Belajar mandiri dari remaja perempuan Bayan, 1 kain diupah Rp200 ribu

kicknews.today- Bayan merupakan salah satu desa wisata di Pulau Lombok. Letaknya berada persis di lereng utara Gunung Rinjani.

Desa Bayan juga dikenal sebagai desa adat, 1 dari 9 desa di Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara. Salah satu buktinya, terdapat masjid kuno yang hingga kini masih terjaga dan ramai dikunjungi wisatawan.

Secara administratif, Desa Bayan dihuni lebih dari 5 ribu jiwa. Sebagian besar masyarakat adalah petani. Ada pula yang kerja kantoran dan guru.

Salah satu desa tertua di NTB ini letaknya cukup jauh dari Mataram, Ibu Kota NTB. Jika berkunjung ke desa ini, jarak tempuh kendaraan lebih kurang 2 jam.

Musibah Gempa Lombok 2018 hingga kini masih membekas di Desa Bayan. Jalan retak, rumah ambruk masih jelas terlihat di tengah perkampungan desa ini.

Meski demikian, Desa Bayan tetap ramai dikunjungi wisatawan. Betapa tidak, selain kelestarian hutan juga aliran sungai masih terjaga dengan baik.

Desa Bayan, memiliki keterikatan hukum adat yang sangat kuat dalam mengatur tatanan kehidupan sosial masyarakat. Masyarakat dilarang mengambil, menebang, menangkap satwa dan membakar pohon di kawasan hutan adat. Aturan tersebut hingga kini masih diterapkan pada generasi muda, agar tidak tergerus budaya modern.

Yang tidak kalah menarik, anak-anak Desa Bayan dilatih untuk hidup mandiri dengan nilai-nilai lokal dalam desa. Seperti dua gadis remaja adik kakak, Rini dan Leli.

Dua remaja yang masih duduk di bangku SMA ini adalah perajin kain tenun khas Bayan. Mereka dipekerjakan di salah satu pusat souvenir khas Bayan yang berada persis di depan pintu masuk masjid kuno.

“Kita kerja setiap hari usai pulang sekolah sampai sore. Kalau hari libur kerjanya bisa lebih awal,” ujar Rini ditemui kicknews.today beberapa hari lalu.

Rini dan Lely digaji berdasarkan jumlah kain yang dibuat. Hitungannya, satu kain dibayar Rp200 ribu. Sementara untuk membuat satu kain mereka bisa menghabiskan waktu 2 Minggu.

“Kalau rutin bisa lebih cepat. Karena kami kerja tidak seharian penuh. Kadang sampai 2 jam, sudah istirahat,” katanya.

Sebagai perajin kain tenun kata dia, tidak mudah. Harus teliti dan konsentrasi penuh. Belum lagi untuk kain bermotif.

“Awalnya memang sulit. Kalau sudah terbiasa, mudah. Tingkat kesulitannya tergantung motif,”  katanya.

Rini mengaku, belajar menenun sejak usia sekolah dasar. Belajarnya dari orang tua. Sebab, menenun sudah jadi turun temurun.

“Rata-rata anak-anak perempuan di Bayan bisa menenun, biar bisa mandiri. Memang diajarkan sejak kecil,” akunya. Selain kain tenun, di tempat kerjanya juga menjual berbagai macam souvenir khas bayan lain. Seperti selempang, tas pinggang, sapuk, songket dan lain-lain. (jr)

Facebook
Twitter
WhatsApp
Email

Kontributor →

Kontributor kicknews

Artikel Terkait

HUT KLU11

OPINI