kicknews.today – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mempercepat penataan dan rekonstruksi Kampung Adat Sade di Kabupaten Lombok Tengah setelah kawasan tersebut dilanda kebakaran. Pemulihan fasilitas ekonomi warga menjadi prioritas agar pusat tenun dan art shop dapat kembali beroperasi sebelum MotoGP Mandalika 2026.
Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda NTB, Lalu Moh. Faozal mengatakan, penataan kawasan tersebut diarahkan untuk memulihkan aktivitas ekonomi masyarakat sekaligus menyambut wisatawan yang datang ke Lombok saat MotoGP.

“Fokus utama kami adalah mengembalikan aktivitas ekonomi masyarakat Sade terlebih dahulu. Kami menyelesaikan masterplan sesegera mungkin secara utuh, baik fasilitas umum maupun sarana usaha warga, sehingga pusat tenun dan art shop sudah bisa beroperasi saat MotoGP,” kata Faozal, Selasa (8/9/2026).
Pemprov NTB menggandeng tim ahli dari Fakultas Teknik Universitas Mataram untuk membantu tahap prarekonstruksi dan perancangan kawasan. Pelibatan perguruan tinggi diperlukan agar pembangunan tetap memperhatikan kebutuhan teknis dan keselamatan tanpa menghilangkan karakter Kampung Adat Sade.
“Nanti prarekonstruksi dan desain akan melibatkan Universitas Mataram, seperti jurusan elektro dan beberapa jurusan lain di Fakultas Teknik,” ujarnya.
Untuk membiayai rekonstruksi, Pemprov NTB tidak menggunakan anggaran Belanja Tidak Terduga. Pemerintah memilih skema kolaborasi melalui dana tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR dan bantuan para donatur.
Bantuan tersebut dihimpun melalui rekening khusus di Bank NTB Syariah. Sejumlah lembaga dan perusahaan telah menyatakan kesediaan membiayai pembangunan fasilitas tertentu di kawasan Sade.
“Kami tidak menggunakan dana BTT. Sistemnya keroyokan melalui donasi dan CSR swasta yang tertampung dalam rekening khusus Bank NTB Syariah,” kata Faozal.
Menurutnya, Miim Foundation akan membantu pembangunan masjid, sedangkan PT Otsuka menangani pembangunan museum. Bluebird bersama donatur lain mengambil bagian dalam pembangunan sekenem, sementara Dharma Lautan Utama membantu pembangunan fasilitas toilet.
Masuknya bantuan dari berbagai pihak diperkirakan dapat mengurangi kebutuhan anggaran rekonstruksi yang sebelumnya ditaksir mencapai sekitar Rp30 miliar. Pemerintah akan menghitung kembali kebutuhan berdasarkan fasilitas yang sudah ditanggung para donatur.
“Yang sudah dibangun nanti kita hitung, jadi tidak perlu dibiayai lagi. Kita tinggal melihat bagian apa saja yang belum dibangun,” ujarnya.
Faozal memastikan bangunan dan fasilitas yang dibiayai melalui CSR maupun donasi akan diserahkan kepada pemerintah daerah sebelum dikembalikan kepada masyarakat Sade. Skema tersebut tidak mengubah kepemilikan maupun penguasaan masyarakat terhadap kawasan adat.
“Tidak ada pihak luar atau pemerintah yang memiliki Desa Sade. Kawasan ini sepenuhnya milik masyarakat Sade. Seluruh fasilitas hasil hibah CSR akan diserahkan kembali kepada warga,” tegasnya.
Selain memulihkan bangunan, pemerintah berencana meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di Kampung Adat Sade. Salah satunya melalui pelatihan dan penataan kembali pemandu wisata lokal agar mampu memberikan pelayanan kepada wisatawan setelah kawasan kembali beroperasi.
Terkait tempat tinggal sementara bagi warga terdampak kebakaran, pemerintah telah menyiapkan sekitar 40 rumah yang dibangun pada 2018. Pemprov NTB masih berkomunikasi dengan masyarakat agar rumah tersebut dapat digunakan selama proses rekonstruksi berlangsung.
“Kita sedang mencoba mendekati masyarakat supaya mau menggunakan rumah itu. Sementara, rumah di dalam kawasan Sade sedang kita pastikan segera memulai prosesbrig rekonstruksinya,” kata Faozal.
Pemerintah juga merencanakan pembangunan beberapa rumah tambahan untuk memenuhi kebutuhan warga. Namun, Faozal belum menjelaskan jumlah rumah yang akan dibangun maupun jadwal penyelesaiannya.
Dia optimistis fasilitas yang berkaitan langsung dengan pelayanan wisatawan, terutama museum, art shop dan ruang bagi para penenun, dapat dipersiapkan sebelum MotoGP Mandalika 2026. Adapun rekonstruksi Kampung Adat Sade secara keseluruhan tetap dilakukan secara bertahap berdasarkan masterplan yang sedang disusun. (wii)






