kicknews.today – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Nusa Tenggara Barat (NTB) terus mendorong pengembangan desa wisata sebagai strategi utama dalam meningkatkan kontribusi sektor pariwisata terhadap perekonomian daerah. Kepala Dinas Pariwisata NTB, Lalu Ahmad Aulia menegaskan bahwa desa wisata diharapkan mampu menjadi pemicu (trigger) pertumbuhan lintas sektor di tingkat lokal.
Menurut Aulia, pengembangan desa wisata tidak lagi sekadar program sektoral, melainkan diarahkan untuk memberikan dampak nyata bagi masyarakat. “Fokus kita bagaimana pariwisata ini bisa memberikan kontribusi bagi daerah. Desa wisata menjadi salah satu instrumen penting karena mampu menggerakkan berbagai sektor ekonomi,” ujarnya, Rabu (06/05/2026).

Dia menjelaskan, pada tahap awal, pengembangan desa wisata di NTB dimulai dengan penetapan 99 desa wisata. Namun, seiring waktu, jumlah tersebut terus berkembang. Saat ini, hampir 300 desa di NTB telah mendeklarasikan diri sebagai desa wisata, sejalan dengan program pemerintah pusat melalui Kementerian Pariwisata dan Kementerian Desa.
Pendekatan yang digunakan dalam pengembangan desa wisata kini lebih menekankan konsep bottom-up, yakni berbasis pada potensi dan inisiatif masing-masing desa. Pemerintah daerah, lanjut Aulia, berperan sebagai pendamping untuk memastikan desa-desa tersebut memenuhi komponen utama sebuah destinasi wisata.
“Pemerintah provinsi hadir untuk mengawal, mulai dari penguatan kelembagaan, peningkatan sumber daya manusia, hingga strategi pemasaran desa wisata itu sendiri,” katanya.
Selain desa wisata, Pemprov NTB juga fokus memperkuat kawasan unggulan yang telah ada serta mengangkat potensi destinasi tersembunyi (hidden gems) guna memperkaya pilihan bagi wisatawan. Konsep desa wisata juga diintegrasikan dengan program desa berdaya, sehingga memberikan nilai tambah bagi pembangunan berbasis masyarakat.
Dari sisi target, Aulia menekankan bahwa tujuan akhir pengembangan pariwisata adalah peningkatan kontribusi terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Dia menyebut konsep pariwisata berkualitas (quality tourism) menjadi arah utama, dengan mendorong wisatawan yang memiliki tingkat belanja lebih tinggi tanpa mengabaikan jumlah kunjungan.
“Quality tourism tidak berarti meninggalkan kuantitas. Keduanya harus berjalan beriringan,” tegasnya.
Meski demikian, tantangan masih dihadapi, terutama terkait rata-rata lama tinggal wisatawan (length of stay) yang dinilai masih rendah. Pemerintah daerah terus berupaya meningkatkan durasi kunjungan dengan memperbanyak atraksi dan aktivitas wisata di berbagai destinasi.
Aulia juga menyoroti fenomena kunjungan wisatawan yang belum sepenuhnya berdampak pada ekonomi lokal, seperti wisatawan kapal pesiar yang menginap di kapal atau kunjungan harian tanpa bermalam. “Ke depan, kita akan dorong agar wisatawan tersebut dapat menginap di daratan sehingga memberikan efek ekonomi yang lebih besar,” ujarnya.
Terkait tren kunjungan wisatawan yang sempat menurun di awal tahun, Aulia menilai hal tersebut dipengaruhi faktor musiman atau low season. Dia optimistis angka kunjungan akan meningkat seiring berjalannya waktu.
Untuk pasar wisatawan mancanegara, NTB saat ini memfokuskan promosi pada tiga kawasan utama, yakni Australia, Asia, dan Oseania. Pemilihan ini didasarkan pada konektivitas penerbangan langsung serta tren kunjungan dan tingkat belanja wisatawan yang dinilai cukup tinggi.
“Meski fokus pada tiga kawasan, kita tetap membuka peluang dari negara lain. Ini hanya strategi berdasarkan kondisi global dan potensi pasar,” jelasnya.
Pada triwulan I tahun ini, NTB menargetkan kunjungan wisatawan mencapai 2,5 juta orang. “Kita optimistis target tersebut dapat tercapai dengan berbagai strategi penguatan destinasi, termasuk pengembangan desa wisata yang berkelanjutan,” tutupnya. (gii/*)


