Dari tulkun di Avatar hingga Pakek Torok di Sumbawa: makhluk purba 60 juta tahun yang menjadi sahabat nelayan

Cuplikan film Avatar: The Way of Water memperlihatkan kedekatan masyarakat Metkayina dengan tulkun, makhluk laut raksasa yang menjadi bagian penting dalam kehidupan mereka. (Dok. 20th Century Studios)
Cuplikan film Avatar: The Way of Water memperlihatkan kedekatan masyarakat Metkayina dengan tulkun, makhluk laut raksasa yang menjadi bagian penting dalam kehidupan mereka. (Dok. 20th Century Studios)

kicknews.today – Dalam Avatar: The Way of Water, masyarakat Metkayina tidak memandang tulkun sekadar sebagai makhluk laut raksasa. Tulkun menjadi bagian dari kebudayaan, kehidupan sosial, dan hubungan spiritual masyarakat pesisir Pandora.

Jauh dari dunia fiksi itu, hubungan antara manusia dan makhluk laut besar juga tumbuh di Teluk Saleh, Kabupaten Sumbawa. Masyarakat Desa Labuhan Jambu, Kecamatan Tarano, telah lama hidup berdampingan dengan hiu paus atau Rhincodon typus, yang dikenal secara lokal sebagai Pakek Torok.

Perbandingan tersebut berhenti pada kedekatan manusia dengan makhluk laut besar. Pakek Torok bukan tulkun, sedangkan hubungan masyarakat Labuhan Jambu dengan hiu paus tidak dibangun melalui kisah persaudaraan spiritual seperti dalam film Avatar.

Kedekatan itu lahir dari pengalaman nyata para nelayan saat bekerja di laut. Hiu paus mendatangi bagan karena tertarik pada rebon dan ikan-ikan kecil yang terkumpul di sekitar alat tangkap. Pertemuan yang berlangsung berulang membuat nelayan mempelajari perilaku satwa tersebut dan menemukan cara berinteraksi tanpa menyakitinya.

Hiu paus merupakan ikan terbesar yang masih hidup di bumi. Satwa ini termasuk kelompok ikan bertulang rawan bersama hiu dan pari. Garis keluarga hiu paus diperkirakan telah muncul sekitar 60 juta tahun lalu.

Angka tersebut merujuk pada sejarah evolusi garis keluarganya, bukan usia individu hiu paus yang berenang di Teluk Saleh. Jejak fosil kerabat purbanya juga ditemukan dari periode Eosen, puluhan juta tahun sebelum manusia modern muncul.

Makhluk dengan sejarah evolusi panjang itulah yang kemudian menjadi bagian dari keseharian nelayan Labuhan Jambu.

Namun, hubungan nelayan dan hiu paus tidak selalu berjalan romantis. Pada masa lalu, hiu paus yang mendekati bagan kerap dianggap mengganggu. Tubuhnya yang besar dapat menyentuh atau masuk ke dalam jaring sehingga berisiko merusak alat tangkap.

Nelayan kemudian harus mencari cara mengeluarkan satwa tersebut tanpa melukainya dan tanpa menanggung kerusakan jaring yang lebih besar. Pengalaman itu membentuk pengetahuan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Dalam perkembangannya, hiu paus yang dahulu dianggap mengganggu justru berubah menjadi salah satu daya tarik utama Teluk Saleh. Wisatawan datang untuk melihat dan berenang bersama satwa bercorak totol tersebut.

Perubahan itu membuka sumber penghasilan baru bagi masyarakat. Kehadiran hiu paus menggerakkan jasa perahu, pemandu wisata, transportasi, penginapan, makanan, dan berbagai usaha masyarakat pesisir.

Hubungan panjang masyarakat dengan Pakek Torok mendapat perhatian pemerintah saat Festival Hiu Paus 2026 digelar di Taman Hiu Paus, Desa Labuhan Jambu, pada 19–26 September 2026.

Menteri Hukum Supratman Andi Agtas saat membuka festival pada Sabtu malam (19/9/2026) menilai keistimewaan Labuhan Jambu tidak hanya terletak pada keberadaan hiu paus, tetapi juga pengetahuan masyarakat yang tumbuh dari interaksi dengan satwa tersebut.

Wisatawan berenang bersama hiu paus di Labuhan Jambu, Teluk Saleh, Sumbawa. Foto: Istimewa
Wisatawan berenang bersama hiu paus di Labuhan Jambu, Teluk Saleh, Sumbawa. Foto: Istimewa

Supratman menyebut Pakek Torok sebagai pengetahuan tradisional masyarakat dalam berinteraksi dengan hiu paus menggunakan rebon tanpa menyakitinya.

“Pakek Torok merupakan pengetahuan tradisional. Tarian adat penyambutan tamu, musik Gendang Serunai, permainan rakyat nelayan, serta Lawas, sastra lisan Samawa yang melantunkan kisah-kisah laut, merupakan ekspresi budaya tradisional,” kata Supratman.

Istilah Pakek Torok dengan demikian muncul dalam dua konteks yang berkaitan. Masyarakat menggunakannya sebagai sebutan lokal bagi hiu paus, sementara dalam festival tersebut istilah yang sama disebut untuk menggambarkan pengetahuan tradisional nelayan ketika berinteraksi dengan satwa itu.

Menurut Supratman, pengetahuan tradisional dan ekspresi budaya masyarakat merupakan bagian dari Kekayaan Intelektual Komunal yang perlu dilindungi.

Kementerian Hukum akan mendampingi masyarakat, yayasan, kelompok sadar wisata, dan pemerintah daerah untuk menginventarisasi serta mencatat kekayaan intelektual komunal yang berkembang di Labuhan Jambu.

Pencatatan itu menempatkan Pakek Torok bukan hanya sebagai nama lokal bagi satwa laut, tetapi juga bagian dari pengetahuan yang lahir dari pengalaman masyarakat membaca keadaan laut, mengelola bagan, dan berbagi ruang dengan hiu paus.

Di titik inilah kisah Pakek Torok memiliki gema dengan tulkun dalam Avatar: The Way of Water. Keduanya memperlihatkan bagaimana masyarakat pesisir memberikan tempat khusus kepada makhluk laut besar yang hidup di sekitar mereka.

Perbedaannya, kisah Pakek Torok tidak lahir dari skenario film. Hubungan tersebut terbentuk dari bagan, rebon, jaring, laut, dan pengalaman nelayan yang berlangsung lintas generasi.

Kini hubungan itu memasuki fase baru. Hiu paus bukan lagi hanya bagian dari aktivitas nelayan, tetapi juga menjadi pusat pengembangan pariwisata Teluk Saleh.

Bupati Sumbawa Syarafuddin Jarot menyebut keberadaan hiu paus bukan sekadar fenomena alam, melainkan aset ekonomi biru dan pariwisata Sumbawa. Pemanfaatannya, menurut dia, harus berjalan bersama upaya menjaga keberlanjutan ekosistem.

“Lautnya tetap hidup, masyarakatnya juga ikut hidup,” kata Jarot.

Popularitas Pakek Torok sekaligus membawa tantangan. Interaksi yang sebelumnya lebih banyak berlangsung antara hiu paus dan nelayan kini melibatkan kapal wisata, pemandu, wisatawan, aktivitas berenang, dan kepentingan ekonomi yang semakin besar.

Hiu paus juga merupakan satwa migratori. Sebagian individu dapat kembali ke lokasi agregasi tertentu, tetapi penelitian menggunakan pelacakan satelit menunjukkan satwa ini mampu melakukan perjalanan dalam jarak sangat jauh.

Karena itu, Teluk Saleh bukan akuarium alam yang membuat hiu paus menjadi milik satu kawasan. Perairan tersebut menjadi salah satu ruang pertemuan antara satwa migratori, ketersediaan makanan, bagan nelayan, dan kehidupan masyarakat pesisir.

Ketua Yayasan Hiu Paus, Musykil Hartsah, menegaskan konservasi harus menjadi dasar pengembangan wisata di kawasan tersebut.

“Edukasi konservasi menjadi ruh festival,” ujarnya.

Selain pertunjukan budaya dan promosi pariwisata, Festival Hiu Paus 2026 juga diisi dengan penanaman terumbu karang dan mangrove, pembersihan pantai, parade perahu, perlombaan bagan hias, pameran usaha mikro, kecil, dan menengah, serta kegiatan fotografi bawah laut.

Rangkaian tersebut memperlihatkan upaya menempatkan hiu paus bukan semata-mata sebagai tontonan. Satwa itu berada dalam satu bentang kehidupan bersama nelayan, terumbu karang, mangrove, sumber makanan, dan kebudayaan masyarakat Teluk Saleh.

Tulkun hidup dalam imajinasi tentang masyarakat yang memandang makhluk laut sebagai bagian dari keluarganya. Pakek Torok hidup dalam pengalaman nyata masyarakat yang selama beberapa generasi berbagi laut dengan salah satu ikan terbesar di bumi.

Yang satu berenang di lautan Pandora. Yang lainnya datang ke bagan-bagan nelayan di Teluk Saleh.

Kelangsungan hubungan tersebut kini bergantung pada kemampuan masyarakat, pemerintah, dan pelaku wisata menjaga keseimbangan antara konservasi dan kegiatan ekonomi. Dengan cara itulah Pakek Torok dapat tetap menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Teluk Saleh, bukan sekadar komoditas yang dicari wisatawan. (red.)

Facebook
Twitter
WhatsApp
Email

Kontributor →

Kontributor kicknews

Artikel Terkait

HUT KLU11

OPINI