Krisis air belum selesai, asosiasi hotel undang Putri Mahkota Victoria singgah ke Gili Trawangan

Ketua Gili Hotels Association, Lalu Kusnawan mengunggah undangan terbuka kepada Putri Mahkota Victoria dari Swedia untuk melihat krisis air bersih di Gili Trawangan, Sabtu (5/9/2026). (Foto: Tangkapan layar Facebook Lalu Kusnawan)
Ketua Gili Hotels Association, Lalu Kusnawan mengunggah undangan terbuka kepada Putri Mahkota Victoria dari Swedia untuk melihat krisis air bersih di Gili Trawangan, Sabtu (5/9/2026). (Foto: Tangkapan layar Facebook Lalu Kusnawan)

kicknews.today – Ketua Gili Hotels Association sekaligus pengurus Indonesian Hotel General Manager Association (IHGMA) NTB, Lalu Kusnawan menyampaikan undangan terbuka kepada Putri Mahkota Victoria dari Swedia untuk singgah ke Gili Trawangan, Kabupaten Lombok Utara.

Undangan tersebut disampaikan melalui akun media sosial pribadinya, Sabtu (5/9/2026), di tengah krisis air bersih yang berdampak terhadap masyarakat, pelaku usaha dan wisatawan di Gili Trawangan.

Dalam unggahannya, Kusnawan menampilkan poster bertajuk “Undangan Kehormatan kepada Putri Mahkota Victoria dari Swedia”. Undangan itu sekaligus menjadi kritik terhadap kondisi salah satu destinasi wisata unggulan NTB yang sedang mengalami gangguan layanan air bersih.

“Kami mengundang Yang Mulia untuk singgah ke Gili Trawangan dan melihat langsung bagaimana destinasi unggulan NTB berbicara tentang pariwisata berkelanjutan ketika kebutuhan paling mendasar—air bersih—belum dapat dipenuhi,” tulis Kusnawan dalam poster tersebut.

Unggahan itu ditujukan kepada Putri Mahkota Victoria yang dijadwalkan berada di NTB pada 5–6 September 2026 dalam kapasitasnya sebagai Goodwill Ambassador United Nations Development Programme (UNDP) untuk Pembangunan Berkelanjutan.

Putri Mahkota Victoria dijadwalkan menjalani sejumlah agenda di Kota Mataram dan Kabupaten Lombok Utara. Salah satu lokasi kunjungannya adalah Gili Meno yang berada tidak jauh dari Gili Trawangan.

Dalam narasi yang menyertai unggahan tersebut, Kusnawan menjelaskan bahwa undangan itu bukan semata-mata untuk memperlihatkan keindahan pantai Gili Trawangan. Ia berharap kondisi layanan dasar di kawasan pariwisata juga menjadi bagian dari perhatian dalam pembicaraan mengenai pembangunan berkelanjutan.

“Bukan sekadar untuk menikmati pantainya, tetapi untuk melihat langsung bagaimana salah satu destinasi utama NTB berbicara tentang pariwisata berkelanjutan ketika kebutuhan paling mendasar, yaitu air bersih, belum dapat dipenuhi,” tulisnya.

Kusnawan menyebut matinya aliran air telah menyulitkan hotel dalam melayani wisatawan. Sejumlah pelaku usaha terpaksa mencari sumber air alternatif, termasuk mendatangkan air dari daratan Lombok.

Sebagian wisatawan juga dilaporkan menyampaikan keluhan dan memilih meninggalkan penginapan lebih awal. Berdasarkan pendataan asosiasi hotel, sekitar 300 tamu terdeteksi melakukan early check-out sejak layanan air mengalami gangguan.

Menurut Kusnawan, dampak krisis tersebut tidak hanya berupa pembatalan kamar dan hilangnya transaksi. Gangguan kebutuhan dasar yang terjadi berulang kali berpotensi memengaruhi citra Gili Trawangan dan kepercayaan wisatawan terhadap pariwisata NTB.

“Pariwisata bukan hanya soal promosi, kunjungan dan pemandangan yang indah. Pariwisata adalah soal hospitality, yaitu kemampuan sebuah destinasi memberikan rasa nyaman, aman dan pelayanan yang layak kepada setiap tamu,” tulisnya.

Ia mempertanyakan bagaimana wisatawan dapat bertahan, kembali berkunjung dan mempercayai Gili Trawangan sebagai destinasi berkelanjutan apabila kebutuhan air bersih belum memiliki kepastian.

“Kehadiran Yang Mulia di Gili Trawangan akan membantu dunia melihat bahwa pembangunan berkelanjutan tidak cukup dibicarakan dalam forum dan seremoni. Komitmen itu harus dapat dirasakan masyarakat, pekerja pariwisata, pelaku usaha dan wisatawan melalui layanan paling dasar,” lanjutnya.

Kusnawan menegaskan, air bersih bukan fasilitas tambahan dalam industri pariwisata, melainkan kebutuhan hidup dan fondasi pelayanan sebuah destinasi.

Gangguan air di Gili Trawangan terjadi dalam proses penyesuaian operasional sistem Seawater Reverse Osmosis (SWRO). Perumda Air Minum Amerta Dayan Gunung menyatakan proses penanganan dilakukan bersama Pemerintah Kabupaten Lombok Utara, PT TCN dan sejumlah instansi terkait.

Penanganan tersebut mencakup aspek teknis, perizinan dan pengendalian lingkungan karena kawasan Tiga Gili berada dalam wilayah konservasi. Namun, belum ada kepastian kapan layanan air bersih kembali normal.

Sebagai langkah darurat, pemerintah daerah bersama Perumda Air Minum menyiapkan suplai air dengan prioritas untuk masyarakat, fasilitas publik, fasilitas kesehatan dan kebutuhan sanitasi dasar.

Pemerintah Kabupaten Lombok Utara juga memutuskan menggunakan Belanja Tidak Terduga untuk membantu penyediaan air dan memperpanjang diskresi pengelolaan layanan air di kawasan Gili sekitar tiga bulan sambil menunggu arahan pemerintah pusat.

Melalui unggahan tersebut, Kusnawan berharap kehadiran Putri Mahkota Victoria dapat menjadi momentum untuk melihat pembangunan berkelanjutan dari persoalan yang dihadapi langsung oleh masyarakat dan industri pariwisata.

“Kami tetap percaya persoalan ini dapat diselesaikan apabila seluruh pihak memiliki kemauan dan arah yang sama. Air bersih bukan fasilitas tambahan. Air adalah kebutuhan hidup dan fondasi utama sebuah destinasi,” tutupnya. (red.)

Facebook
Twitter
WhatsApp
Email

Kontributor →

Kontributor kicknews

Artikel Terkait

HUT KLU11

OPINI