kicknews.today – Membeludaknya keluarga pengantar jemaah haji di sekitar Asrama Haji Embarkasi Lombok membawa berkah tersendiri bagi warga setempat. Melihat banyaknya kerabat jemaah yang menginap di lahan terbuka, warga berinisiatif menyediakan fasilitas toilet umum dan musala darurat yang kini menjadi ladang bisnis menjanjikan.
Tak main-main, inisiatif ini mampu menghasilkan omzet yang cukup fantastis, yakni mencapai lebih dari Rp 5 juta per hari.

Situasi ini dipicu oleh terbatasnya fasilitas sanitasi bagi para pengantar yang memilih bertahan di sekitar asrama untuk melepas keberangkatan keluarga mereka. Warga pun menyediakan layanan toilet dengan tarif terjangkau, yakni Rp 2.000 per orang. Selain toilet, warga juga menyediakan musala untuk memastikan kenyamanan ibadah para pengantar.
“Selama musim haji, jumlah pengunjung meningkat pesat. Kami melihat ini sebagai kesempatan untuk membantu sesama sekaligus menciptakan peluang ekonomi bagi warga sekitar,” ungkap salah seorang warga, Nurmah, Selasa (28/04/2026).
Nurmah menyebutkan bahwa tren keluarga pengantar yang menginap terus bertambah dari tahun ke tahun. Hal ini berbanding lurus dengan pendapatan yang ia terima. Terutama pada keberangkatan kloter-kloter awal, jumlah pengantar biasanya jauh lebih ramai.
“Bisa dapat lebih dari 5 juta sehari. Biasanya di kloter pertama itu sangat ramai. Periode musim haji tahun ini kan baru berjalan enam hari,” tambah Nurmah.
Meski dibangun di atas lahan kosong, fasilitas toilet tersebut tetap mengedepankan kebersihan yang dijaga secara rutin agar pengunjung merasa nyaman. Keberadaan toilet ini menjadi solusi krusial bagi keluarga jemaah yang kerap kesulitan mencari akses air bersih saat menginap di area tersebut.
Inisiatif kreatif ini tidak hanya memberikan penghasilan tambahan bagi warga, tetapi juga membantu pemerintah dalam menyediakan pelayanan dasar bagi masyarakat luas. Kreativitas warga dalam menyikapi situasi ini menunjukkan kepedulian sosial yang berdampak pada kemudahan bersama.
Layanan ini pun mendapat apresiasi positif dari para pengantar jemaah yang merasa sangat terbantu. Mereka berharap fasilitas serupa tetap tersedia atau bahkan ditingkatkan kualitasnya, mengingat tradisi mengantar jemaah haji dengan jumlah massa yang besar sudah menjadi bagian dari kultur masyarakat di Lombok. (wii/*)


