kicknews.today – Pembangunan Sekolah Rakyat di Dusun Amor-Amor, Desa Gumantar, Kecamatan Kayangan, Kabupaten Lombok Utara (KLU), terus dipercepat menjelang peluncuran nasional yang direncanakan berlangsung pada 20 Juni 2026. Sekolah yang menjadi bagian dari program prioritas pemerintah pusat itu diproyeksikan mulai menjalankan proses pembelajaran dalam waktu dekat.
Hingga saat ini, progres pembangunan fisik sekolah telah mencapai sekitar 30 persen. Berbagai fasilitas pendukung seperti ruang belajar, asrama, tempat ibadah, kantin hingga ruang terbuka hijau sedang dikerjakan secara bertahap.

Kepala Bidang Dayasos Dinas Sosial PPPA KLU, Sukardin mengatakan percepatan pembangunan dilakukan untuk mengejar target peluncuran yang dijadwalkan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto.
“Yang dipercepat sekarang karena target launching pada 20 Juni 2026. Harapannya proses pembelajaran sudah bisa berjalan,” ujarnya, Selasa (26/05/2026).
Selain pembangunan fisik, Dinas Sosial PPPA KLU bersama pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) juga mulai bergerak melakukan penjangkauan calon siswa. Langkah tersebut dilakukan berdasarkan arahan pemerintah pusat dan berlangsung sejak minggu pertama Mei hingga minggu keempat Juni 2026.
Menurut Sukardin, proses berikutnya akan memasuki tahap seleksi siswa pada Juli mendatang. Sementara untuk tenaga pendidik, seluruh kewenangannya ditangani pemerintah pusat, sedangkan pemerintah daerah hanya berperan dalam pendataan dan penyiapan calon peserta didik.
Sekolah Rakyat di Lombok Utara nantinya tidak hanya diperuntukkan bagi siswa asal KLU, tetapi juga akan menampung peserta didik dari berbagai daerah di Nusa Tenggara Barat.
“Untuk tahun ini anak-anak Sekolah Rakyat rintisan mulai dari Lombok Barat, Lombok Timur bahkan Sumbawa akan dibawa ke sini. Jumlahnya sekitar 485 siswa ditambah lagi kuota untuk KLU. Kuota kita ada sembilan rombel,” jelasnya.
Dia merinci, sembilan rombongan belajar (rombel) tersebut terdiri dari tiga rombel tingkat SD, tiga SMP dan tiga SMA, dengan kapasitas masing-masing sekitar 30 siswa.
Sementara, Koordinator Kabupaten PKH KLU, Raden Zulkarnaen mengatakan pihaknya saat ini fokus melakukan pendampingan dan penjangkauan terhadap calon siswa prioritas. Sistem penerimaan Sekolah Rakyat, kata dia, berbeda dengan sekolah reguler karena tidak melalui mekanisme pendaftaran terbuka.
“Data calon siswa sudah ada di Pusdatin dan berasal dari kelompok desil satu dan dua,” katanya.
Dari total 4.877 anak yang masuk dalam data sasaran, terdapat sekitar 259 anak putus sekolah yang menjadi prioritas utama program tersebut. Saat ini tim PKH masih turun langsung ke lapangan untuk memastikan minat anak-anak melanjutkan pendidikan, termasuk siswa SD menuju SMP dan siswa SMP yang akan melanjutkan ke SMA.
“Kita harap program Sekolah Rakyat ini menjadi solusi bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu maupun yang sempat putus sekolah,” tutupnya. (gii/*)




