kicknews.today – Upaya meningkatkan budaya literasi masyarakat terus dilakukan Dinas Perpustakaan Kabupaten Lombok Utara (KLU). Salah satunya melalui penyediaan Pojok Baca Digital (Pocadi) yang kini mulai hadir di sejumlah desa guna memudahkan masyarakat mengakses bahan bacaan secara digital.
Kepala Dinas Perpustakaan KLU, Rusdianto mengatakan saat ini keberadaan Pocadi di KLU masih terbatas pada tiga lokasi. Fasilitas tersebut merupakan bantuan dari pemerintah pusat yang difasilitasi pemerintah daerah.

“Untuk Pojok Baca Digital ini kita baru sekitar tiga tempat. Ini bantuan dari pusat, sementara kami memfasilitasi dengan menyediakan bahan bacaan dan fasilitas pendukungnya,” ujarnya, Rabu (20/05/2026).
Rusdianto menjelaskan, Pocadi hadir sebagai solusi untuk mendekatkan akses literasi kepada masyarakat, terutama di tingkat desa. Saat ini fasilitas tersebut telah ditempatkan di Desa Gili Sari, Selelos, dan Medana.
Menurutnya, kehadiran Pocadi memungkinkan masyarakat lebih mudah mendapatkan bahan bacaan tanpa harus datang ke perpustakaan utama. Ke depan, pemerintah daerah juga berencana memperluas jangkauan Pocadi ke ruang-ruang publik agar dapat diakses lebih banyak warga.
“Kami ingin Pocadi tidak hanya ada di desa, tetapi juga hadir di tempat-tempat fasilitas umum. Mudah-mudahan nantinya bisa ada juga di kawasan Lapangan Tanjung,” katanya.
Meski demikian, Rusdianto mengakui tantangan peningkatan minat baca masyarakat saat ini cukup besar. Perkembangan teknologi dan tingginya penggunaan gawai membuat pola masyarakat dalam mengakses informasi ikut berubah.
Dia menyebut hingga saat ini tingkat minat baca masyarakat di Lombok Utara belum terukur secara pasti. Namun, Dinas Perpustakaan juga telah menyediakan layanan perpustakaan digital yang berisi sekitar 8.000 judul buku.
“Koleksi digital kita saat ini kurang lebih 8.000 judul, tetapi memang harus terus diperbarui agar masyarakat semakin tertarik mengaksesnya,” jelasnya.
Selain memperkuat layanan digital, Dinas Perpustakaan KLU juga merancang konsep ruang baca terbuka yang nyaman bagi masyarakat. Konsep tersebut diharapkan dapat menghadirkan budaya membaca dalam suasana santai di ruang publik.
Untuk mewujudkan rencana tersebut, dukungan anggaran menjadi kebutuhan utama. Rusdianto memperkirakan pembangunan satu unit fasilitas baca terbuka membutuhkan dana sekitar Rp75 juta hingga Rp100 juta.
“Harapan kita tentu dukungan anggaran bisa membantu mewujudkan fasilitas ini. Saat ini sudah diajukan, namun tetap menyesuaikan kuota dan skala prioritas yang ada,” tutupnya. (gii/*)




