Hantavirus mulai terdeteksi di Indonesia, Dikes KLU tingkatkan pengawasan

Ilustrasi.

kicknews.today – Dinas Kesehatan (Dikes) Kabupaten Lombok Utara (KLU) meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi penyebaran Hantavirus menyusul ditemukannya kasus penyakit tersebut di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Meski demikian, hingga saat ini belum ditemukan kasus Hantavirus di wilayah KLU.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan KLU, I Nyoman Sudiarta mengatakan secara nasional kasus Hantavirus mulai terdeteksi di Indonesia sejak tahun 2024 lalu. Hingga kini tercatat sebanyak 23 kasus dengan tiga orang meninggal dunia.

“Untuk di KLU sampai saat ini belum ada ditemukan kasus tersebut,” ujarnya, Rabu (13/05/2026).

Sudiarta menjelaskan, Hantavirus merupakan penyakit yang ditularkan melalui tikus sebagai vektor pembawa virus. Penularan dapat terjadi melalui kontak dengan urine, air liur, maupun kotoran tikus yang terinfeksi.

Karena itu, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan dengan menjaga kebersihan lingkungan, terutama di area rumah dan tempat penyimpanan makanan yang berpotensi menjadi sarang tikus.

Menurutnya, langkah pencegahan paling penting adalah menghindari kontak langsung dengan tikus maupun lingkungan yang terkontaminasi. Selain itu, masyarakat juga diimbau menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) serta menjalankan lima pilar Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) di tingkat rumah tangga.

Sebagai bentuk antisipasi dini, Dikes KLU juga telah menerbitkan surat kewaspadaan dini terkait potensi penyebaran Hantavirus. Surat tersebut ditujukan kepada seluruh fasilitas pelayanan kesehatan agar meningkatkan pemantauan dan kewaspadaan terhadap gejala penyakit menular yang mengarah pada infeksi Hantavirus.

Selain itu, masyarakat diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala seperti demam, nyeri otot, sakit kepala, hingga gangguan pernapasan setelah beraktivitas di lingkungan yang berisiko terdapat tikus.

Dikes KLU juga meminta petugas surveilans di tiap puskesmas aktif melakukan pemantauan terhadap kasus yang memiliki gejala mirip Hantavirus, terutama pada warga yang memiliki riwayat kontak dengan tikus atau lingkungan yang berisiko terkontaminasi.

Upaya sosialisasi PHBS pun mulai diperkuat melalui jajaran puskesmas dan kader kesehatan di tingkat desa guna meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya penyakit tersebut.

“Kalau ada masyarakat yang mengalami gejala mengarah ke Hantavirus, kami minta segera dilaporkan dan diperiksa lebih lanjut supaya bisa cepat ditangani,” tutup Sudiarta. (gii/*)

Facebook
Twitter
WhatsApp
Email

Kontributor →

Kontributor kicknews

Artikel Terkait

OPINI