kicknews.today — Kepala Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) menyatakan komitmennya mendukung Sembeq Buraq dan motif Sukurdi sebagai ikon baru pendakian Jalur Selatan Gunung Rinjani. Komitmen tersebut disampaikan dalam rangkaian Rinjani Merah Putih (RMP) VII, kegiatan pengibaran bendera Merah Putih di Puncak Tembesi yang digagas Orplas dan berkolaborasi dengan Pemuda Rinjani Selatan serta Balai TNGR.
Sebelum pendakian, digelar ritual Sembeq Buraq pada Minggu, 16 Agustus 2026, di Gerbang Pendakian Jalur Selatan, Desa Timbanuh. Prosesi diawali doa tolak bala, dilanjutkan ritual oleh tetua adat yang didampingi kiai, kemudian pengalungan kain bermotif Sukurdi sebagai penanda budaya.

Sedangkan Wakil Bupati Lombok Timur mengapresiasi inisiatif Orplas dan Pemuda Rinjani Selatan yang memadukan semangat nasionalisme, pelestarian alam dan penguatan budaya lokal.
Menurutnya, pengibaran Merah Putih di Puncak Tembesi menjadi simbol kecintaan terhadap Indonesia, sementara Sembeq Buraq dan motif Sukurdi menunjukkan bahwa semangat kebangsaan dapat berjalan bersama penghormatan terhadap budaya dan alam.
“Ini merupakan bentuk kerja sama pemuda yang inovatif untuk memajukan tanah kelahirannya, dimulai dari akar rumput,” ujarnya pada Senin (17/8/2026).
Kepala Balai TNGR, memberikan apresiasi atas konsistensi Orplas dan Pemuda Rinjani Selatan dalam mengembangkan Jalur Selatan. Ia menekankan pentingnya komitmen bersama untuk menjaga alam, melestarikan budaya dan menghadirkan manfaat pariwisata bagi masyarakat.
Ia juga merespons positif gagasan menjadikan Sembeq Buraq dan motif Sukurdi sebagai ikon pendakian Jalur Selatan Gunung Rinjani.
Sementara itu, Ketua Pemuda Rinjani Selatan Amrul Arahap mengatakan kemajuan pariwisata harus menempatkan masyarakat sebagai bagian utama.
“Kami ingin memperkenalkan tanah kelahiran kepada dunia tanpa mengubah identitasnya. Sembeq Buraq dan motif Sukurdi akan terus kami perjuangkan menjadi ciri khas dan keunikan pendakian Jalur Selatan.” katanya.
Menurut Amrul, Sembeq Buraq mengandung pesan adat tentang menjaga alam, tindak tutur dan perilaku selama mendaki. Adapun motif Sukurdi merupakan representasi identitas budaya masyarakat di lingkar selatan yang berpotensi dikembangkan sebagai cenderamata, penanda pendakian sekaligus produk pemberdayaan masyarakat. (cit)






