Menolak Kalah: Riset UIN Kendari, UIN Mataram, dan UIN Ambon ungkap tangguhnya Tokoh Tradisional di Indonesia Timur

Prof. Dr. Abdul Wahid, M.Ag., M.Pd, Dr Asliah Zain dan Prof. Atun Wardatun, M.Ag., M.A., Ph.D.

kicknews.today – Di tengah kuatnya sentralisasi negara, otoritas pemimpin tradisional di Indonesia Timur ternyata tidak melemah. Justru mereka menolak kalah. Itulah temuan kunci dari riset kolaborasi tiga UIN yang didanai LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan  melalui BRIN  (Badan Riset dan inovasi) selama tiga tahun.

Sejak 2025, UIN Mataram bekerja sama dengan UIN Kendari dan UIN AM Sangadji Ambon melakukan penelitian multi-years (2025-2027) dengan judul “Menolak Kalah: Reotorisasi Elit Agama Tradisional sebagai Early Warning System Ekstremisme Agama di Indonesia Timur”. Penelitian ini didanai oleh LPDP melalui BRIN.

Pada tahun pertama, tim yang diketuai oleh Dr. Asliah Zainal, M.A. dari UIN Kendari telah menyelesaikan pengumpulan data di tiga provinsi lokus penelitian, yaitu Sulawesi Tenggara, NTB, dan Maluku.

Tim peneliti UIN Kendari yang terdiri dari Prof. Dr. Batmang, M.Pd., Dr. Muh Shaleh, Hasfikin, S.SS., M.Hum., Tandri Patih, M.S.I., dan Burhan, S.Si., M.Sc. melakukan pengumpulan data di Sulawesi Tenggara. Sementara Tim NTB yang terdiri dari Prof. Dr. Abdul Wahid, M.Ag., M.Pd. dan Prof. Atun Wardatun, M.Ag., M.A., Ph.D. yang sehari-hari sebagai dosen di UIN Mataram, melakukan pengumpulan data di Pulau Lombok dan Pulau Bima, NTB. Adapun pengumpulan data di Ambon dilakukan oleh Prof. Dr. Abidin Wakano, M.Ag., MA. dan Dr. Nurhasanah, M.Si. dari UIN AM Sangadji Ambon.

Hasilnya, ditemukan temuan menarik dan berpola sama. Ternyata otoritas pemimpin tradisional yang terdiri dari pemimpin agama dan pemimpin adat masih sangat kuat di ketiga provinsi tersebut. Di tengah terjadinya sentralisasi negara yang semakin kuat, para otoritas tradisional ini memiliki agensi untuk tidak menyerah, terutama dalam menangani masalah-masalah keseharian yang dihadapi masyarakat akar rumput.

Dengan beberapa variasi dan tingkatan yang berbeda, dalam banyak hal terjadi penguatan dan ekstensifikasi otoritas. Penguatan tersebut misalnya sangat tampak pada isu-isu keluarga dan ritual keberagamaan serta adat. Sedangkan ekstensifikasi otoritas tampak pada semakin meluasnya pemegang otoritas, misalnya pada orang muda dan perempuan.

Temuan ini memperjelas bahwa Indonesia Timur, walaupun seringkali tidak tersentuh oleh kebijakan negara, mampu terus bertahan dan kuat karena adanya pemimpin tradisional yang menolak kalah.

Capaian akademik dari temuan tahun pertama ini juga signifikan. Hasil penelitian tersebut telah dituangkan dalam artikel jurnal bereputasi internasional (Q1) yang sudah berstatus accepted dan sedang menunggu giliran dipublikasikan. Selain itu, juga dalam bentuk buku referensi yang sudah ber-ISBN. Kedua luaran ini menjadi syarat bagi kelancaran pelaksanaan penelitian tahun kedua.

Sebagai tindak lanjut, pada tahun kedua ini tim telah menyusun poin-poin temuan ke dalam Modul Pelatihan dan Mentoring bagi Pemimpin Tradisional. Mereka diposisikan sebagai focal point bagi Early Warning System untuk ekstremisme agama berbasis komunitas di Indonesia Timur. Modul ini akan menjadi pedoman untuk melakukan pelatihan terhadap tokoh tradisional terpilih dari tiga provinsi lokus penelitian tersebut.

Pelatihan dan mentoring ini tidak dihajatkan berlangsung satu arah, tetapi proses pelatihan itu sendiri akan memperkaya modul yang telah tersusun dengan pengalaman mendalam dari para tokoh tradisional.

Tahap penelitian ini akan ditutup pada tahun ketiga (2027) dengan kembali melakukan FGD untuk memvalidasi berbagai dokumen output penelitian yang telah dihasilkan pada dua tahun sebelumnya, untuk menghasilkan policy brief yang akan merekomendasikan model pencegahan ekstremisme agama dengan pendekatan kultural. Hal ini sejalan dengan rekomendasi yang dikeluarkan oleh BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme) bahwa pencegahan ekstremisme harus bersifat bottom-up yang mengintegrasikan nilai kearifan lokal agar lebih berhasil. (jr)

Facebook
Twitter
WhatsApp
Email

Kontributor →

Kontributor kicknews

–

Artikel Terkait

Ultah Lombok Tengah

OPINI