kicknews.today – Penemuan perangkat pemantau bawah laut buatan China di Selat Lombok mulai memunculkan kekhawatiran di Australia. Benda berbentuk seperti torpedo dengan panjang 3,7 meter itu ditemukan seorang nelayan di utara Gili Trawangan, lalu dibawa TNI AL ke pangkalan Angkatan Laut di Mataram untuk diperiksa lebih lanjut.
Dalam artikel yang diterbitkan Australian Broadcasting Corporation (ABC) News, Jumat (17/4/2026) mengatakan, alat itu diidentifikasi oleh analis pertahanan maritim HI Sutton sebagai sistem tambat laut dalam untuk pengiriman data secara langsung. Sistem ini dikembangkan oleh Lembaga Riset 710 China. Perangkat tersebut dirancang untuk dipasang tetap di dasar laut dengan bantuan jangkar, lalu mengirimkan data ke pihak pengoperasinya melalui pelampung komunikasi yang muncul di permukaan laut.

Menurut analisis Sutton, alat itu dilengkapi sensor untuk memantau suhu air, kedalaman, arus laut, serta suara dan objek tertentu di bawah laut. Ia menilai temuan alat sensor China di kawasan ini dapat menjadi perhatian bagi otoritas Indonesia karena berpotensi memiliki fungsi militer. Menurutnya, keberadaan alat seperti ini bisa menunjukkan kemungkinan adanya jaringan sensor yang memberikan informasi langsung tentang kondisi bawah laut di jalur strategis, yang dapat membantu pergerakan kapal selam.
Kekhawatiran juga datang dari Australia. Analis senior Australian Strategic Policy Institute (ASPI), Malcolm Davis, menilai China memahami pentingnya kondisi geografis laut di wilayah kepulauan Indonesia untuk kepentingan perang bawah laut dalam kemungkinan konflik di masa depan. Ia menduga alat tersebut kemungkinan ditempatkan oleh kapal atau kapal selam China di titik tertentu untuk memantau aktivitas kapal selam yang melintas di selat itu.
Ia menyebut tujuan dari pemasangan alat itu diduga agar China dapat melacak kapal selam, sehingga jika terjadi perang mereka akan berada pada posisi yang lebih siap untuk menyerang.
Selat Lombok sendiri disebut memiliki arti ekonomi dan militer yang sangat penting. Jalur ini menghubungkan Samudra Hindia dan Samudra Pasifik, memiliki kedalaman minimum 250 meter dan lebar tersempit 18 kilometer. Karena itu, selat ini menjadi jalur penting bagi kapal-kapal besar yang tidak bisa melewati Selat Malaka. ABC juga menjelaskan bahwa Selat Lombok dapat menjadi jalur alternatif jika Selat Malaka sewaktu-waktu terganggu.
Bagi Australia, arti strategis Selat Lombok jauh lebih sensitif. Pakar keamanan maritim dan urusan angkatan laut, Collin Koh, menyebut selat ini sebagai jalur penting bagi militer Australia maupun pasukan sekutunya yang berada di Australia untuk bergerak melewati Asia Tenggara menuju Laut China Selatan dan kawasan rawan seperti Taiwan. Karena itu, menurutnya, Selat Lombok memiliki arti strategis yang sangat penting bagi Australia.
Davis menilai penemuan alat tersebut cukup mengkhawatirkan dan menunjukkan adanya perilaku agresif dari China dalam mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan aktivitas militer di masa depan. Ia juga menilai Australia perlu mengetahui di mana alat-alat seperti ini berada, bagaimana menemukannya di dasar laut, dan bagaimana menanganinya setelah ditemukan.
Di sisi lain, pemerintah China membantah adanya hal yang patut dicurigai. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China mengatakan pihaknya tidak memiliki rincian khusus mengenai kasus itu. Namun, mereka menegaskan bahwa China selama ini melakukan penelitian ilmiah kelautan dan menggunakan peralatan terkait sesuai hukum internasional. China juga menyebut tidak aneh jika alat penelitian laut hanyut ke wilayah negara lain akibat kerusakan atau sebab lain, sehingga menurut mereka tidak perlu ada penafsiran berlebihan atau kecurigaan yang berlebihan.
Sementara itu, pihak Indonesia masih bersikap hati-hati. Juru bicara TNI AL, Laksamana Muda Tunggul, mengatakan Angkatan Laut akan melakukan pemeriksaan mendalam untuk mengidentifikasi alat tersebut, termasuk asal, tujuan, dan data yang tersimpan di dalamnya. Kepala Biro Informasi Kementerian Pertahanan, Brigjen Rico Sirait, juga menegaskan bahwa pemerintah belum ingin menarik kesimpulan terlalu cepat atau berspekulasi sebelum hasil resmi keluar.
Penemuan perangkat ini tidak lagi sekadar dipandang sebagai temuan benda asing di laut, tetapi mulai dibaca sebagai persoalan strategis oleh Australia. Apalagi, alat itu ditemukan di Selat Lombok, salah satu jalur laut paling penting di kawasan bagi kepentingan keamanan dan pergerakan militer regional. (red.)


