kicknews.today – Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Nusa Tenggara Barat (NTB) tengah menelusuri rantai distribusi semen menyusul adanya keluhan terkait kelangkaan dan kenaikan harga di sejumlah wilayah Pulau Lombok.
Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri (PPDN) Disperindag NTB, Lalu Afgan Muharor mengatakan, hasil pemantauan langsung di Pelabuhan Lembar menunjukkan kondisi bongkar muat dan ketersediaan semen masih relatif normal.

“Kalau pantauan kami di pelabuhan Lembar dan hasil koordinasi dengan beberapa instansi terkait, seperti Pelindo dan KSOP Lembar, kondisi semen masih terpantau dengan kuota yang cukup,” kata Afgan, Selasa (29/9/2026).
Meski demikian, persoalan yang kini menjadi perhatian Disperindag NTB adalah distribusi semen dari pelabuhan menuju wilayah konsumen. Tim pengawasan Disperindag NTB bahkan telah turun ke sejumlah daerah, termasuk Lombok Timur, untuk mencari titik persoalan dalam rantai distribusi.
Menurut Afgan, distribusi semen di NTB memang sangat bergantung pada pasokan dari luar daerah. Berbeda dengan Nusa Tenggara Timur (NTT) yang memiliki pabrik semen sendiri, NTB masih mengandalkan pasokan dari Pulau Jawa dan Sulawesi.
Salah satu kendala yang sebelumnya memengaruhi pasokan semen, kata dia, berkaitan dengan ketersediaan batu bara yang digunakan dalam proses produksi. Selain itu, terdapat persoalan perizinan batu bara yang sempat dalam proses penyelesaian.
“Memang kemarin kendalanya di batu bara sebagai bahan produksi semen. Terkait perizinan juga sudah kami koordinasikan dengan pusat dan sudah dirapatkan. Insyaallah dalam waktu dekat kondisi semen bisa kembali normal,” ujarnya.
Namun, Afgan mengakui kondisi di lapangan masih belum sepenuhnya merata. Saat melakukan pemantauan, pihaknya menemukan sejumlah merek semen kosong di beberapa lokasi, sementara merek lainnya masih tersedia.
Kondisi tersebut membuat Disperindag NTB berupaya mencari titik terputusnya distribusi. Surat juga akan dilayangkan kepada sejumlah distributor semen, khususnya yang beroperasi di Pulau Lombok, untuk meminta optimalisasi distribusi sekaligus menerapkan sistem peringatan dini atau early warning.
“Distributor akan kami minta berkoordinasi dan melaporkan secara berkala bagaimana kondisi di lapangan. Kami ingin tahu sebenarnya di mana putusnya mata rantai distribusi ini,” jelasnya.
Sebelumnya, harga semen di sejumlah wilayah, khususnya Lombok Timur dan Lombok Tengah, dilaporkan mengalami kenaikan. Afgan menyebut salah satu faktor yang diketahui dari hasil komunikasi dengan distributor adalah minimnya jumlah pasokan yang mereka terima.
Meski demikian, Disperindag NTB belum menyimpulkan adanya permainan atau penahanan stok oleh distributor. Afgan mengatakan dugaan tersebut masih harus dibuktikan melalui hasil pengawasan di lapangan.
“Saya belum berani bicara ke situ. Nanti teman-teman pengawasan yang bisa menyampaikan,” katanya.
Tim pengawasan Disperindag NTB saat ini diarahkan untuk melakukan pengecekan hingga ke gudang-gudang distributor. Jika ditemukan indikasi pelanggaran, tindak lanjut akan dilakukan oleh bidang pengawasan.
Afgan mengatakan Disperindag NTB juga masih menghadapi keterbatasan sumber daya, terutama terkait Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) bidang perdagangan. Persoalan tersebut sebelumnya telah dibahas bersama Kementerian Perdagangan.
“Kami tidak punya PPNS penyidik perdagangan di sini. Kemarin dari kementerian memang ada harapan untuk bisa menghadirkan PPNS-PPNS baru,” ujarnya.
Afgan menegaskan, berdasarkan pemantauan terakhir di Pelabuhan Lembar, aktivitas bongkar muat semen masih berjalan stabil. Sejumlah semen juga telah keluar dari pelabuhan untuk didistribusikan.
“Untuk stok sementara di bongkar muat pelabuhan masih terpantau stabil. Mungkin distribusinya yang belum merata di banyak tempat. Beberapa semen tadi juga sudah keluar,” tutupnya. (gii/*)






