Wabah PMK, penjualan daging di Lombok anjlok

kicknews.today- Merebaknya wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) terhadap ternak di sejumlah daerah di Lombok mempengaruhi penjualan daging. Salah satunya di Pasar Sakra, Kecamatan Sakra, Kabupaten Lombok Timur.

Semenjak, munculnya virus PMK, omzet pedagang daging turun drastis. Bahkan penurunannya mencapai 400 persen.

“Biasanya sehari kami bisa dapat Rp 5 sampai Rp 7 per hari. Sekarang cuma Rp 1 sampai Rp 1,5 juta per hari,” keluh Maulida pedagang di  Pasar Sakra saat ditemui, Jum’at (27/5).

Selain itu, wabah PMK juga mempengaruhi harga daging di pasar. Dari Rp135 ribu per kilogram turun menjadi Rp120 per kilogram.

“Kami juga tidak berani pasang harga tinggi, takut tidak ada pembeli,” akunya.

Pembeli daging mulai berkurang kata dia, semenjak informasi PMK disiarkan di televisi. Banyak, pembeli yang was-was karena takut tertular.

“Apalagi wabah itu sudah masuk Lombok, penjualan daging langsung turun drastis,” katanya.

Maulida juga tidak berani menjual daging terlalu banyak, mengingat minimnya pembeli.  Sehari biasanya dipotong satu ekor sapi, kini 2 ekor seminggu.

“Kebetulan kami punya tempat potong sendiri di rumah. Bukan diambil dari tempat lain,” katanya.

Yang jelas kata dia, sapi yang dipotong harus sehat. Tidak ada tanda-tanda yang menyerupai gejala PMK, seperti keluar lendir di hidung dan mulut, lesu, luka di antara dua kuku dan lain-lain.

“Intinya, sapi yang sehat,” akunya.

Sementara seorang pengunjung Pasar Sakra, Purnawati mengaku, untuk sementara berhenti mengkonsumsi daging. Dia khawatir daging yang ia beli sudah terjangkit virus PMK.

“Takut saja. Takut virusnya menular ke saya,” ujar Purnawati.

Untuk diketahui, virus PMK di NTB pertama ditemukan di Lombok Tengah, kemudian merebak ke Lombok Timur.

Kepala Disa Pertanian dan Peternakan Lombok Tengah, Lalu Taufikurrahman mengatakan, virus ini memiliki gejala seperti hilang nafsu makan, lesu, drop, suhu tubuh 37 sampai 41 derajat, cairan di hidung dan mulut dan luka di antara kuku.

PMK memiliki resiko kematian hanya 3 persen dan tidak menular ke manusia. Efeknya, virus ini bisa menurunkan produktivitas ternak. Seperti berat badan hingga produksi susu, khusus sapi perah. (fen)

Facebook
Twitter
WhatsApp
Email

Kontributor →

Kontributor kicknews

Artikel Terkait

OPINI