kicknews.today – Laga sarat gengsi antara Panggi FC dan Ameera Blues pada babak perempat final Piala Wali Kota Bima Cup 2026 berakhir dramatis sekaligus kontroversial. Keputusan wasit menganulir gol Panggi FC di menit-menit akhir pertandingan memicu gelombang protes dari pemain, ofisial, suporter hingga warganet.
Pertandingan yang berlangsung di Lapangan Teratai Mako Brimob Sambinae, Rabu (3/6/2026), sejatinya hampir mengantar Panggi FC mengamankan tiket semifinal. Namun harapan itu pupus setelah wasit Andri membatalkan gol sundulan pemain Panggi FC yang tercipta melalui skema tendangan sudut pada penghujung babak kedua.

Wasit menilai telah terjadi pelanggaran berupa dorongan di dalam kotak penalti sebelum gol tercipta. Keputusan tersebut langsung memicu protes keras dari kubu Panggi FC.
Laga yang berakhir imbang 1-1 di waktu normal kemudian berlanjut ke adu penalti. Dalam drama tos-tosan itu, Panggi FC harus mengakui keunggulan Ameera Blues dan gagal melaju ke semifinal.
Kontroversi semakin meluas setelah sejumlah video momen gol yang dianulir beredar luas di media sosial. Banyak netizen mempertanyakan keputusan wasit karena dalam tayangan tersebut tidak terlihat adanya pelanggaran yang jelas.
Pada situasi sepak pojok itu, pemain kedua tim tampak berdesakan dan berebut posisi di area penalti. Saat bola melayang ke dalam kotak penalti, salah satu pemain Panggi FC berhasil menyambutnya dengan sundulan tanpa kawalan ketat. Kiper Ameera Blues pun tak mampu mengantisipasi arah bola yang meluncur ke gawang.
Namun sesaat setelah bola masuk, wasit meniup peluit dan menyatakan terjadi pelanggaran. Sejumlah pemain Panggi FC langsung menghampiri wasit untuk melayangkan protes.
“Keputusan wasit ini sangat merugikan Panggi FC. Jelas-jelas tidak ada pelanggaran yang terjadi saat gol itu tercipta,” tegas Ofisial Panggi FC, Yusnar.
Kekecewaan juga datang dari para suporter yang menilai keputusan tersebut telah mencederai semangat sportivitas turnamen.
“Jangan nodai event dengan keputusan kontroversial. Ini memalukan dan terkesan menguntungkan pihak lain. Kami berharap wasit tersebut tidak lagi ditugaskan selama turnamen ini,” ujarnya.
Senada dengan itu, Ofisial Panggi FC lainnya, Yudi, menilai Andri tidak layak memimpin pertandingan sepenting itu. Menurutnya, latar belakang Andri yang pernah membela Bima United membuat keputusan tersebut menimbulkan persepsi negatif di tengah masyarakat.
“Sama halnya dia bagian dari Ameera Blues. Saya juga seorang wasit, jadi saya paham bagaimana keputusan harus diambil dalam situasi seperti itu,” katanya.
Menanggapi polemik yang berkembang, Wasit Senior Kota Bima, Ibnu Hajar mengaku telah meminta klarifikasi langsung kepada wasit Andri usai pertandingan.
Menurut Ibnu, Andri mengaku melihat adanya kontak fisik berupa dorongan sebelum gol tercipta. Meski demikian, ia tidak menjelaskan secara rinci siapa pemain yang melakukan dorongan maupun yang menjadi korban.
“Kalau terjadi dorongan atau pelanggaran lain saat tendangan sudut, secara aturan itu tetap dianggap pelanggaran meskipun bukan dilakukan oleh pemain yang mencetak gol. Dalam pertandingan profesional di televisi juga sering terjadi kasus serupa,” jelas Ibnu.
Ia menambahkan bahwa perkembangan aturan sepak bola membuat sejumlah pelanggaran tetap dapat dihukum meski tidak secara langsung memengaruhi proses terjadinya gol.
“Masalahnya kita tidak memiliki VAR, sehingga keputusan-keputusan seperti ini sering menimbulkan perdebatan dan protes,” katanya.
Ibnu juga membantah anggapan adanya pelanggaran aturan karena Andri merupakan pemain aktif. Menurutnya, hal tersebut diperbolehkan selama tim yang diperkuat wasit bersangkutan telah tersingkir dari turnamen.
“Kasus Andri memang sengaja kami tugaskan kembali karena timnya sudah gugur. Selain itu jumlah wasit di Kota Bima juga terbatas,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa awalnya pertandingan tersebut akan dipimpin oleh wasit Deni Tio. Namun karena yang bersangkutan berhalangan, panitia akhirnya menunjuk Andri yang dinilai lebih siap.
Meski demikian, Ibnu memastikan insiden tersebut akan menjadi bahan evaluasi serius bagi panitia dan perangkat pertandingan.
“Persoalan ini akan kami bedah bersama. Jika terbukti ada kesalahan yang merugikan salah satu tim, maka sanksinya bisa berupa tidak ditugaskan lagi selama turnamen berlangsung,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Panitia Piala Wali Kota Bima Cup 2026, Syarif Rustaman, mengatakan pihaknya akan segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap insiden yang menjadi sorotan publik tersebut.
“Kami akan rapat dan melakukan evaluasi terlebih dahulu untuk perbaikan kualitas turnamen ke depan,” katanya.
Kontroversi gol yang dianulir ini kini menjadi perbincangan hangat di kalangan pecinta sepak bola Bima. Banyak pihak berharap panitia dapat memberikan penjelasan yang transparan agar kepercayaan publik terhadap jalannya turnamen tetap terjaga. (jr)




