Putri Mandalika dan tafsir sosial tentang kawasan cantik jelita yang dipinang banyak “investor” (pangeran)

Patung Putri Mandalika di Pantai Seger Kuta Mandalika
Patung Putri Mandalika di Pantai Seger Kuta Mandalika

kicknews.today – Mandalika ialah kawasan cantik jelita di pantai selatan Lombok. Hamparan laut, pantai, dan perbukitannya mengundang orang datang, mengagumi, kemudian membayangkan masa depan di atas tanahnya.

Kini, kecantikan itu bersanding dengan deru mesin balap kelas dunia. Pertamina Mandalika International Circuit, yang diresmikan Presiden Joko Widodo pada 12 November 2021, menjadi panggung perhelatan MotoGP dan membawa nama Mandalika menjangkau penonton internasional.

Di tengah perubahan tersebut, legenda Putri Mandalika menawarkan pertanyaan yang tetap relevan: untuk siapa kecantikan dan kekayaan kawasan ini diperuntukkan?

Pemerhati kebudayaan NTB, Paox Iben Mudhaffar, membuka tulisannya berjudul “Putri Mandalika” dengan gambaran tentang Lombok yang sejak lama mengundang perhatian.

“Sedari dulu kala, Lombok selalu jadi primadona dan rebutan bangsa-bangsa. Lombok Mirah Sasak Adi,” tulisnya.

Paox menggambarkan tanah Sasak seperti permata besar yang menyala. Ia kemudian menuturkan kisah seorang putri yang kecantikannya menarik para raja dan pangeran dari berbagai negeri. Mereka datang membawa keinginan meminang, sekaligus harapan memperoleh kedudukan dan kekuasaan.

Kisah tersebut membuka jalan bagi tafsir sosial mengenai Mandalika hari ini. Sang putri dapat dibaca sebagai kawasan yang cantik jelita, sementara para pangeran menjadi perumpamaan investor dari berbagai wilayah dan negara yang tertarik menanamkan modal serta mengembangkan usaha di dalamnya.

Ini merupakan pengembangan pembacaan atas tulisan Paox. Para pangeran dalam legenda menjadi cermin untuk menimbang hubungan antara investasi, kekuasaan, dan kepentingan masyarakat.

Kedatangan investor tentu membawa peluang. Modal dapat membangun fasilitas, membuka lapangan kerja, dan memperluas kegiatan ekonomi. Namun, sebagaimana sebuah pinangan, setiap tawaran perlu dilihat lebih jauh: apa yang dijanjikan, apa yang diminta, dan bagaimana kehidupan sang putri setelah pinangan diterima?

Di Mandalika, pertanyaan itu menyangkut kehidupan masyarakat yang telah lama berdiam di sana. Ada nelayan, petani, pedagang, perajin, pekerja, dan keluarga yang masa depannya ikut ditentukan oleh arah pembangunan kawasan.

Mereka memiliki hak untuk didengar, memperoleh kesempatan, dan menikmati hasil perubahan.

Dalam penuturan Paox, perebutan Mandalika justru membuat sang putri merasa terasing. Para pelamar sibuk dengan keinginannya sendiri, sementara kegelisahan perempuan yang diperebutkan itu semakin dalam.

Paox juga mengajukan pertanyaan yang melampaui kisah percintaan.

“Bukankah setiap orang lahir telanjang dan hanya bermodal tangis? Dan bumi ini tergelar untuk semua makhluk?” tulisnya.

Dari pertanyaan tersebut, pesan ekonomi kerakyatan dapat ditarik. Tanah yang memberi kehidupan semestinya dikelola agar manfaatnya menjangkau banyak orang.

Pada akhir legenda, Mandalika tidak menjadi milik salah satu pangeran. Kisah penjelmaannya sebagai nyale, yang hadir dalam perayaan bersama, dapat dimaknai sebagai pilihan untuk memberikan manfaat kepada seluruh masyarakat.

Di sinilah letak pesan sosial yang penting: kecantikan Mandalika tidak berakhir sebagai hak istimewa seorang pemenang.

Jika pesan itu dibawa ke dalam pengelolaan kawasan, pemerintah berkewajiban memastikan masyarakat memperoleh bagian yang nyata. Keberhasilan pembangunan perlu terlihat pada pendapatan keluarga, kesempatan usaha, pekerjaan yang layak, serta terjaganya ruang hidup warga.

Ekonomi kerakyatan dapat diwujudkan melalui tempat berdagang yang terjangkau bagi UMKM, kemitraan hotel dan restoran dengan petani serta nelayan setempat, pelatihan yang terhubung dengan perekrutan tenaga kerja lokal, dan kesempatan bagi usaha warga masuk ke rantai pasok kegiatan internasional.

Perlindungan hak atas tanah, penyelesaian keluhan secara terbuka, serta akses masyarakat terhadap ruang publik juga menjadi ukuran keberpihakan tersebut.

Dengan begitu, warga memiliki kedudukan sebagai pelaku ekonomi yang ikut tumbuh bersama Mandalika. Kemegahan kawasan dan kesejahteraan kampung-kampung di sekitarnya seharusnya bergerak dalam arah yang sama.

Ada pula pesan tentang batas kekuasaan manusia dalam akhir kisah sang putri: laut tetap menjadi bagian dari kehidupan Mandalika.

Paox menuturkan kepergian Mandalika menuju pantai selatan, tetapi membiarkan nasibnya terbuka. Ia mempertanyakan apakah sang putri terjun ke laut atau pergi bersembunyi. Ketidakpastian itu memberi ruang perenungan tentang hubungan manusia dengan alam.

Gambaran Mandalika “kembali ke lautan” dapat digunakan sebagai metafora untuk mengingatkan bahwa pembangunan pesisir harus memperhitungkan bahaya alam. Legenda bukan bukti maupun ramalan tsunami.

Dalam konteks kesiapsiagaan, BMKG telah memasukkan Kuta-Mandalika dalam upaya pengembangan komunitas Tsunami Ready. BMKG juga menegaskan bahwa informasi potensi gempa megathrust tidak berarti prediksi waktu kejadian.

Karena itu, keberpihakan kepada rakyat juga harus hadir dalam perlindungan keselamatan: tata ruang berbasis risiko, bangunan yang memenuhi standar, jalur dan tempat evakuasi yang dapat dijangkau, serta latihan yang melibatkan warga, pekerja, dan wisatawan.

Keselamatan masyarakat merupakan bagian dari tanggung jawab mengelola kawasan. Ia perlu tumbuh bersama investasi, sejak perencanaan hingga kegiatan sehari-hari.

Para pangeran boleh datang membawa pinangan. Pemerintah perlu memastikan setiap pinangan memberi masa depan yang lebih baik bagi masyarakat, sekaligus menghormati alam yang menopang kehidupan mereka.

Sebab, pesan yang dapat dipetik dari legenda itu jelas: Mandalika tidak memilih satu pangeran. Kecantikannya menemukan makna ketika manfaatnya dapat dinikmati bersama. (red.)

Facebook
Twitter
WhatsApp
Email

Kontributor →

Kontributor kicknews

–

Artikel Terkait

HUT KLU11

OPINI