kicknews.today – Cerita mengenai selaq atau tuselaq masih hidup dalam ingatan sebagian masyarakat Sasak di Lombok. Sosok ini hadir dalam percakapan keluarga, cerita kampung, sastra lisan hingga sejumlah penelitian mengenai kepercayaan masyarakat Sasak.
Selaq tidak selalu digambarkan sebagai hantu. Dalam sejumlah literatur, selaq justru dipahami sebagai manusia yang dipercaya menguasai ilmu tertentu sehingga dapat berubah wujud, terbang atau mencelakai orang lain.

Antropolog Kari G. Telle dalam penelitian berjudul The Smell of Death: Theft, Disgust and Ritual Practice in Central Lombok, Indonesia mencatat bahwa masyarakat Sasak memiliki istilah berbeda untuk ilmu selaq dan ilmu seher. Meski demikian, pembicaraan mengenai keduanya dapat saling berkaitan dalam kehidupan masyarakat.
Ilmu selaq ditempatkan dalam kepercayaan mengenai manusia yang mempunyai kemampuan gaib, sedangkan ilmu seher lebih berkaitan dengan penggunaan kekuatan untuk mencelakai orang lain.
Catatan tersebut menunjukkan bahwa selaq tidak hanya hadir sebagai sosok menakutkan dalam cerita malam. Cerita tentangnya juga menjadi salah satu cara masyarakat pada masa lalu menjelaskan penyakit, kematian, pencurian, konflik dan peristiwa lain yang sulit diterangkan.
Mary Poo-Mooi Judd dalam disertasi The Sociology of Rural Poverty in Lombok, Indonesia di University of California, Berkeley pada 1980 turut mencatat selaq dalam kehidupan masyarakat Lombok. Dalam sejumlah tulisan yang merujuk karya tersebut, selaq digambarkan sebagai manusia yang dipercaya menguasai ilmu hitam dan dapat berubah menyerupai hewan.
Gambaran tersebut merupakan dokumentasi mengenai kepercayaan masyarakat. Tidak terdapat bukti ilmiah bahwa manusia dapat mengubah tubuhnya menjadi hewan melalui ilmu maupun ritual tertentu.
Istilah tuselaq juga ditemukan dalam Kamus Sasak–Indonesia yang diterbitkan Kantor Bahasa Nusa Tenggara Barat. Salah satu contoh penggunaannya menyandingkan kata tuselaq dengan “leak”. Kamus tersebut menunjukkan bahwa istilah tuselaq memang digunakan dalam bahasa Sasak, tetapi tidak memberikan penjelasan mengenai asal katanya.
Salah satu versi menghubungkan istilah selaq dengan kata salaq yang dalam bahasa Sasak berarti salah. Penjelasan ini terdapat dalam tugas akhir Rezza Aditya berjudul Perancangan Informasi Selaq melalui Media Augmented Reality pada Program Studi Desain Komunikasi Visual Universitas Komputer Indonesia tahun 2020.
Dalam versi tersebut, ilmu selaq dianggap salaq atau salah karena dikaitkan dengan perbuatan syirik serta permintaan bantuan kepada jin dan setan. Namun, penjelasan itu belum diperkuat kajian linguistik sehingga tidak dapat dinyatakan sebagai satu-satunya asal-usul kata selaq.
Rezza menghimpun sejumlah literatur dan mewawancarai Al-Ghozali M, warga Lombok Timur yang disebut mempelajari metafisika. Keterangan Al-Ghozali merupakan penuturan seorang informan dan tidak dapat dianggap mewakili seluruh masyarakat Sasak.
Dalam penuturan yang dihimpun Rezza, selaq dipercaya lebih sering beraktivitas pada malam hari. Sosok itu digambarkan dapat terbang dengan tubuh menghadap ke langit, menggerakkan tangan ke belakang atau duduk bersila.
Cerita lainnya menggambarkan selaq dapat berubah menyerupai anjing atau babi. Ada bagian tubuh tertentu yang dipercaya tidak dapat berubah sempurna sehingga menjadi penanda untuk mengenalinya.
Kemampuan tersebut konon dapat diperoleh dengan berguru, melalui keturunan atau hubungan keluarga. Beberapa cerita juga lebih sering melekatkan sosok selaq kepada perempuan.

Gambaran itu merupakan bagian dari tradisi lisan dan tidak boleh digunakan untuk menuduh perempuan maupun keluarga tertentu memiliki ilmu hitam. Tuduhan tanpa bukti dapat menimbulkan stigma, pengucilan dan tindakan kekerasan.
Antropolog Bianca J. Smith dalam artikel Re-orienting Female Spiritual Power in Islam: Narrating Conflict between Warriors, Witches and Militias in Lombok menelaah hubungan antara cerita tentang perempuan, kekuatan spiritual, penyihir, laki-laki berilmu dan konflik di Lombok.
Kajian tersebut memperlihatkan bahwa cerita mengenai kekuatan spiritual perempuan juga berkaitan dengan persoalan gender, kewibawaan dan otoritas keagamaan di tengah masyarakat.
Mengenai jenisnya, beberapa penelitian dan penuturan memberikan pembagian berbeda. Ahmad Afandi dalam tulisan Kepercayaan Animisme-Dinamisme serta Adaptasi Kebudayaan Hindu-Budha dengan Kebudayaan Asli di Pulau Lombok-NTB membaginya menjadi Selaq Beleq dan Selaq Bunge.
“Sela’ sebenarnya bukanlah makhluk halus, melainkan manusia biasa,” tulis Afandi ketika menjelaskan gambaran selaq dalam kepercayaan tradisional masyarakat Lombok.
Dalam cerita yang didokumentasikannya, seseorang dipercaya menjadi selaq karena mempunyai ilmu sejenis sihir. Ilmu tersebut konon dapat diperoleh dengan berguru, diwariskan melalui keturunan atau melalui perkawinan.
Selaq Beleq digambarkan memiliki kekuatan lebih besar untuk menghadapi lawan. Dalam cerita yang dihimpun Afandi, jenis ini dikaitkan dengan bangkai dan kotoran serta dipercaya berkumpul pada malam hari dalam pertemuan yang disebut sangkep.
Sementara Selaq Bunge digambarkan hidup di angkasa dan mencari lawan pada malam hari. Berbeda dengan Selaq Beleq, jenis ini dipercaya tidak memakan sesuatu yang kotor.
Pembagian serupa ditemukan dalam kajian Umi Hanik. Dalam kajian tersebut, selaq dibedakan dari makhluk halus seperti bebodo’, bake’ dan bebai karena selaq dipercaya sebagai manusia yang menguasai ilmu sihir.
Sementara sumber yang dikutip dalam laporan Rezza menyebut pembagian lebih banyak, yakni Selaq Bonga, Selaq Bangke, Selaq Mopol, Selaq Beruang dan Selaq Ate.
Selaq Bonga atau Selaq Kapas digambarkan sering berkelahi dengan sesama selaq. Selaq Bangke dipercaya mencari bangkai dan meminum air bekas memandikan jenazah.
Selaq Mopol digambarkan hanya berbentuk kepala dengan organ tubuh menjuntai. Dalam cerita masyarakat, sosok ini dikaitkan dengan gangguan terhadap anak-anak.
Selaq Beruang dipercaya dapat mengirimkan penyakit melalui ilmu santet. Sementara Selaq Ate digambarkan mudah tersinggung dan membalas orang yang dianggap berbuat salah kepadanya.
Perbedaan pembagian tersebut memperlihatkan bahwa cerita mengenai selaq tidak tunggal. Nama, bentuk, kemampuan dan kebiasaannya dapat berbeda mengikuti wilayah, penutur dan generasi yang mewariskan ceritanya.
Karena itu, jenis-jenis tersebut tidak dapat diperlakukan sebagai klasifikasi ilmiah maupun dianggap mewakili seluruh kepercayaan masyarakat Sasak di Lombok.
Cerita mengenai selaq juga melahirkan berbagai cara penangkalan. Laporan Rezza mencatat kepercayaan terhadap penggunaan bungkusan berisi jahe, bawang putih, merica berlubang dan peniti.
Ranting kelor dan kayu sulaiman juga muncul dalam sejumlah penuturan sebagai benda yang dipercaya dapat menangkal selaq. Sebagian masyarakat menghubungkan perlindungan dengan pembacaan doa atau ayat Al-Qur’an.
Cara-cara tersebut merupakan bagian dari kepercayaan tradisional dan tidak memiliki pembuktian ilmiah. Doa merupakan bagian dari keyakinan pribadi, sedangkan benda tertentu tidak dapat dipastikan mempunyai kemampuan menangkal gangguan gaib.
Masyarakat tidak dibenarkan mendatangi, melempari atau mengganggu rumah orang yang dicurigai sebagai selaq. Tuduhan berdasarkan mimpi, penampakan, penyakit, perilaku tidak biasa maupun kabar dari mulut ke mulut tidak dapat dijadikan alasan untuk mengambil tindakan sendiri.
Hal yang sama berlaku terhadap hewan yang dicurigai sebagai jelmaan manusia. Hewan yang masuk ke permukiman tidak boleh disiksa atau dibunuh hanya karena dikaitkan dengan cerita selaq.
Apabila menemukan seseorang atau hewan dalam keadaan membahayakan, masyarakat sebaiknya menjaga jarak dan menghubungi aparat maupun instansi terkait sesuai kondisi yang dihadapi.
Penelitian Lalu Fakihuddin mengenai hubungan kebudayaan Sasak dan Islam menunjukkan bahwa mitos, cerita rakyat dan hikayat menjadi ruang pertemuan antara kebudayaan setempat dan nilai-nilai keislaman.
“Kebudayaan Sasak, khususnya folklor, sulit dipisahkan dari Islam,” tulis Fakihuddin dalam penelitiannya.
Menurutnya, hubungan tersebut terlihat dari berbagai mitos, cerita rakyat dan hikayat Sasak yang menjadi sarana penyampaian nilai keagamaan.
Dari sudut pandang folklor, cerita rakyat tidak harus dipahami sebagai laporan mengenai kejadian yang benar-benar berlangsung. Cerita dapat menyimpan nilai, ketakutan, larangan, konflik dan cara masyarakat memahami dunia di sekelilingnya.
“Terlepas dari keberadaannya, antara mitos dan realitas, Selaq adalah salah satu wujud kepercayaan yang menjadi bagian dari kekayaan cerita rakyat,” tulis Rezza.
Cerita selaq pada akhirnya bukan hanya mengenai manusia yang dipercaya dapat terbang atau berubah menjadi hewan. Di dalamnya tersimpan gambaran tentang ketakutan sosial, batas antara perbuatan baik dan buruk, pertarungan kekuasaan serta usaha masyarakat menjelaskan sesuatu yang belum mereka pahami.
Mendokumentasikan selaq penting untuk menjaga kekayaan sastra lisan Lombok. Namun, cerita tersebut harus ditempatkan sebagai folklor dan kepercayaan masyarakat, bukan sebagai dasar untuk menuduh, menghakimi atau menyakiti orang maupun hewan. (red.)






