Mau jalan-jalan akhir pekan di NTB? Ini event yang masih bisa didatangi

Kolase Festival Sangiang Api di Kabupaten Bima dan rangkaian Mulud Adat Bayan di Lombok Utara yang menjadi pilihan agenda budaya pada akhir pekan terakhir Agustus 2026. Foto: Istimewa/KickNews.
Kolase Festival Sangiang Api di Kabupaten Bima dan rangkaian Mulud Adat Bayan di Lombok Utara yang menjadi pilihan agenda budaya pada akhir pekan terakhir Agustus 2026. Foto: Istimewa/KickNews.

kicknews.today – Akhir pekan terakhir Agustus masih menyisakan agenda budaya yang bisa menjadi pilihan perjalanan di Nusa Tenggara Barat (NTB). Dari puncak Mulud Adat Bayan di Lombok Utara hingga pembukaan Festival Sangiang Api di Kabupaten Bima, Sabtu dan Minggu ini masih diisi perayaan yang tumbuh dari tradisi masyarakat setempat.

Di Lombok Utara, Mulud Adat Bayan 2026 memasuki puncak acara pada Sabtu (29/8/2026). Berdasarkan rundown resmi Pemerintah Kabupaten Lombok Utara, rangkaian hari terakhir dimulai dengan persiapan Nasi Ancak sejak pukul 09.00 WITA.

Prosesi kemudian dilanjutkan dengan Bisoq Meniq mulai pukul 12.00 WITA, Merias Praja Mulud mulai pukul 14.00 WITA, hingga Prosesi Praja Mulud pukul 17.00–18.00 WITA dari Bat Orong menuju kawasan Masjid Kuno Bayan. Setelah itu, rangkaian dilanjutkan dengan Periapan di halaman Masjid Kuno.

Mulud Adat Bayan tahun ini memiliki posisi khusus karena telah masuk dalam Karisma Event Nusantara (KEN) 2026. Pembukaan berlangsung pada Kamis (27/8/2026) dengan Parade Jong Bayan, penampilan penenun Bayan, pembukaan oleh Bupati Lombok Utara, serta penyerahan plakat KEN.

Meski kini masuk kalender event nasional, masyarakat Bayan tetap menempatkan Maulid sebagai ritual adat dan keagamaan yang memiliki aturan tersendiri.

Juru Kunci Masjid Kuno Bayan, Raden Palasari, mengatakan memasuki bulan Mulud masyarakat Bayan memiliki aturan untuk menahan sejumlah kegiatan yang disebut urip, termasuk begawe atau pesta.

“Kami memasuki bulan Mulud sudah ada aturan tidak menyelenggarakan urip, begawe atau pesta untuk mempersiapkan perayaan kelahiran Baginda Nabi dan bersiap menerima ajaran,” kata Raden Palasari.

Karena itu, pengunjung yang datang tidak hanya berhadapan dengan sebuah pertunjukan budaya. Sejumlah prosesi berlangsung di ruang adat dengan ketentuan tersendiri, termasuk soal pakaian, dokumentasi, dan area yang boleh dimasuki.

Dari Lombok Utara, pilihan perjalanan akhir pekan juga bisa diarahkan ke Pulau Sumbawa. Festival Sangiang Api 2026 di Kabupaten Bima dijadwalkan membuka rangkaian acaranya pada Minggu (30/8/2026).

Festival tersebut membawa kekuatan utama pada budaya pesisir dan kehidupan masyarakat Sangiang yang tumbuh bersama laut. Salah satu daya tariknya adalah kejuaraan sampan layar tradisional.

Namun berbeda dengan perlombaan yang seluruh waktunya bisa ditentukan panitia, sampan layar sangat bergantung pada kondisi angin dan cuaca.

Tokoh adat Desa Sangiang, Ayang Saifullah, mengatakan pembukaan Festival Sangiang Api dijadwalkan berlangsung pada 30 Agustus 2026. Sementara waktu puncak, terutama perlombaan sampan layar tradisional, belum dapat dipastikan sejak awal.

“Tanggal 30 untuk Opening Ceremony. Kalau puncaknya belum tahu karena tergantung cuaca dan angin, terutama untuk lomba perahu layar,” kata Ayang.

Ketergantungan pada kondisi alam membuat jadwal perlombaan dapat berubah. Karena itu, pengunjung yang hendak datang ke Sangiang disarankan memastikan kembali jadwal terbaru kepada panitia sebelum berangkat.

Dengan karakter yang berbeda, Bayan dan Sangiang menawarkan dua pilihan perjalanan pada akhir pekan terakhir Agustus. Bayan membawa pengunjung lebih dekat dengan tradisi keagamaan dan adat masyarakat Sasak, sedangkan Sangiang menawarkan pengalaman budaya bahari masyarakat Bima yang ritmenya masih ditentukan oleh angin dan laut. (red.)

Facebook
Twitter
WhatsApp
Email

Kontributor →

Kontributor kicknews

Artikel Terkait

HUT KLU11

OPINI