kicknews.today — Dari kejauhan, layar-layar itu tampak seperti titik-titik kecil yang bergerak di atas birunya laut. Namun bagi warga Sangiang, apa yang terlihat sederhana itu menyimpan cerita panjang tentang tradisi, kebanggaan, persaudaraan, bahkan keyakinan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Selasa (8/9/2026), ribuan pasang mata tertuju ke laut Desa Sangiang, Kecamatan Wera, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Festival Sangiang Api (FSA) 2026 resmi berakhir. Tetapi satu tradisi yang selalu menjadi magnet utama masih menyisakan cerita yakni lomba Perahu Layar Sangiang.
Dari perairan Pulau Gunung Sangiang, perahu-perahu layar dilepas menuju Pantai Desa Sangiang. Jarak sekitar 20 kilometer menjadi arena pertarungan para awak untuk menaklukkan angin dan gelombang.
Sorak-sorai pecah dari tepian pantai. Warga Bima datang berbondong-bondong. Sebagian bahkan datang dari Dompu. Wisatawan asing pun terlihat ikut menyaksikan tradisi bahari tersebut.
Di laut, tujuh perahu pada babak final berpacu mencari posisi terdepan. Di darat, ketegangan tak kalah terasa. Sebab bagi masyarakat Sangiang, lomba ini bukan sekadar pertandingan mencari siapa yang paling cepat. Ada gengsi. Ada harga diri. Ada nama besar pemilik perahu yang dipertaruhkan. Bahkan, euforianya disebut hampir menyerupai suasana pemilihan kepala desa.
Namun ada satu kalimat yang menjadi batas dari persaingan itu: “Di darat kita saudara, di laut kita musuh.” Kalimat itu menggambarkan filosofi sederhana tetapi kuat. Di tengah perlombaan, semua boleh menjadi rival. Tetapi begitu kaki kembali menginjak daratan, persaudaraan harus kembali utuh.
Bagi orang luar, sebuah perahu mungkin hanya kayu yang dirangkai menjadi alat transportasi. Tetapi bagi masyarakat Sangiang, Perahu Layar lomba memiliki kedudukan yang berbeda. Ia dirawat, dijaga, bahkan diperlakukan seperti anggota keluarga.
Pemilik Sampan Layar Sembilan Naga, Saifullah, mengatakan perahu lomba memang dibuat khusus untuk mengikuti kompetisi. Perahu tersebut tidak digunakan untuk mencari ikan atau aktivitas melaut sehari-hari.
“Perahu Layar ini tidak seperti perahu pada umumnya dan hanya dipakai lomba. Tidak bisa dipakai melaut, seperti mancing atau jala ikan,” kata Saifullah.
Sebelum pembuatan dimulai, biasanya digelar doa bersama. Ikhtiar itu dilakukan untuk memohon keselamatan dan keberkahan kepada Allah SWT. Dalam kepercayaan masyarakat Sangiang, perahu bahkan diibaratkan seperti manusia dan harus berjenis kelamin laki-laki.
Penyatuan papan pada proses awal pembuatan dimulai dari bagian perut. Bagian tersebut memiliki pemaknaan tersendiri sebagai simbol keperkasaan. Karena dianggap memiliki nilai khusus, ada pula sejumlah pantangan yang harus dipatuhi. Selama masa kompetisi, perahu tidak boleh disentuh perempuan dan harus dijaga setiap saat.
“Jadi, selama kompetisi berlangsung perahu tidak boleh disentuh perempuan, makanya dijaga setiap saat. Apalagi perempuan yang sedang haid,” jelas Saifullah.
Kepercayaan tersebut menjadi bagian dari tradisi yang terus dipertahankan masyarakat hingga sekarang.
Membuat Perahu Layar Sangiang bukan pekerjaan sehari dua hari. Dibutuhkan waktu hingga tiga bulan untuk menyelesaikannya. Biasanya, proses pembuatan dimulai tiga hingga empat bulan sebelum Festival Sangiang Api digelar.
Bentuknya dibuat ramping dan ringan agar mampu melaju mengikuti arah angin. Panjangnya sekitar 7 hingga 9 meter dengan lebar badan sekitar 54 sentimeter. Tinggi badan perahu sekitar 65 sentimeter, sedangkan tiangnya menjulang hingga sekitar 7 meter.
Untuk satu perahu, biaya pembuatannya bisa menembus lebih dari Rp30 juta. Kayu menjadi salah satu komponen paling penting. Bahannya harus ringan, tetapi tetap kuat dan tahan lama. Sebagian kayu bahkan didatangkan dari luar daerah.
Sementara cadik menggunakan bambu berukuran besar yang hanya bisa diperoleh dari lokasi tertentu. Layar dibuat dari terpal dan dua batang bambu yang dibentuk menyerupai segitiga. Berdasarkan ketentuan panitia, bentangan layar sekitar 10 meter x 10 meter.
Semua itu dikerjakan bukan semata untuk membuat perahu bisa mengapung. Ada satu tujuan lain: membuatnya mampu menjadi yang tercepat di laut Sangiang.
Setelah perahu selesai dibuat, perjalanan belum benar-benar dimulai. Ada ritual yang menjadi bagian dari tradisi masyarakat.
Dua biji kemiri digunakan dan diyakini mewakili unsur laki-laki dan perempuan. Kemudian satu buah asam dengan tiga biji dihaluskan. Bahan tersebut kemudian dioleskan pada sejumlah bagian perahu oleh seorang pelepas yang dipercaya memiliki peran khusus dalam tradisi tersebut.
Bagi masyarakat setempat, ritual itu memiliki makna spiritual dan dikaitkan dengan dua kalimat yang sangat familiar bagi umat Islam, yakni Audzubillahiminasyaitonirojim dan Bismillahirohmanirohim.
Ritual dimaknai sebagai ikhtiar memohon perlindungan dari gangguan setan, jin maupun perbuatan jahat manusia.
Tokoh agama Desa Sangiang, H Yasin atau yang akrab disapa Abu Lenggo, mengatakan ritual tersebut pada hakikatnya merupakan bagian dari doa dan ikhtiar.
“Kita perlu berdoa untuk meminta keberkahan dan keselamatan. Soal menang dan kalah itu ketentuan Sang Maha Kuasa,” katanya.
Abu Lenggo sendiri dikenal sebagai salah satu pelepas Perahu Layar dalam tradisi tersebut. Di sinilah tradisi dan spiritualitas bertemu. Perahu dipersiapkan dengan segala kemampuan manusia, tetapi hasil akhirnya tetap diserahkan kepada Tuhan.
Ada satu hal yang tidak bisa dikendalikan manusia dalam lomba ini: angin. Perahu secanggih apa pun tidak akan bergerak cepat tanpa hembusan angin yang tepat. Karena itu, masyarakat Sangiang memiliki tradisi yang disebut sebagai ritual memanggil angin.
Tradisi tersebut dilakukan melalui doa, disertai aksi melempar periuk ke udara. Periuk bukan sekadar benda dalam ritual. Bagi masyarakat Sangiang, ia dimaknai sebagai simbol sumber kehidupan.
Saifullah mengatakan tradisi tersebut memiliki kaitan dengan sejarah kehidupan masyarakat Sangiang pada masa lalu.
“Ritual ini sudah dilakukan turun-temurun. Sejarahnya, orang-orang Sangiang pada zaman dulu biasanya membawa hasil alam ke luar daerah menggunakan kapal layar. Ketika di tengah laut angin mati, tentu barang muatan akan busuk. Makanya diadakan doa meminta angin,” jelasnya.
Tradisi itu menunjukkan betapa erat hubungan masyarakat Sangiang dengan laut. Laut bukan hanya ruang untuk mencari penghidupan. Laut adalah bagian dari sejarah, ruang hidup sekaligus tempat tradisi diwariskan.
Ketika hari perlombaan tiba, setiap perahu ditumpangi enam awak terlatih. Satu orang bertugas sebagai komando untuk mengendalikan perahu. Mereka harus membaca arah angin, mengatur layar dan menjaga keseimbangan perahu di tengah gelombang. Kesalahan sedikit saja dapat memengaruhi posisi. Karena lintasan mencapai sekitar 20 kilometer, kondisi angin menjadi faktor yang sangat menentukan.
Musim angin tenggara menjadi waktu yang dianggap paling tepat. Angin tersebut biasanya muncul sekitar akhir Juli hingga awal Agustus. Perahu pun harus dibawa lebih awal menuju titik start di Pulau Gunung Sangiang.
Saat perlombaan dimulai, semua perhatian tertuju ke layar. Tidak ada lagi pejabat, pengusaha atau tokoh masyarakat. Yang ada hanyalah perahu, awak dan angin.
Menariknya, pemilik perahu bukan hanya berasal dari kalangan nelayan. Ada pengusaha, pejabat hingga anggota dewan yang ikut memiliki perahu. Itulah sebabnya, setiap perlombaan memiliki gengsi tersendiri.
Nama sebuah perahu bukan sekadar nama. Di belakangnya ada pemilik, awak, keluarga dan kelompok masyarakat yang memberikan dukungan.
Ketika sebuah perahu melaju paling depan, sorak kemenangan menggema di pantai. Sebaliknya, ketika perahu jagoan mereka tertinggal, ketegangan ikut menjalar ke daratan. Namun sekali lagi, persaingan memiliki batas. Setelah perlombaan berakhir, rivalitas ditinggalkan di laut. Di darat, mereka kembali bersaudara.
Kecintaan warga terhadap perahu tidak berhenti ketika perlombaan selesai. Perahu tetap dirawat. Bahkan ada pemilik yang menganggapnya seperti anak sendiri.
“Perahu ini saya anggap seperti anak sendiri. Selesai kompetisi, perahu ini tetap kami jaga dan rawat setiap saat,” ujar pria yang akrab disapa Ayang tersebut.
Dukungan masyarakat pun datang dengan cara yang sederhana tetapi bermakna. Ada yang datang sekadar menonton. Ada yang membawa makanan. Ada pula yang memberikan uang kepada pemilik dan awak perahu.
“Mereka bukan cuma datang nonton, bahkan ada juga yang bawa makanan hingga uang untuk para pemilik perahu,” ujarnya.
Di balik kemeriahan lomba, terlihat wajah gotong royong masyarakat. Ada yang membantu membuat perahu, menjaga perahu, menyiapkan kebutuhan awak hingga memberikan dukungan saat perlombaan berlangsung. Semua merasa menjadi bagian dari perjalanan sebuah perahu.
Potensi besar tradisi tersebut mulai dilirik Pemerintah Kabupaten Bima. Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Bima, M Akbar Musa SP MSi, mengatakan kondisi angin saat final sangat mendukung jalannya perlombaan. Pada laga final, tujuh sampan layar bertanding dengan dukungan angin yang cukup kuat.
“Pada laga final ada tujuh sampan layar. Anginnya sangat bagus. Bakal seru. Ini membuat pertandingan lebih menarik dibanding tanpa angin,” katanya.
Menurut Akbar, Festival Sangiang Api memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi event yang lebih besar.
Peserta lomba tidak harus berasal dari Wera atau Sangiang. Ke depan, turnamen dapat diperluas dengan melibatkan wilayah lain yang memiliki tradisi perahu layar, seperti Sape, Lambu hingga Sanggar.
“Antusias masyarakat sangat luar biasa menerima perahu layar yang dilepas dari Sangiang menuju daratan,” ujarnya.
Pemerintah Kabupaten Bima juga berharap Festival Sangiang Api dapat masuk dalam Kharisma Event Nusantara (KEN) sehingga tradisi tersebut memiliki panggung yang lebih luas di tingkat nasional.
Ketika matahari mulai condong dan perlombaan berakhir, layar-layar itu perlahan menghilang dari pandangan. Tetapi cerita tentang Perahu Layar Sangiang tidak ikut berakhir. Ia tetap hidup dalam ingatan masyarakat.
Di sana ada olahraga. Ada hiburan. Ada gengsi. Ada persaudaraan. Ada sejarah pelayaran. Ada gotong royong. Dan ada spiritualitas yang menyertai hampir setiap tahap perjalanan.
Perahu-perahu itu mungkin hanya berukuran beberapa meter. Namun di atasnya tersimpan warisan yang jauh lebih besar.
Warisan tentang bagaimana masyarakat Sangiang memandang laut, menghormati alam, menjaga tradisi dan mempertemukan keyakinan dengan kehidupan sehari-hari.
Di tengah arus modernisasi, Perahu Layar Sangiang tetap berlayar. Bukan hanya mengejar garis finis. Tetapi membawa identitas sebuah masyarakat dari masa lalu menuju masa depan. Sebab bagi warga Sangiang, ketika layar dikembangkan dan angin mulai berembus, yang bergerak bukan hanya sebuah perahu. Yang bergerak adalah tradisi. Yang dipertaruhkan adalah kebanggaan. Dan yang dijaga adalah warisan. (jr)






