kicknews.today – Minat masyarakat Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB), untuk bekerja sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI) masih cukup tinggi. Hingga Juli 2026, tercatat sekitar 740 warga Lombok Utara telah ditempatkan sebagai PMI di sejumlah negara tujuan.
Kepala DPMPTSP-Naker Lombok Utara, Evi Winarni mengatakan, Malaysia menjadi negara tujuan utama PMI asal Lombok Utara. Sebagian besar bekerja di sektor perkebunan, khususnya perkebunan kelapa sawit.

“Lebih kurang ada sekitar 740-an yang sudah ditempatkan sampai dengan bulan Juli. Rata-rata terbesarnya di Malaysia sebagai buruh perkebunan sawit,” kata Evi, Selasa (15/9/2026).
Menurutnya, tingginya penempatan PMI ke Malaysia salah satunya dipengaruhi kebijakan zero cost yang membuat biaya penempatan pekerja menjadi lebih ringan bagi calon PMI.
Sementara itu, penempatan PMI ke kawasan Timur Tengah hingga kini masih belum berjalan karena kebijakan moratorium. Untuk PMI perempuan, negara tujuan yang masih cukup dominan yakni Singapura dan Taiwan, meski jumlahnya tidak sebesar penempatan ke Malaysia.
Selain Malaysia, Taiwan dan Singapura menjadi negara tujuan berikutnya. Sementara Jepang juga menjadi salah satu tujuan, khususnya melalui program pemagangan. Namun, Evi menyebut jumlah penempatan ke Jepang belum besar dan pencatatannya terkadang berada di luar daerah karena proses pemberangkatan dilakukan melalui daerah lain.
“Kalau magang memang masih Jepang, tetapi tidak besar. Pemberangkatannya lebih banyak dari luar daerah sehingga terdatanya di sana,” ujarnya.
Di tengah tingginya minat masyarakat menjadi PMI, Evi menyoroti masih dominannya peminat pada pekerjaan yang bersifat domestik dan tidak membutuhkan keterampilan khusus.
Karena itu, pemerintah daerah mendorong peningkatan kompetensi calon PMI sejak dari bangku sekolah, khususnya melalui Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).
“Kita harapkan bisa skill yang tinggi. Jadi perlu mungkin nanti ada pendekatan-pendekatan khusus, terutama ke SMK,” katanya.
DPMPTSP-Naker KLU berencana menjalin kerja sama dengan sejumlah SMK sebagai tindak lanjut kerja sama antara pemerintah provinsi dan dunia pendidikan. Salah satunya dengan mendorong SMK Negeri 1 Tanjung untuk mengikuti program dari BP3MI dalam rangka mempersiapkan calon pekerja untuk program pemagangan ke luar negeri.
Program tersebut saat ini diarahkan ke Jepang, dengan peluang pengembangan ke negara lain seperti Korea Selatan.
Menurut Evi, peningkatan keterampilan menjadi penting agar warga Lombok Utara tidak hanya terserap pada pekerjaan berkeahlian rendah, tetapi memiliki kompetensi yang lebih baik sehingga peluang mendapatkan pekerjaan dan perlindungan kerja di luar negeri juga semakin terbuka.
Di sisi lain, pemerintah juga mendapatkan sejumlah paket pelatihan vokasi melalui anggaran APBN dan APBN Perubahan. Pelatihan tersebut dilaksanakan melalui Balai Latihan Kerja (BLK).
Namun, Evi mengatakan pelatihan yang tersedia saat ini masih lebih banyak diarahkan untuk program Tenaga Kerja Mandiri (TKM), terutama sektor yang mendukung pariwisata, sehingga belum secara khusus menyasar peningkatan keterampilan bagi calon PMI.
“Belum ada pelatihan yang khusus untuk upgrading skill PMI. Kita harapkan dari SMK 1 Tanjung nanti bisa upgrading skill untuk PMI dan CPMI melalui kerja sama dengan BP3MI,” tutupnya. (gii/*)






