Maulid Adat Bayan ke pentas nasional, kesakralan tetap harga mati

Masyarakat saat mengikuti Maulid Adat Bayan yang digelar di kawasan Masjid Kuno Bayan Beleq. (Foto. kicknews.today/Anggi)

kicknews.today – Maulid Adat Bayan 2026 kembali digelar di kawasan Masjid Kuno Bayan Beleq dan lingkungan masyarakat adat Bayan pada 26–29 Agustus 2026. Tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun itu dipastikan tetap mengedepankan tata nilai adat, meski tahun ini mendapat perhatian lebih besar karena untuk pertama kalinya masuk dalam kalender Karisma Event Nusantara (KEN) 2026.

Kabid Pemasaran Dinas Pariwisata Lombok Utara, Fadli mengatakan persiapan pelaksanaan terus dilakukan bersama masyarakat adat, pemerintah desa, Pemkab Lombok Utara, serta berbagai pihak terkait.

Menurutnya, persiapan tidak hanya menyangkut aspek teknis seperti kebersihan, keamanan, pengaturan lalu lintas hingga penerimaan wisatawan. Hal yang jauh lebih penting adalah memastikan seluruh rangkaian adat tetap berjalan sesuai ketentuan dan tata nilai yang diwariskan masyarakat Bayan.

“Karena event adat ini rutin dilaksanakan oleh masyarakat Bayan setiap tahun dan sudah turun-temurun. Apa pun yang terjadi, saat Covid pun dulu tetap dilaksanakan dengan protokol tertentu,” kata Fadli, Rabu (19/08/2026).

Dia menegaskan, Maulid Adat Bayan tidak boleh bergeser menjadi sekadar pertunjukan wisata. Kehadiran wisatawan harus ditempatkan sebagai bagian dari upaya mengenalkan dan mempelajari budaya Bayan dengan tetap menghormati kesakralan setiap prosesi.

“Pendekatannya bukan menjadikan Mulud Adat sebagai pertunjukan semata, tetapi bagaimana wisatawan dapat hadir, menyaksikan dan belajar mengenai budaya Bayan dengan tetap menghormati kesakralannya,” ujarnya.

Sejumlah tahapan adat akan kembali mewarnai pelaksanaan Maulid Adat Bayan. Di antaranya Menyilaq, Menutu, Bisoq Meniq, menghias Masjid Kuno Bayan, Peresean, Meriap, menghias Praja Mulud hingga puncak Mulud.

Setiap tahapan memiliki fungsi dan makna tersendiri dalam kehidupan masyarakat adat Bayan. Rangkaian tersebut sekaligus mencerminkan kuatnya nilai gotong royong, kebersamaan, penghormatan terhadap leluhur, serta perpaduan nilai keagamaan dan budaya lokal.

Fadli menegaskan, pemerintah justru berharap tidak ada perubahan terhadap rangkaian tradisi yang telah berlangsung selama generations.

“Kami berharap justru tidak ada perubahan rangkaian dan tradisi yang sudah berjalan turun-temurun. Hal tersebut menjadi nilai dari Mulud Adat yang merupakan keistimewaan masyarakat Bayan,” katanya.

Menurutnya, keunikan tersebut justru menjadi daya tarik utama. Karena itu, pengembangan pariwisata harus mengikuti budaya yang ada, bukan sebaliknya tradisi diubah untuk menyesuaikan kebutuhan wisatawan.

Ada satu hal yang membuat pelaksanaan tahun ini berbeda. Untuk pertama kalinya, Maulid Adat Bayan masuk dalam kalender Karisma Event Nusantara (KEN) 2026) bersama Gili Festival.

Dari empat event NTB yang masuk kalender KEN tahun ini, dua di antaranya berada di Lombok Utara, sementara masing-masing satu event berasal dari Bima dan Lombok Timur.

Fadli menilai masuknya Maulid Adat Bayan dalam KEN merupakan momentum untuk semakin memperkenalkan tradisi lokal ke tingkat yang lebih luas. Namun, status tersebut tidak boleh membuat masyarakat mengejar kemeriahan secara berlebihan.

“Tradisi lokal itulah yang justru menarik. Kami ingin memperkuat posisi Maulid Adat Bayan sebagai warisan budaya yang hidup, bukan sekadar event tahunan,” tegasnya.

Dia menambahkan, keberhasilan Maulid Adat Bayan tidak semata-mata diukur dari jumlah wisatawan yang datang. Lebih dari itu, tradisi harus tetap hidup, dihormati, dan mampu diwariskan kepada generasi berikutnya.

Pemkab Lombok Utara memperkirakan sekitar 2.000 orang akan hadir selama beberapa hari pelaksanaan Maulid Adat Bayan 2026.

Meski demikian, masyarakat adat tetap menjadi pelaku utama dalam seluruh rangkaian kegiatan. Pemerintah lebih banyak mengambil peran sebagai fasilitator dan pendukung, terutama dalam memastikan keamanan, ketertiban dan kenyamanan selama kegiatan berlangsung.

Pembekel Adat Karang Bajo sekaligus Koordinator Dewan Emban Adat Bayan, Bapuk Bajang Nikrana mengatakan persiapan masyarakat pada dasarnya tidak memiliki perubahan khusus karena pelaksanaan Maulid Adat tetap mengikuti tradisi yang diwariskan sejak dahulu.

“Persiapan yang dilakukan setiap peringatan acara Maulid Adat di Bayan adalah memastikan sarana dan prasarana yang menjadi kebutuhan upacara tersedia. Kalau kita bilang secara khusus, tidak juga, karena acara ini berjalan sesuai tradisi yang diwariskan sejak dahulu,” jelas Nikrana.

Keterlibatan generasi muda menjadi bagian penting dalam pelaksanaan Maulid Adat Bayan. Nikrana menyebut, pemuda memiliki peran besar dalam menyiapkan berbagai kebutuhan sebelum para tetua adat menjalankan tugasnya.

“Peran pemuda sangatlah penting. Tanpa mereka acara tidak akan dapat berjalan dengan lancar, karena sebenarnya merekalah yang menjadi pelaksana terkait penyiapan sarana dan prasarana acara,” katanya.

Nikrana juga berharap generasi muda tidak hanya terlibat secara teknis, tetapi memahami makna dari setiap prosesi. Kemampuan mereka dalam teknologi dan media sosial dapat dimanfaatkan untuk mendokumentasikan serta memperkenalkan budaya Bayan secara lebih luas, dengan tetap mengikuti batasan adat mengenai hal-hal yang boleh dan tidak boleh direkam.

Bagi wisatawan yang ingin menyaksikan Maulid Adat Bayan, sejumlah aturan harus dipatuhi. Pengunjung diperbolehkan menyaksikan bagian-bagian yang terbuka untuk umum, terutama aktivitas budaya di ruang publik seperti jalan raya dan halaman Masjid Kuno Bayan.

Nikrana mengatakan masyarakat luar yang hanya ingin menyaksikan diperbolehkan hadir, tetapi aksesnya dibatasi pada lokasi-lokasi tertentu. Sementara mereka yang mengikuti prosesi harus memenuhi ketentuan adat yang berlaku.

Nikrana mengimbau pengunjung mengenakan pakaian sopan. Penggunaan kain adat akan lebih baik. Wisatawan juga diminta tidak mengambil foto atau video apabila terdapat larangan, tidak memasuki area sakral tanpa izin, tidak menyentuh benda adat, tidak mengganggu prosesi dan tidak menerbangkan drone tanpa izin.

Kebersihan dan ketenangan selama ritual juga menjadi perhatian. Pengunjung diminta mengikuti arahan masyarakat adat maupun petugas di lapangan.

Di tengah meningkatnya perhatian wisatawan, masyarakat adat memiliki tantangan besar untuk menjaga batas antara tradisi dan pariwisata.

Nikrana juga menjelaskan, kesakralan Maulid Adat Bayan tidak terletak pada seremoni yang dapat disaksikan publik, tetapi pada khidmat spiritual yang hanya dapat diikuti oleh pihak-pihak yang memenuhi ketentuan adat.

“Kesakralan itu terletak pada khidmat spiritual yang tidak sembarang orang bisa mengikutinya. Sedangkan yang dapat dilihat oleh banyak orang itu adalah acara seremoni yang memang dipersiapkan untuk memeriahkan acara,” ungkapnya.

Karena itu, konsep yang didorong pemerintah adalah respectful tourism, yakni pariwisata yang datang untuk menghormati, bukan mengambil alih budaya.

“Maulid Adat harus tetap menjadi milik dan bagian dari kehidupan masyarakat adat Bayan. Pariwisata hadir untuk memberikan ruang apresiasi dan edukasi kepada masyarakat luas, bukan mengambil alih ritual tersebut,” tutupnya. (gii/*)

Facebook
Twitter
WhatsApp
Email

Kontributor →

Kontributor kicknews

Artikel Terkait

HUT KLU11

OPINI