kicknews.today – Nama I Ratu Agung Ayu Sekar sempat berada di antara lima orang yang dicari tim SAR setelah kebakaran KMP Putri Yasmin di Selat Lombok.
Namun di balik daftar pencarian itu, tersimpan satu cerita yang berbeda.

Perempuan 21 tahun asal Mataram tersebut ternyata tidak berada di atas KMP Putri Yasmin ketika kapal itu terbakar dalam pelayaran Padangbai menuju Lembar, Rabu (12/8/2026).
Ayu memang sempat membeli tiket KMP Putri Yasmin. Karena itulah namanya tercatat dalam manifest kapal.
Tetapi rencana perjalanannya berubah.
Kepala Kantor SAR Mataram, Muhamad Hariyadi mengatakan Ayu memilih berangkat lebih awal pada 9 Agustus 2026 menggunakan kapal lain.
“Berdasarkan informasi yang diterima Posko SAR, saudari Ayu memang sempat membeli tiket KMP Putri Yasmin, sehingga namanya tercatat di manifes. Namun, karena ada perubahan rencana, ia berangkat lebih awal pada 9 Agustus 2026 menggunakan kapal lain,” kata Hariyadi.
Informasi lain yang disampaikan SAR menyebut kapal yang digunakan Ayu untuk menyeberang lebih awal adalah KMP Surya 777.
Tiga hari setelah keberangkatannya, KMP Putri Yasmin yang semula tercatat akan ditumpangi Ayu mengalami kebakaran di Selat Lombok.
Karena namanya masih berada dalam manifest KMP Putri Yasmin, Ayu kemudian ikut tercatat dalam daftar orang yang belum ditemukan setelah insiden.
Kepastian baru diperoleh setelah pihak keluarga menghubungi Posko SAR Pelabuhan Lembar.
Keluarga melaporkan bahwa Ayu telah kembali ke rumah dalam keadaan selamat.
“Kami mendapat informasi terkait dengan konfirmasi data korban yang lima. Atas nama Ratu Agung Sekar Ayu, pihak keluarga melaporkan ke posko bahwa sudah kembali ke rumah dalam keadaan selamat,” ujar Hariyadi.
Konfirmasi tersebut membuat jumlah orang yang masih dicari tim SAR berkurang dari lima menjadi empat.
Empat orang yang masih dalam pencarian masing-masing Yasir Arafat, Selvina Rambu Mayi, I Made Sutarjana dan Slamet Yulianto.
Cerita Ayu juga membuka sisi lain dari tragedi KMP Putri Yasmin.
Sebuah perubahan jadwal perjalanan membuatnya tidak berada dalam kapal saat insiden terjadi. Namun nama yang belum diperbarui dalam manifest membuat Ayu tetap muncul dalam daftar orang yang harus dicari dan diverifikasi petugas.
Kasus ini memperlihatkan betapa pentingnya pembaruan data penumpang dalam sistem manifest kapal.
Dalam operasi SAR, data tersebut bukan sekadar daftar administratif. Manifest menjadi salah satu pijakan awal petugas untuk mengetahui siapa yang seharusnya berada di kapal dan siapa yang perlu dicari ketika keadaan darurat terjadi.
Bagi Ayu dan keluarganya, perubahan jadwal perjalanan itu berakhir dengan kabar baik.
Sementara bagi tim SAR, pencarian belum selesai.
Empat orang lainnya masih menjadi fokus operasi pencarian KMP Putri Yasmin di perairan Selat Lombok. (red.)






