93 persen wilayah di NTB diprediksi baru masuk musim hujan Desember 2026

Potret sawah warga yang terdampak kekeringan di Lombok nusa Tenggara Barat (foto kicknews.today/wn)
Potret sawah warga yang terdampak kekeringan di Lombok nusa Tenggara Barat (foto kicknews.today/wn)

kicknews.today – Sebagian besar wilayah Nusa Tenggara Barat masih harus menunggu hingga Desember untuk memasuki musim hujan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan sekitar 93 persen wilayah NTB baru memasuki musim hujan pada Desember 2026.

“Kami perkirakan 93 persen itu masuk musim hujan pada Desember 2026,” kata Kepala Stasiun Klimatologi NTB, Nuga Putrantijo, dalam konferensi pers di Lombok Barat, Rabu (30/9/2026).

Prakiraan tersebut mencakup 25 dari 27 zona musim di NTB. Sebanyak 10 zona diperkirakan memasuki musim hujan pada pertengahan Desember, sedangkan 15 zona lainnya menyusul pada akhir Desember.

Hanya dua zona yang diprediksi lebih dahulu memasuki musim hujan pada akhir November. Wilayahnya meliputi Kota Mataram serta sebagian kawasan Lombok Barat, Lombok Utara, Lombok Tengah, dan Lombok Timur.

Secara keseluruhan, NTB terbagi dalam 10 zona musim di Pulau Lombok dan 17 zona di Pulau Sumbawa. BMKG memperkirakan awal musim hujan di seluruh zona tersebut mundur dibandingkan rata-rata periode 1991–2020.

Menghadapi kondisi itu, BMKG meminta pelaku pertanian mempertimbangkan penyesuaian jadwal tanam, pemilihan varietas bibit, dan perbaikan drainase lahan.

Baca juga: Musim hujan NTB diprediksi mundur hingga Desember

Prakiraan mundurnya musim hujan muncul ketika sejumlah daerah masih mengalami periode kering yang panjang. Dalam pemantauan Stasiun Klimatologi NTB pada dasarian II September atau periode 11–20 September 2026, hari tanpa hujan di NTB umumnya berada pada kategori sangat panjang hingga kekeringan ekstrem.

Catatan terpanjang berada di Pos Hujan Bolo dan Belo, Kabupaten Bima, yang mencapai 125 hari berturut-turut tanpa hujan. Angka itu merupakan hasil pemantauan pada periode tersebut, bukan penghitungan hingga akhir September.

Kondisi kering juga menjadi perhatian bagi pertanian di Sembalun, Lombok Timur. Dalam informasi iklim sektoralnya, BMKG memprakirakan curah hujan September–November masih rendah, berkisar 0–100 milimeter per bulan.

Ketersediaan air yang terbatas berpotensi mengganggu pertumbuhan bawang putih, terutama pada fase pertumbuhan dan pembentukan umbi. Langkah antisipasi yang disarankan mencakup pengairan terukur dan pemantauan kelembapan tanah.

Memasuki Desember, curah hujan di Sembalun diprediksi mulai meningkat dan dapat melampaui 300 milimeter per bulan pada Januari–Februari 2027. Petani juga perlu menyiapkan drainase untuk mengurangi risiko genangan dan pembusukan umbi ketika kondisi beralih menjadi lebih basah.

Baca juga: Sebulan, 15 kebakaran terjadi di Lombok Utara, Bayan dan Kayangan jadi titik rawan

Sementara itu, dampak kondisi kering turut terlihat di Lombok Utara. Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan setempat mencatat sedikitnya 15 kejadian kebakaran dalam satu bulan terakhir, sebagaimana disampaikan pada 28 September 2026. Mayoritas merupakan kebakaran lahan.

Sekretaris Damkar Lombok Utara, Erwin Rahadi, menyoroti kebiasaan membersihkan lahan dengan cara membakar menjelang musim tanam. Dalam kondisi vegetasi kering, api yang awalnya kecil dapat cepat meluas.

Masyarakat diminta menghindari pembakaran saat membersihkan kebun atau menyiapkan lahan pertanian agar tidak memicu kebakaran selama kemarau berlangsung. (red.)

Facebook
Twitter
WhatsApp
Email

Kontributor →

Kontributor kicknews

–

Artikel Terkait

HUT KLU11

OPINI