kicknews.today – Budidaya kurma di Kabupaten Lombok Utara (KLU) tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan buah, tetapi juga mulai dikembangkan sebagai penghasil nira yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Bahkan, nira kurma dinilai berpotensi menjadi produk unggulan baru yang dapat dihilirisasi menjadi gula kurma, cuka kurma, hingga mendukung pengembangan agrowisata dan konservasi lingkungan.
Pelopor Kurma Ukhuwah Hadatuk Nusantara, Arif Munandar yang akrab disapa Wak Dolah, menjelaskan pengembangan kurma di KLU dilakukan dengan dua pendekatan berbeda. Untuk produksi buah, pihaknya menggunakan bibit hasil kultur jaringan agar kualitas buah seragam, unggul, dan berbuah secara bersamaan.

Menurutnya, bibit kurma yang berasal dari biji memiliki karakteristik genetik yang beragam, baik dari sisi jenis kelamin maupun kualitas buah. Karena itu, tidak semua pohon dari biji layak dikembangkan sebagai penghasil buah.
“Kalau untuk produksi buah, bibitnya harus kultur jaringan supaya kualitas buah seragam dan masa berbuahnya bersamaan. Sedangkan bibit dari biji memiliki tiga kemungkinan, yakni jantan, betina, dan campuran, dengan kualitas buah yang juga berbeda-beda,” ujarnya, Selasa (04/08/2026).
Wak Dolah mengatakan, pohon kurma dari biji yang tidak memiliki potensi menghasilkan buah berkualitas justru dimanfaatkan sebagai penghasil nira. Menurutnya, langkah tersebut menjadi solusi agar tanaman tetap memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat.
“Nah, daripada pohon itu dipelihara tanpa manfaat yang maksimal, lebih baik dideres untuk menghasilkan nira. Nantinya niranya bisa diolah menjadi gula kurma, cuka kurma, dan berbagai produk turunan lainnya,” katanya.
Dia menjelaskan, pengembangan pohon kurma penghasil nira akan difokuskan di kawasan perbukitan. Selain membuka peluang ekonomi baru, penanaman tersebut juga memiliki fungsi ekologis karena sistem perakaran pohon kurma mampu membantu menjaga kestabilan tanah dan mengurangi risiko erosi maupun banjir bandang.
Menurut Wak Dolah, konsep tersebut menghadirkan tiga manfaat sekaligus, yakni mendukung pelestarian lingkungan, menghasilkan komoditas bernilai ekonomi melalui produksi nira, serta menciptakan daya tarik wisata baru.
“Ke depan masyarakat bisa melihat langsung aktivitas penyadapan pohon kurma. Ini berbeda dengan penyadapan aren karena yang dideres adalah batang pohon kurmanya. Aktivitas seperti ini bisa dipadukan dengan jogging track maupun agrowisata,” jelasnya.
Selain pengembangan kurma penghasil nira di kawasan perbukitan, tim juga menyiapkan kawasan perkebunan kurma dalam bentuk hamparan yang dipadukan dengan konsep agrowisata sebagai destinasi edukasi dan wisata.
Wak Dolah mengungkapkan, penyadapan nira kurma telah dilakukan di Lombok Utara dan hasilnya telah dicicipi oleh sejumlah pihak, termasuk Staf Ahli Gubernur NTB.
Dia juga menilai nira kurma memiliki keunggulan dibandingkan nira dari tanaman lain. Menurutnya, nira kurma mengandung senyawa afrodisiak yang tidak ditemukan pada nira aren, kelapa, maupun lontar. Kandungan tersebut membuat nilai jual nira kurma diperkirakan lebih tinggi di pasaran.
“Dengan potensi tersebut, nira kurma diharapkan tidak hanya menjadi produk baru khas Lombok Utara, tetapi juga membuka peluang industri hilir yang mampu meningkatkan pendapatan masyarakat sekaligus memperkuat sektor pertanian dan pariwisata daerah,” tutupnya. (gii/*)




