Tarif Museum NTB naik mulai 1 Oktober, pelajar hingga Wisman kena penyesuaian

Dokumen bersejarah di Museum NTB. (foto kicknews.today/wina)

kicknews.today – Museum Negeri Nusa Tenggara Barat (NTB) mulai menerapkan tarif kunjungan baru per 1 Oktober 2026. Penyesuaian tarif dilakukan setelah harga tiket sebelumnya bertahan selama sekitar enam tahun.

Kepala Museum NTB Ahmad Nuralam mengatakan, kenaikan tarif tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas layanan sekaligus mendorong Museum NTB menjadi destinasi wisata bertaraf dunia.

Menurutnya, penyesuaian tarif juga mempertimbangkan perkembangan inflasi, kondisi perekonomian, serta pembenahan fasilitas dan tata pamer yang tengah dilakukan di Museum NTB.

“Sesuai lah, tarif itu sudah lama tidak naik. Penyesuaian dengan inflasi dan lain-lain, karena hampir semua museum se-Indonesia tarifnya sudah jauh lebih tinggi saat ini,” terang Nuralam saat dikonfirmasi, Jumat (2/10/2026).

Berdasarkan tarif baru, pengunjung dari jenjang taman kanak-kanak (TK), sekolah dasar (SD), dan sekolah menengah pertama (SMP) dikenakan tarif Rp5.000 per orang. Sebelumnya, tarif kelompok tersebut hanya Rp2.000.

Sementara pengunjung tingkat sekolah menengah atas (SMA), mahasiswa, dan masyarakat umum dikenakan Rp8.000 per orang, dari sebelumnya Rp5.000.

Sedangkan wisatawan mancanegara (WNA) kini dikenakan tarif Rp30.000 per orang, naik dari tarif sebelumnya sebesar Rp20.000.

“Dulu TK Rp2.000 jadi Rp5.000. Umum, mahasiswa, SMA Rp5.000 jadi Rp8.000. WNA Rp20.000 jadi Rp30.000,” jelas Nuralam.

Nuralam menilai kenaikan tersebut masih dalam kategori wajar karena tarif lama telah diberlakukan sekitar enam tahun. Terlebih, Museum NTB kini tengah melakukan pembenahan fasilitas serta mempersiapkan konsep tata pamer baru.

Salah satu yang disiapkan adalah ruang imersif dengan dukungan teknologi digital interaktif. Konsep tersebut memungkinkan pengunjung mendapatkan pengalaman seolah-olah masuk dan terlibat langsung dalam suasana maupun alur cerita sejarah dan budaya yang ditampilkan.

“Kenapa kami berani menerapkan kenaikan tarif? Karena kami juga menampilkan hal yang baru kepada masyarakat berupa tata pamer yang baru,” ungkapnya.

Revitalisasi ruang pamer tetap Museum NTB diperkirakan mulai dikerjakan pada akhir Oktober 2026. Selama proses revitalisasi, ruang pamer tetap akan ditutup sementara.

Sebagai gantinya, Museum NTB menyiapkan ruang pamer temporer agar aktivitas kunjungan masyarakat dan wisatawan tetap dapat berlangsung.

“Nilai inflasi sudah berubah, tingkat perekonomian harus kami sesuaikan. Perbaikan fasilitas yang kami lakukan juga seimbang dengan kenaikan nilai tiket kunjungan,” katanya.

Nuralam berharap pembaruan fasilitas dan konsep tata pamer tersebut tidak hanya meningkatkan kualitas pengalaman pengunjung, tetapi juga mampu mendongkrak jumlah kunjungan ke Museum NTB.

Kenaikan tarif tersebut diberlakukan di tengah capaian positif Museum NTB dari sisi pendapatan dan jumlah kunjungan. Hingga September 2026, pendapatan asli daerah (PAD) Museum NTB tercatat mencapai Rp108,45 juta atau 119,31 persen dari target tahunan sebesar Rp90,9 juta.

Sementara itu, jumlah pengunjung yang tercatat hingga Agustus 2026 mencapai 35.483 orang. Jumlah tersebut terdiri atas 5.619 pengunjung TK, 11.165 pengunjung SD, 3.141 pengunjung SMP, 2.213 pengunjung SMA, 717 mahasiswa, 11 peneliti, 1.925 wisatawan asing, serta 10.692 pengunjung reguler.

Dengan pembaruan fasilitas, tata pamer dan penerapan teknologi imersif, Museum NTB kini menargetkan pengalaman kunjungan yang lebih modern sekaligus memperkuat posisinya sebagai salah satu destinasi wisata sejarah dan budaya di NTB. (wii)

Facebook
Twitter
WhatsApp
Email

Kontributor →

Bq wina

–

Artikel Terkait

HUT KLU11

OPINI