kicknews.today – Menjelang pelaksanaan praktik kerja industri (prakerin) bagi siswa kelas XI, SMKN 1 Tanjung, Kabupaten Lombok Utara (KLU) menyiapkan terobosan baru melalui program kelas industri. Program ini digagas sebagai upaya membekali siswa dengan pemahaman awal tentang budaya kerja sebelum terjun magang selama enam bulan di dunia usaha dan dunia industri (DUDI).
Kepala SMKN 1 Tanjung, Muh. Syarifuddin A.R menjelaskan bahwa kelas industri dirancang sebagai tahapan awal sebelum siswa menjalani praktik industri jangka panjang.

“Terutama untuk menyiapkan siswa kelas 11 yang akan praktik industri, salah satu terobosan yang ingin saya lakukan setelah puasa ini adalah program kelas industri. Sebelum anak-anak itu praktik, mereka sudah paham kerja. Saat prakerin, mereka tidak syok, karena sudah memiliki pengetahuan awal menyesuaikan diri dengan budaya kerja,” ujarnya, Rabu (03/04/2026).
Menurutnya, budaya kerja yang dimaksud meliputi kedisiplinan, kerapian, sopan santun, serta etos profesional yang menjadi standar di lingkungan industri.
Berbeda dengan praktik industri atau magang yang berlangsung hingga enam bulan, kelas industri hanya dilaksanakan selama satu hingga dua minggu. Dalam kurun waktu tersebut, siswa langsung terjun ke dunia industri untuk merasakan ritme dan sistem kerja secara nyata.
“Setelah itu, anak-anak kembali ke sekolah dan melakukan refleksi bersama guru. Apa yang mereka temukan di dunia kerja, itu dibahas. Sehingga konsep mereka tentang disiplin dan budaya kerja akan berubah setelah mengikuti kelas industri ini,” jelasnya.
Model ini diharapkan mampu membentuk pola pikir siswa lebih matang sebelum benar-benar memasuki masa prakerin.
Syarifuddin mengakui, pihak sekolah sebenarnya telah memiliki nota kesepahaman (MoU) dengan sejumlah DUDI, namun kerja sama tersebut selama ini terbatas pada program praktik industri enam bulan. Ke depan, MoU tersebut akan diperbarui agar mencakup pelaksanaan kelas industri.
“Kita ingin dunia industri juga menerima siswa untuk program kelas industri. Memang ada feedback yang harus kita berikan, itu yang membedakan dengan praktik kerja biasa. Tantangannya di situ, tapi kami tidak mundur,” tegasnya.
Dia menambahkan, sekolah tengah menyiapkan skema seleksi, termasuk kemungkinan mengirimkan 10 siswa terbaik untuk mengikuti program tersebut sebagai tahap awal.
Dari lima konsentrasi keahlian yang dimiliki sekolah, sektor pariwisata menjadi salah satu fokus utama pelaksanaan kelas industri. Salah satu kerja sama yang pernah terjalin adalah dengan industri perhotelan di kawasan Teluk Nare, khususnya pada bagian laundry.
Dalam praktik sebelumnya, biaya bahan praktik masih ditanggung pihak sekolah, berbeda dengan skema praktik industri reguler. Hal ini membuat anggaran kelas industri relatif lebih besar.
“Memang budget-nya lebih besar, karena bahan praktik ditanggung sekolah. Tapi nilai positifnya banyak. Anak-anak punya pengetahuan awal tentang dunia usaha dan industri, sehingga tidak kaget saat turun ke lapangan,” katanya.
Program kelas industri juga menjadi solusi atas keterbatasan alat praktik di sekolah. Syarifuddin menilai, sebagian SMK di NTB masih belum sepenuhnya mampu mengejar standar peralatan industri yang terus berkembang.
“Contohnya di perhotelan, kita mungkin sanggup beli setrika biasa, tapi industri sudah menggunakan setrika uap. Sekolah agak kewalahan, apalagi sumber dana utama hanya dari Dana BOS. Kami juga terbatas alatnya,” ungkapnya.
Saat ini, pihak sekolah tengah berupaya melakukan pembaruan alat praktik, meski kebutuhan anggaran terbilang cukup besar. (gii/*)


