kicknews.today – Ekowisata Kerujuk di Kabupaten Lombok Utara (KLU) masih menjadi salah satu tujuan wisata yang diminati pengunjung lokal. Namun, pengembangan destinasi tersebut masih menghadapi sejumlah kendala, terutama terkait status lahan dan keterbatasan akses jalan menuju sejumlah titik wisata.
Sekretaris Dinas Pariwisata (Dispar) KLU, Fadly mengatakan, kunjungan wisatawan ke Ekowisata Kerujuk masih berlangsung. Selain wisatawan lokal, kawasan tersebut juga mulai dikunjungi wisatawan mancanegara yang menginap di sejumlah homestay milik pribadi.
“Untuk saat ini ada sekitar tiga hingga empat penginapan atau homestay yang dikelola secara pribadi di kawasan itu. Keberadaan penginapan ini jadi salah satu indikasi bahwa aktivitas pariwisata disana (Kerujuk.red) masih berjalan,” jelas Fadly, Jumat (23/10/2026).
Meski demikian, pengembangan fasilitas dan penataan kawasan belum dapat dilakukan secara optimal karena terkendala status kepemilikan lahan. Sejumlah area yang berpotensi dikembangkan, termasuk lokasi pembangunan lapak bagi pelaku usaha, berada di atas lahan milik masyarakat.
Fadly menyebutkan, berdasarkan informasi dari Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), terdapat kemungkinan perjanjian pinjam pakai lahan dengan jangka waktu hingga 30 tahun. Namun, dokumen perjanjian tersebut masih perlu dipastikan keberadaannya agar pemerintah dapat menentukan langkah pengembangan selanjutnya.
“Kalau memang ada perjanjian pinjam pakai itu, tentu bisa menjadi dasar untuk melakukan penataan di sana,” ujarnya.
Selain persoalan lahan, keterbatasan akses menuju titik-titik wisata, khususnya air terjun kecil di kawasan Kerujuk, juga menjadi perhatian. Saat ini, akses menuju lokasi tersebut masih melewati kebun dan lahan milik masyarakat sehingga penataannya membutuhkan koordinasi dengan pemilik lahan maupun pemerintah desa.
Dispar KLU berencana berkoordinasi dengan Pokdarwis, kelompok masyarakat, dan pemerintah desa untuk mencari solusi terkait penyediaan akses jalan setapak. Salah satu opsi yang dapat dibahas ialah pemanfaatan sebagian lahan masyarakat melalui skema pinjam pakai atau hibah, sehingga akses jalan dapat diperbaiki dan ditata dengan lebih baik.
Menurut Fadly, keberadaan akses yang memadai menjadi salah satu faktor penting untuk meningkatkan daya tarik Kerujuk. Dengan penataan yang lebih baik, potensi wisata alam di kawasan tersebut diharapkan dapat dipromosikan secara lebih luas dan menarik lebih banyak kunjungan wisatawan.
Di sisi lain, pengembangan Ekowisata Kerujuk tidak hanya berorientasi pada peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD), tetapi juga diharapkan mampu memberikan manfaat ekonomi secara langsung kepada masyarakat sekitar.
Aktivitas wisata yang berjalan dapat membuka peluang usaha bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), mulai dari penyediaan makanan dan minuman hingga berbagai kebutuhan wisatawan lainnya.
Fadly mengakui, aktivitas ekonomi masyarakat melalui sektor pariwisata masih berjalan, meskipun tingkat keramaiannya belum kembali seperti sebelum gempa bumi.
Karena itu, pembenahan akses, kepastian pemanfaatan lahan, serta kolaborasi antara pemerintah desa, Pokdarwis, dan masyarakat dinilai penting untuk mendorong pengembangan Ekowisata Kerujuk secara berkelanjutan.
“Saya rasa dengan dukungan penataan yang tepat, Kerujuk kita harap tidak hanya menjadi tujuan wisata lokal, tetapi juga mampu berkembang menjadi destinasi wisata alam yang menarik lebih banyak pengunjung sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat,” tutupnya. (gii/*)


