Tanpa jejaring travel, Art Shop Tenun Sukarara andalkan konsumen lokal

Koordinator Mina Tenun Desa Sukarara, Sudiman. (Foto. kicknews.today/Ist)

kicknews.today – Terbakarnya kawasan wisata Sade di Kabupaten Lombok Tengah disebut belum memberikan dampak signifikan terhadap penjualan kain tenun dan songket di art shop kecil Desa Sukarara.

Koordinator Mina Tenun Desa Sukarara, Sudiman, mengatakan kunjungan wisatawan ke art shop miliknya masih terbatas. Kondisi tersebut salah satunya dipengaruhi pola perjalanan wisatawan yang sebagian besar telah diarahkan oleh biro perjalanan atau travel ke sejumlah destinasi maupun art shop yang telah menjadi bagian dari jaringan mereka.

“Selama ini tidak terlalu ada dampaknya. Wisatawan itu kebanyakan sudah di-handle oleh travel. Mereka datang sesuai keinginan travel dan sudah diarahkan ke art shop tertentu,” kata Sudiman, Senin (21/9/2026).

Menurutnya, kerja sama dengan travel menjadi salah satu faktor penting bagi pelaku usaha art shop untuk mendapatkan kunjungan wisatawan dari luar daerah. Namun, Mina Tenun hingga kini belum memiliki jaringan kerja sama dengan travel.

Sudiman mengakui kondisi tersebut membuat art shop kecil seperti yang dikelolanya cukup sulit menjangkau wisatawan dari luar daerah.

“Agak susah kalau tidak kerja sama dengan travel. Walaupun kita kenal dengan guide, kalau arahannya harus dibawa ke sana, ya dibawa ke sana,” ujarnya.

Meski demikian, kondisi tersebut tidak membuat penjualan produk tenun di Mina Tenun sepenuhnya terhenti. Pasar utama justru berasal dari wisatawan lokal, terutama masyarakat dari berbagai wilayah di Pulau Lombok yang membutuhkan kain tenun untuk berbagai keperluan adat dan budaya.

Dia menyebut permintaan kain songket dari masyarakat lokal cukup tinggi, terutama untuk keperluan pigon dan rangkaian acara adat seperti nyongkolan.

“Alhamdulillah banyak yang laku. Songket seperti ini justru banyak diminati orang-orang lokal,” katanya.

Berbeda dengan sejumlah art shop yang menjual produk dengan tambahan biaya tertentu dalam rantai penjualan wisatawan, Sudiman menyebut harga produk di Mina Tenun masih dipertahankan sesuai harga sebenarnya. Untuk kain tenun songket, misalnya, harganya berkisar antara Rp1 juta hingga Rp1,5 juta.

“Harganya asli, sesuai dengan harga yang sebenarnya,” ujarnya.

Selain mempertahankan harga, Mina Tenun juga mengutamakan produk yang dibuat oleh perajin lokal. Sudiman mengatakan produk yang dijual di tempatnya mayoritas merupakan hasil tenunan masyarakat setempat, meski ketika stok tidak mencukupi, pihaknya juga memesan produk dari penenun di dusun lain.

“Kalau kita kehabisan stok, biasanya kita pesan di tempat lain, di penenun dusun-dusun lain. Kalau anggota kita tidak bisa menyediakan stok yang banyak, kita pesan ke dusun lain,” jelasnya.

Saat ini, Mina Tenun melibatkan sekitar 16 hingga 20 perajin. Produk yang dihasilkan cukup beragam, meski sebagian besar berupa sapuk dan sejumlah kain songket.

Sudiman menilai kualitas produk tenun yang dijual di art shop kecil tidak kalah dibandingkan dengan produk di art shop yang lebih besar. Bahkan, ia menegaskan Mina Tenun berupaya mempertahankan identitas produk lokal.

“Kalau kualitas kain sama saja. Di sini malah lebih banyak tenunan orang-orang sini. Kita murni produk lokal,” katanya.

Karena itu, dia berharap pemerintah daerah dapat membantu memperluas akses pasar bagi art shop kecil, termasuk membuka peluang kerja sama dengan travel maupun mengarahkan kunjungan wisatawan ke lebih banyak pelaku usaha lokal.

Menurutnya, perluasan akses pasar penting agar pelaku usaha kecil tidak hanya mengandalkan kunjungan wisatawan yang datang secara kebetulan.

“Harapan saya mudah-mudahan tahun-tahun berikutnya kita bisa ada kerja sama dengan travel-travel. Pemerintah daerah juga bisa membantu kita meningkatkan produk jualan,” tutupnya. (gii/*)

Facebook
Twitter
WhatsApp
Email

Kontributor →

Anggi

Artikel Terkait

HUT KLU11

OPINI