kicknews.today — Ramah dan murah senyum. Begitulah kesan pertama ketika berjumpa dengan Fazhurrahman.
Namun di balik sikapnya yang sederhana itu, tersimpan semangat seorang birokrat muda yang memilih jalan berbeda. Tidak hanya duduk di belakang meja, tetapi turun langsung, mendengar warga, mencari persoalan dan mengajak masyarakat bergerak bersama.

Kini, nama Fazhurrahman semakin dikenal setelah berhasil meraih penghargaan Lurah Terbaik Kota Bima dari Dandim 1608/Bima. Penghargaan tersebut diberikan dalam momentum HUT ke-81 TNI.
Penghargaan itu menjadi salah satu bentuk apresiasi terhadap kiprah dan sinerginya dalam membangun Kelurahan Nae, termasuk kolaborasi antara pemerintah kelurahan, TNI dan masyarakat.
Tetapi bagi Fazhurrahman, penghargaan bukanlah garis akhir. Justru menjadi pengingat bahwa masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan.
Viral karena Sampah, Dipuji Wakil Gubernur
Salah satu terobosan yang membuat sosok Lurah Nae ini mencuri perhatian publik adalah gerakan memilah sampah dari rumah. Gagasannya sederhana: persoalan sampah tidak cukup diselesaikan ketika sampah sudah berada di tempat pembuangan. Perubahan harus dimulai dari sumbernya, yakni rumah tangga. Warga didorong untuk mulai memilah sampah, mengurangi sampah dan mengelola sampah sejak dari rumah.
Gerakan tersebut kemudian berkembang menjadi bagian dari upaya membangun lingkungan Kelurahan Nae yang lebih bersih dan berdaya. Tak hanya mendapat perhatian masyarakat dan media sosial, gagasan tersebut bahkan mendapat apresiasi langsung dari Wakil Gubernur NTB, Indah Dhamayanti Putri, saat berkunjung ke Kelurahan Nae beberapa waktu lalu.
Bagi Fazhurrahman, sampah bukan sekadar persoalan kebersihan. Di dalamnya ada persoalan perilaku, edukasi, ekonomi, kesehatan dan partisipasi masyarakat.
Karena itu, ia menuangkan gagasan tersebut melalui sebuah buku berjudul “Revolusi Pengelolaan Sampah.”
Pesannya jelas. Sampah tidak semestinya hanya dipandang sebagai sesuatu yang harus dibuang, tetapi harus dikurangi, dipilah, dikelola dan bila memungkinkan dimanfaatkan sejak dari sumbernya. Dari gagasan itu pula, semangat Kampung Hijau Kelurahan Nae terus dikembangkan.
Dari Bima, Tumbuh untuk Mengabdi
Fazhurrahman lahir di Bima pada 12 September 1992. Ia merupakan putra bungsu dari lima bersaudara, buah hati pasangan almarhum M. Jafar Yusuf dan Hj. Hamillah.
Ia tumbuh dalam lingkungan masyarakat Bima. Dari keluarga dan kehidupan sosial di sekitarnya, karakter sederhana, terbuka dan dekat dengan masyarakat perlahan terbentuk.
Pendidikan dasarnya ditempuh di SDN 6 Bima dan tamat pada 2004. Ia kemudian melanjutkan pendidikan di MTs Padolo hingga 2007, sebelum menyelesaikan pendidikan di SMA Negeri 1 Kota Bima pada 2010.
Semangat untuk mengabdi kemudian membawanya ke Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN). Pada 2014, ia menyelesaikan pendidikan Sarjana Terapan Pemerintahan. Namun perjalanan akademiknya tidak berhenti di sana.
Pada 2021, Fazhurrahman mendapatkan Beasiswa Karya Siswa Bappenas dan melanjutkan pendidikan magister bidang Pembangunan Daerah di Program Magister Administrasi Publik Universitas Brawijaya, Malang.
Baginya, pendidikan bukan sekadar mengejar gelar. Ilmu harus menjadi bekal untuk memahami persoalan masyarakat dan menemukan cara menghadirkan pemerintahan yang lebih dekat, adaptif dan solutif.
Karier Fazhurrahman dibangun dari berbagai pengalaman di lingkungan Pemerintah Kota Bima. Ia mengawali perjalanan sebagai staf pada Bagian Humas dan Protokol Sekretariat Daerah Kota Bima.
Dari sana, ia kemudian dipercaya menjadi Sekretaris Kelurahan Sarae. Posisi tersebut memberinya pengalaman langsung tentang bagaimana pemerintahan kelurahan bersentuhan dengan kebutuhan warga sehari-hari.
Perjalanan berikutnya membawanya ke Bappeda Kota Bima sebagai Perencana Ahli Muda. Di tempat itu, ia berhadapan dengan proses perencanaan pembangunan daerah, penyusunan program hingga bagaimana kebijakan pemerintah diterjemahkan menjadi program yang benar-benar menyentuh masyarakat.
Pengalaman dari berbagai lini tersebut kemudian menjadi bekal ketika ia dipercaya menjadi Lurah Nae. Di Nae, Fazhurrahman membawa satu prinsip sederhana: kelurahan bukan hanya tempat mengurus surat administrasi. Kelurahan adalah ruang bertemunya pemerintah dengan masyarakat. Karena itu, ia memilih membangun dengan semangat: “Bergerak Bersama, Kolaborasi Membangun Masyarakat Kelurahan Nae.”
Bagi Fazhurrahman, pemerintah tidak mungkin menyelesaikan seluruh persoalan masyarakat seorang diri. Maka, ia berusaha mengajak RT/RW, lembaga kemasyarakatan, dunia usaha, akademisi, komunitas, TNI/Polri hingga masyarakat untuk menjadi bagian dari pembangunan.
Pendekatan kolaboratif tersebut kemudian menjadi warna dalam berbagai program di Kelurahan Nae. Masyarakat tidak hanya ditempatkan sebagai penerima program, tetapi juga sebagai pelaku.
Konsep itu terlihat dalam berbagai gerakan pemberdayaan masyarakat, pengelolaan lingkungan, Kampung Hijau hingga penguatan pelayanan dasar melalui Posyandu 6 SPM dan pemberdayaan kader. Cara kerja semacam inilah yang kemudian membuat sejumlah program di Kelurahan Nae tumbuh menjadi gerakan bersama. Penghargaan dari Dandim 1608/Bima pun menjadi salah satu pengakuan terhadap semangat kolaborasi tersebut.
Jauh sebelum menjadi birokrat, Fazhurrahman rupanya sudah akrab dengan dunia organisasi. Saat duduk di bangku SMA, ia dipercaya menjadi Ketua Pengurus Pelajar Islam Indonesia (PII) Bima pada 2008. Pengalaman tersebut menjadi sekolah kehidupan baginya.
Dari organisasi, ia belajar berkomunikasi, membangun jejaring, bekerja dalam tim dan memahami karakter masyarakat yang beragam. Semangat itu terus dibawa hingga sekarang.
Pada 2026–2027, ia dipercaya menjadi Ketua DPW NTB Bhumi Literasi Anak Bangsa. Literasi dan pengembangan kapasitas generasi muda menjadi salah satu ruang pengabdian yang terus ia tekuni.
Fazhurrahman juga tercatat mengikuti sejumlah pendidikan dan pelatihan untuk memperkuat kapasitas profesionalnya. Di antaranya Diklat Kepemimpinan Tingkat IV di Mataram pada 2018, Diklat Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah Tipe Dasar dan Tipe C pada 2023.
Ditambah pendidikan magister Pembangunan Daerah di Universitas Brawijaya melalui Beasiswa Karya Siswa Bappenas. Semua perjalanan itu menunjukkan satu karakter: ia memilih untuk terus belajar.
Sebab menurutnya, tantangan pemerintahan selalu berubah. Karena itu, seorang aparatur juga harus terus berkembang.
Keluarga dan Kesederhanaan
Di balik aktivitasnya sebagai birokrat, Fazhurrahman adalah seorang suami dan ayah. Ia menikah dengan Anggun Nurillah, S.E., putri dari Ir. H. Abdurrahman H. Mukhsin dan Hj. Siti Hawa H. Nurdin. Dari pernikahan tersebut, keduanya dikaruniai dua putri, Ayesha Marzia dan Maryam Banafsha.
Keluarga menjadi ruang baginya untuk menjaga keseimbangan di tengah kesibukan sebagai aparatur pemerintahan. Di luar pekerjaan, Fazhurrahman menikmati olahraga dan membaca novel. Ia dikenal sebagai pribadi yang mudah bergaul, sederhana dan terbuka. Mungkin itulah yang membuatnya relatif mudah diterima ketika turun menemui warga.
Bukan Sekadar Lurah
Menjadi lurah mungkin berarti memimpin sebuah wilayah administratif. Namun bagi Fazhurrahman, tugas itu lebih dari sekadar jabatan. Ada masyarakat yang harus didengar. Ada persoalan yang harus dicari jalan keluarnya. Ada lingkungan yang harus dijaga. Dan ada potensi warga yang harus diberi ruang untuk tumbuh.
Karena itu, ia memilih untuk tidak hanya memimpin dari belakang meja. Ia turun ke masyarakat. Mendengar. Mengajak. Kemudian bergerak bersama.
Penghargaan Lurah Terbaik dari Dandim 1608/Bima dan apresiasi terhadap gerakan pengelolaan sampah menjadi bagian dari perjalanan tersebut. Namun barangkali, capaian paling penting bukanlah penghargaan yang terpajang di ruang kerja.
Melainkan ketika warga mulai melakukan perubahan dengan kesadaran sendiri. Sebab pada akhirnya, keberhasilan seorang lurah bukan hanya tentang seberapa banyak program yang dibuat. Tetapi tentang seberapa jauh masyarakat mau bergerak bersama.
Dan di Kelurahan Nae, Fazhurrahman sedang mencoba membuktikan bahwa perubahan besar kadang memang dimulai dari sesuatu yang sederhana: seorang pemimpin yang mau turun, mendengar dan ikut bergerak. (jr)






