kicknews.today – PT Amman Mineral Internasional Tbk mencatat kinerja positif pada kuartal pertama 2026. Perusahaan membukukan laba bersih sebesar US$163 juta, berbalik dari rugi bersih US$138 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Kinerja tersebut menjadi sinyal pemulihan kuat bagi AMMAN setelah pada awal 2025 perusahaan masih menghadapi tekanan operasional dan pembatasan penjualan konsentrat. Pada kuartal pertama tahun ini, penjualan bersih AMMAN mencapai US$808 juta.

EBITDA perusahaan juga meningkat tajam menjadi US$508 juta dengan margin EBITDA sebesar 63 persen. Sementara margin laba bersih tercatat sebesar 20 persen.
Direktur Utama AMMAN, Arief Sidarto mengatakan, perusahaan mengawali 2026 dengan eksekusi yang kuat dan kinerja operasional yang solid di seluruh lini bisnis.
“Kami mengawali tahun 2026 dengan eksekusi yang kuat dan kinerja operasional yang solid di seluruh lini bisnis,” kata Arief dalam siaran pers AMMAN, Rabu, 30 April 2026.
Dari sisi pertambangan, produksi konsentrat AMMAN pada kuartal pertama 2026 mencapai 167.792 metrik ton kering. Konsentrat tersebut mengandung sekitar 101 juta pon tembaga dan 136.115 ons emas.
Angka ini melonjak dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Produksi konsentrat naik 110 persen secara tahunan dari 79.741 metrik ton kering pada Q1 2025. Produksi tembaga dalam konsentrat juga naik 173 persen, sedangkan produksi emas dalam konsentrat meningkat 321 persen.
Peningkatan produksi itu dipengaruhi oleh naiknya jumlah bijih segar yang ditambang serta perbaikan kadar bijih. Volume bijih segar yang ditambang meningkat dari 1 juta ton pada Q1 2025 menjadi 38 juta ton pada Q1 2026.
Kadar tembaga yang diolah juga naik dari 0,31 persen menjadi 0,53 persen. Sementara kadar emas meningkat dari 0,17 gram per ton menjadi 0,54 gram per ton.
Selain produksi konsentrat, AMMAN juga mulai membukukan kontribusi dari fasilitas peleburan dan pemurnian. Produksi katoda tembaga mencapai 27.670 ton, sementara produksi emas murni tercatat sebesar 66.209 ons.
Pada kuartal pertama 2026, penjualan bersih AMMAN terdiri dari US$391 juta dari katoda tembaga, US$82 juta dari emas murni, dan US$334 juta dari penjualan konsentrat.
Perusahaan sebelumnya memperoleh izin ekspor konsentrat sementara pada 31 Oktober 2025 dengan kuota sebesar 480.000 metrik ton kering. Izin tersebut berlaku selama enam bulan hingga 30 April 2026.
Selama Q1 2026, AMMAN menjual 30.013 metrik ton kering konsentrat, yang mengandung sekitar 19 juta pon tembaga dan 30.505 ons emas.
AMMAN menyatakan tidak memperkirakan akan memanfaatkan kuota ekspor tersebut secara penuh. Sebagian konsentrat dialokasikan untuk mendukung peningkatan kapasitas produksi smelter.
Arief menjelaskan, kinerja keuangan Q1 2026 mencerminkan perubahan signifikan secara tahunan. Hal itu didukung oleh kemampuan mengekspor konsentrat, volume penjualan yang lebih tinggi, harga logam yang lebih baik, serta kinerja operasional yang lebih kuat.
“Peningkatan-peningkatan tersebut juga mencerminkan pemulihan yang signifikan pada profitabilitas AMMAN selama kuartal tersebut dibandingkan periode yang sama tahun lalu,” ujarnya.
Meski demikian, AMMAN tetap mencermati ketidakpastian geopolitik jangka pendek, termasuk konflik yang berlangsung di Timur Tengah. Situasi tersebut disebut berkontribusi terhadap kenaikan biaya energi dan sejumlah biaya lainnya sejak Maret 2026.
Namun perusahaan menilai prospek jangka panjang tembaga dan emas tetap kuat. AMMAN juga menyatakan prioritas utamanya saat ini adalah memastikan kinerja smelter berjalan stabil, andal, dan berkelanjutan.
Arief mengatakan, sejumlah proyek ekspansi seperti fasilitas CCPP, regasifikasi LNG, dan ekspansi pabrik konsentrator diharapkan dapat memperkuat ketahanan operasional serta daya saing jangka panjang perusahaan.
Dengan capaian kuartal pertama ini, AMMAN menegaskan posisinya sebagai salah satu pemain utama industri tembaga dan emas di Indonesia. Perusahaan kini bergerak sebagai bisnis yang terintegrasi dari pertambangan hingga pemurnian. (red.)


