kicknews.today – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat di sejumlah wilayah pesisir Nusa Tenggara Barat (NTB) untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi pasang air laut maksimum yang dapat memicu banjir rob.
Peringatan tersebut berlaku mulai 1 Oktober 2026 pukul 23.00 WITA hingga 5 Oktober 2026 pukul 06.00 WITA.
Kepala Stasiun Meteorologi Bizam, Tri Widiarto, S.Si, menyampaikan prakiraan kondisi cuaca dan laut di sejumlah wilayah NTB selama periode tersebut.
Untuk wilayah Lembar, cuaca diprakirakan cerah berawan hingga hujan ringan. Angin bertiup dari arah timur hingga selatan dengan kecepatan 5–20 knots. Sementara tinggi gelombang diperkirakan mencapai 0,5 hingga 4 meter.
“Pasang maksimum di wilayah Lembar diperkirakan mencapai 1,9 meter, dengan waktu pasang antara pukul 23.00 hingga 02.00 WITA,” jelasnya.
Sementara di wilayah Sape, kondisi cuaca diprakirakan cerah berawan hingga hujan ringan. Angin bertiup dari arah timur hingga selatan dengan kecepatan 5–20 knots, sedangkan tinggi gelombang berkisar 0,5 hingga 2,5 meter.
Adapun pasang maksimum di Sape diperkirakan mencapai 2 meter, dengan waktu pasang antara pukul 01.00 hingga 06.00 WITA.
BMKG mencatat sejumlah wilayah pesisir dan dataran rendah di NTB yang berpotensi terdampak fenomena pasang air laut maksimum.
Di wilayah Lombok, daerah yang masuk dalam perhatian antara lain Ampenan, Sekarbela, Gerung, Lembar, Pemenang, Jerowaru dan Labuhan Lombok.
“Sementara di Sumbawa, wilayah yang berpotensi terdampak meliputi Sumbawa dan Labuhan Badas,” ujarnya.
Sedangkan di Bima, wilayah yang perlu meningkatkan kewaspadaan yakni Palibelo, Belo, Woha, Bolo, Lambu, Langgudu, Soromandi, Sape, Rasanae Barat, Hu’u dan Asakota.
BMKG mengimbau masyarakat yang tinggal di sekitar pesisir Lombok, Sumbawa dan Bima, termasuk warga yang berada di bantaran sungai serta daerah yang lebih rendah, agar tetap waspada dan siaga.
Fenomena pasang maksimum tersebut berpotensi menimbulkan dampak seperti banjir rob, khususnya di wilayah pesisir dan dataran rendah.
“Masyarakat yang beraktivitas di kawasan pesisir juga diimbau terus memperhatikan perkembangan kondisi cuaca, angin dan gelombang sebelum melakukan aktivitas,” pungkasnya. (jr)






