kicknews.today – Pemerintah Kabupaten Lombok Utara (KLU) terus berupaya mengejar target investasi sebagaimana tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). Pada 2026, pemerintah pusat menargetkan realisasi investasi di daerah ini sebesar Rp 1,8 triliun. Sementara dalam dokumen RPJMD Kabupaten Lombok Utara, target investasi masih berada di kisaran Rp 1,2 hingga Rp 1,3 triliun.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu serta Tenaga Kerja (DPMPTSP-Naker) KLU, Evi Winarni menjelaskan bahwa terdapat selisih antara target nasional yang diturunkan ke provinsi dengan target yang telah ditetapkan dalam RPJMD daerah.

“Kalau di 2026 sekarang ini untuk di provinsi kita ditarget Rp1,8 triliun. Sementara di RPJMD kita masih di angka Rp1,2 sampai Rp1,3 triliun,” ujarnya, Selasa (24/02/2026).
Menurut Evi, sektor pariwisata masih menjadi tumpuan utama untuk mengejar target tersebut. Kawasan Tiga Gili (Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air) dinilai memiliki potensi besar dalam mendongkrak nilai investasi. Namun, hingga kini terdapat kendala administratif yang cukup signifikan.
Dia mengungkapkan, pencatatan realisasi investasi melalui Laporan Kegiatan Penanaman Modal (LKPM) mensyaratkan Nomor Induk Berusaha (NIB) sebagai dasar pelaporan. Sementara itu, banyak pelaku usaha di kawasan tiga Gili belum mengantongi NIB.
“Kendalanya ada di status kawasan. Berdasarkan PP 28, sekarang yang harus diproses terlebih dahulu adalah KKPR, baru kemudian NIB. Sementara KKPR atau PKKPR di tiga Gili masih terkendala, karena di sana tidak diperbolehkan ada pembangunan apapun,” jelasnya.
Kondisi tersebut berdampak pada belum optimalnya pencatatan investasi di sektor pariwisata, meskipun aktivitas usaha terus berjalan. Akibatnya, potensi investasi yang seharusnya dapat mendorong capaian target belum sepenuhnya terdata secara administratif.
Meski demikian, DPMPTSP-Naker tidak hanya bergantung pada sektor pariwisata. Evi menyebutkan, lima kelompok besar Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) di sektor perdagangan dan jasa juga mulai menunjukkan perkembangan positif. Selain itu, sektor pertanian, peternakan, hingga usaha tambak mulai tumbuh dan akan segera didorong untuk melakukan pelaporan investasi.
“Sekarang sudah mulai banyak usaha di luar pariwisata, seperti pertanian, peternakan, termasuk tambak, yang akan kita lakukan pelaporannya. Ini menjadi peluang untuk membantu mengejar target,” tutupnya. (gii)


