kicknews.today – Belanjakan dan kuliner atau jajanan khas bernama Temerodok, kue kering tradisional khas Suku Sasak yang berasal dari Sakra, Lombok Timur. Kedua budaya tersebut masuk dalam Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia 2026.
Dengan ditetapkannya dua budaya tersebut. Pemerintah Daerah Lombok Timur masih menunggu sertifikat nasional.

“Dengan ditetapkannya menjadi warisan budaya Indonesia harapan kita pemerintah baik daerah maupun pusat akan memperhatikan pelestarian dan pengembangan serta pemanfaatan kedepan, karena belum ada anggaran khusus untuk pelestarian WBTB tahun 2026 ini. Mudahan tahun depan kita diberikan,” kata Kabid Kebudayaan, Abdul Hayyi pada Kamis (10/9/2026).
Untuk melestarikan kedua budaya tersebut langkah konkrit yang bisa dilakukan pemerintah dalam seni belanjakan ini supaya menjadi agenda even tahunan berupa festival belanjakan, pihaknya berharap bisa dianggarkan biaya penyelenggaraannya setiap tahun.
“Bahkan jika bisa menjadi even nasional, nah keterkaitannya dengan muatan lokal disekolah maka tentu ini juga menjadi harapan kita, tapi tentunya dipersiapkan dulu kurikulum dan sistem pembelajarannya. Tehnik beladiri Belanjakan masih perlu disusun oleh maestro-maestro sehingga gampang dan mudah di pelajari oleh siswa, ini masih dalam proses,” tambahnya.
Tidak hanya berpacu di dua kebudayaan tersebut, pihaknya juga masih mengusulkan penetapan tahun 2026 masih ada, yaitu Toping Amaq Abir yang ada di Kecamatan Sakra Barat.
“Yang InsyaAllah proses kajiannya oleh Tim mulai besok hari kamis tanggal 10 September 2026 dan Tenun Sapit yang masih tertunda penetapannya. Saat ini masih terus kami lengkapi kekurangannya supaya bisa segera direkomendasi penetapannya oleh pusat. Tahun 2027 kami berharap ada anggaran yang lebih banyak supaya lebih banyak pula WBTB yang kita usul penetapannya,” katanya.
Mengingat pihaknya juga mengalami keterbatasan sarana dokumentasi yang memadai untuk mendokumentasikan budaya-budaya yang diusulkan.
“Jujur kami masih banyak kekurangan di sarana pendokumentasiannya, kami tidak punya camera photo dan video, recorder, computer kualitas grafik tinggi dan alat lainnya dalam rangka dokumentasi dan digitalisasi Warisan Budaya Tak Benda,” pungkasnya. (cit)






