kicknews.today – Permainan tradisional gasing kembali menggeliat di Kabupaten Lombok Utara (KLU). Turnamen Gasing Kebudayaan Cup 1 resmi dibuka di Lapangan Umum Kecamatan Gangga, Desa Gondang, Jumat (04/07/2026), sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-18 Kabupaten Lombok Utara dan HUT ke-81 Republik Indonesia.
Turnamen yang berlangsung hingga 15 Juli 2026 itu menjadi salah satu upaya pemerintah daerah dalam menjaga eksistensi permainan tradisional sekaligus mendorong lahirnya generasi muda yang mencintai budaya lokal.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Lombok Utara, Raden Sawinggih mengatakan gasing merupakan salah satu objek pemajuan kebudayaan yang hingga kini masih memiliki banyak penggemar, terutama di Kecamatan Gangga.
Menurutnya, tingginya antusiasme masyarakat menjadi alasan pemerintah menghadirkan turnamen tersebut sebagai wadah pelestarian sekaligus ruang kompetisi bagi para pegasing.
“Kalau pelaksanaan tahun pertama ini berjalan sukses, kami akan mengupayakan agar Gasing Cup menjadi agenda tahunan yang masuk dalam rangkaian Bulan Kebudayaan Daerah mulai tahun depan,” ujar Raden, Senin (06/07/2026).
Dia menjelaskan, Bulan Kebudayaan Daerah 2026 merupakan pengembangan dari Pekan Kebudayaan Daerah yang selama ini rutin diselenggarakan Pemerintah Kabupaten Lombok Utara. Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, seluruh kegiatan kini disebar ke lima kecamatan agar masyarakat dapat lebih dekat dengan kekayaan budaya yang dimiliki daerahnya masing-masing.
Rangkaian kegiatan tersebut meliputi Festival Sate Tanjung di Kecamatan Tanjung, Lomba Karaoke Lagu Sasak Dayan Gunung di Kecamatan Pemenang, Turnamen Gasing Kebudayaan Cup 1 di Kecamatan Gangga, Pentas Seni Budaya di Kecamatan Kayangan, serta Perang Bintang Peresean di Kecamatan Bayan.
Melalui konsep tersebut, pemerintah ingin memberi ruang bagi setiap kecamatan untuk menampilkan identitas budaya khas yang dimilikinya.
“Dengan model penyebaran ini, kami ingin memastikan setiap kecamatan punya ruang untuk menunjukkan identitas budayanya. Gasing di Gangga, sate di Tanjung, peresean di Bayan. Semua menjadi satu paket Gumi Tioq Tata Tunaq,” tutupnya. (gii/*)




