kasus.

Pengelola Program DBD Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan KLU, Juhratih Raudhatul Jannah, menjelaskan bahwa perkembangan kasus DBD bersifat fluktuatif setiap bulan dan sangat dipengaruhi oleh kondisi cuaca yang tidak menentu.

“Kasusnya memang naik turun setiap bulan. Kondisi cuaca yang tidak konstan, kadang panas kemudian turun hujan, menciptakan genangan air yang menjadi tempat ideal bagi perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti,” ujarnya, Rabu (05/08/2026).

Dia mengatakan, kasus DBD telah ditemukan di seluruh wilayah kerja delapan puskesmas di Kabupaten Lombok Utara, meskipun jumlahnya berbeda-beda sesuai kondisi geografis dan kepadatan penduduk.

Berdasarkan data hingga Juni 2026, wilayah dengan kasus terbanyak berada di Puskesmas Pemenang dengan 15 kasus positif, disusul wilayah Gangga dan Tanjung. Meski demikian, Dinas Kesehatan memastikan seluruh pasien berhasil ditangani dengan baik dan tidak ada kasus kematian akibat DBD.

“Alhamdulillah sampai data bulan Juni tidak ada pasien yang meninggal dunia. Semua kasus dapat ditangani dengan baik,” katanya.

Ratih menjelaskan, selain faktor cuaca, kondisi lingkungan menjadi penyebab utama tingginya risiko penularan DBD. Menurutnya, penyakit ini sangat erat kaitannya dengan keberadaan tempat berkembang biaknya nyamuk di lingkungan sekitar rumah.

“Ini merupakan penyakit berbasis lingkungan. Kalau lingkungan bersih dan tidak ada tempat perindukan nyamuk, maka risiko penularannya akan jauh berkurang. Karena itu menjaga kebersihan lingkungan menjadi kunci utama pencegahan,” jelasnya.

Untuk menekan penyebaran DBD, Dinas Kesehatan terus meningkatkan kewaspadaan melalui koordinasi rutin dengan seluruh puskesmas. Pihaknya juga menginstruksikan puskesmas hingga tingkat desa untuk mengintensifkan kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) melalui gerakan 3M Plus, yakni menguras tempat penampungan air, menutup rapat wadah air, mengubur barang bekas yang berpotensi menampung air, serta berbagai upaya pencegahan lainnya.

Selain itu, edukasi kepada masyarakat terus dilakukan melalui kegiatan Posyandu, kunjungan rumah, sosialisasi langsung, hingga pemanfaatan media sosial. Sementara untuk pengendalian kasus, setiap laporan dugaan DBD akan langsung ditindaklanjuti oleh petugas puskesmas melalui Penyelidikan Epidemiologi (PE) dalam waktu maksimal 1 x 24 jam, disertai pemeriksaan lingkungan, pelaksanaan PSN, hingga pembagian larvasida (abate) apabila ditemukan potensi tempat perindukan nyamuk.

Meski secara kumulatif kasus DBD tahun ini menurun drastis dibanding tahun lalu, Dinas Kesehatan tetap mengingatkan masyarakat agar tidak lengah. Perubahan cuaca yang masih fluktuatif dinilai berpotensi memicu peningkatan populasi nyamuk sehingga kewaspadaan harus dijaga sepanjang tahun.

“Kondisi cuaca saat ini masih berubah-ubah, sehingga masyarakat harus tetap waspada. Pencegahan paling efektif tetap dimulai dari menjaga kebersihan lingkungan dan rutin melakukan gerakan 3M Plus,” tutupnya. (gii/*)

Facebook
Twitter
WhatsApp
Email

Kontributor →

Kontributor kicknews

Artikel Terkait

HUT KLU11

OPINI