Usung wastra berbasis edukasi, SMK 5 Mataram siap pameran di Turki

Beberapa Wisatawan saat melihat pameran Batik Sasambo karya Siswa/i SMKN 5 Mataram. (Foto. kicknews.today/Ist)

kicknews.today – SMK Negeri 5 Mataram terus memperluas promosi batik Sasambo (Sasak Samawa Mbojo) hingga ke pasar internasional. Sekolah kejuruan tersebut dijadwalkan mengikuti pameran di Turki sebagai bagian dari upaya memperkenalkan karya wastra lokal sekaligus mewakili Indonesia di kancah global.

Kepala SMK Negeri 5 Mataram, H. Istiqal mengungkapkan pihaknya telah lebih dulu mengirimkan sejumlah sampel batik ke negara tujuan sebagai langkah awal sebelum pameran berlangsung.

“Kami akan berpameran di Turki untuk mewakili Indonesia. Beberapa sampel sudah kami kirimkan sebelumnya,” ujarnya, Rabu (06/05/2026).

Menurutnya, keikutsertaan dalam pameran luar negeri bukan tanpa alasan. Dia menilai produk wastra seperti batik akan lebih dihargai jika disertai narasi kuat mengenai proses, filosofi, dan pembuatnya. “Di luar negeri, yang dihargai bukan hanya produknya, tetapi juga cerita di balik karya itu, termasuk siapa yang membuatnya,” katanya.

Istiqal menekankan, daya tarik utama batik Sasambo yang dipamerkan justru terletak pada keterlibatan siswa sebagai perajin muda. Karya-karya tersebut dinilai memiliki nilai orisinalitas tinggi karena merupakan ekspresi langsung dari para siswa yang masih dalam tahap belajar.

“Mereka tertarik karena ini karya artisan muda. Ada kebanggaan tersendiri bagi pembeli jika suatu saat pembuatnya menjadi seniman besar,” jelasnya.

Untuk saat ini, produk yang difokuskan dalam pameran internasional masih pada batik. Meski demikian, pihak sekolah berencana mengembangkan promosi ke produk lain seperti keramik. Istiqal menyebut, keramik karya siswa sebelumnya bahkan telah menarik minat pembeli dari Belgia yang datang langsung ke sekolah.

Dia juga menegaskan komitmen sekolah dalam mendukung visi pemerintah daerah melalui program “NTB Makmur Mendunia”. Dikatakan Istiqal, SMK Negeri 5 Mataram akan terus berperan aktif sebagai pendukung dalam memajukan produk lokal agar mampu bersaing di tingkat global.

Di pasar domestik, Istiqal mengakui terjadi penurunan pangsa pasar batik Sasambo. Namun, kondisi tersebut bukan dianggap sebagai kemunduran, melainkan indikator tumbuhnya industri baru dari lulusan dan pelaku usaha muda binaan sekolah.

“Banyak startup baru bermunculan, itu justru membanggakan dari sisi edukasi,” ujarnya.

Meski menghadapi persaingan, SMK Negeri 5 Mataram tetap mempertahankan kualitas produksi sebagai prioritas utama. Proses pembuatan batik dilakukan melalui tahapan yang lebih panjang dibandingkan produksi umum, sebagai bagian dari pembelajaran siswa. Bahkan, sekolah memberikan jaminan kualitas kepada konsumen jika terjadi kerusakan produk.

Lebih jauh, Istiqal menyebut pameran internasional tidak hanya bertujuan membuka pasar produk, tetapi juga menarik kunjungan wisata edukasi ke Mataram. Sejumlah pelajar dari Australia dan Amerika Serikat, kata dia, telah datang untuk belajar membatik, dan diharapkan tren tersebut terus berkembang ke negara lain seperti Jerman dan Turki.

Dalam pameran mendatang, batik Sasambo akan menampilkan beragam motif khas daerah, seperti Sate Rembiga, Mata Sae, hingga motif flora seperti kangkung. Hingga kini, promosi internasional batik Sasambo telah menjangkau Jepang, Jerman, dan Turki, dengan rencana ekspansi ke Belanda dan negara lainnya di masa depan.

Selain itu, kunjungan wisatawan mancanegara ke SMK Negeri 5 Mataram juga terus meningkat. Pengunjung dari berbagai negara seperti Belgia, Estonia, Belanda, Amerika Serikat, hingga India datang untuk melihat langsung proses pembuatan batik sekaligus menjalin kerja sama pelatihan.

“Kami di SMK Negeri 5 Mataram tidak hanya mempromosikan batik Sasambo sebagai produk budaya, tetapi juga sebagai simbol regenerasi artisan muda yang membawa warisan lokal menuju panggung dunia,” tutupnya. (gii/*)

Facebook
Twitter
WhatsApp
Email

Kontributor →

Kontributor kicknews

Artikel Terkait

OPINI