Kicknews.today – Ketupat telah menjadi hidangan ikonik saat Lebaran di Indonesia. Namun, tahukah Anda asal-usul dan makna filosofis di balik makanan berbahan beras yang dibungkus anyaman janur ini?
Asal-Usul Ketupat

Ketupat diperkirakan pertama kali diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga, salah satu Wali Songo, pada abad ke-15 sampai 16 Masehi. Sunan Kalijaga menggunakan ketupat sebagai media dakwah untuk menyebarkan Islam di Jawa. Nama “ketupat” sendiri berasal dari bahasa Jawa ”kupat”, yang merupakan kependekan dari ”ngaku lepat” (mengakui kesalahan) dan ”laku papat” (empat tindakan).
Makna Filosofis
• Ngaku Lepat (Mengakui Kesalahan)
Anyaman ketupat yang rumit melambangkan kesalahan manusia yang saling terkait. Saat Lebaran, ketupat menjadi simbol permintaan maaf dan pengakuan dosa.
• Laku Papat (Empat Tindakan)
• Lebaran: Menandakan berakhirnya puasa.
• Luberan: Melimpahkan rezeki kepada yang membutuhkan (sedekah).
• Lepusan: Melepas amarah dan dendam.
• Laburan: Menjaga kebersihan hati dan perbuatan (dari kata ”kapur” yang berarti putih).
• Bentuk dan Isinya
Anyaman janur yang rapat melambangkan kesucian hati, sedangkan beras di dalamnya menggambarkan kemakmuran.
Penyebaran dan Variasi Ketupat
Ketupat tidak hanya dikenal di Indonesia, tetapi juga di negara Asia Tenggara seperti Malaysia, Singapura, Brunei, dan Filipina (disebut ”pusô”). Di Indonesia sendiri, ketupat memiliki berbagai variasi, seperti:
• Ketupat Banten (besar dan gepeng)
• Ketupat Jawa (berbentuk segi empat)
• Ketupat Medan (lebih kecil dan padat)
• Ketupat Lombok, atau yang dikenal sebagai ”Topat” dalam bahasa Sasak, bukan sekadar hidangan Lebaran biasa. Ia menjadi pusat dari sebuah tradisi bernama Lebaran Topat, yang dirayakan enam hari setelah Idul Fitri (8 Syawal) sebagai bentuk syukur setelah menjalankan puasa sunnah Syawal
Ketupat dalam Tradisi Lebaran
Ketupat biasanya disajikan dengan opor ayam, rendang, atau sambal goreng hati, menjadi hidangan wajib setelah salat Idul Fitri. Tradisi ini masih lestari hingga kini, memperkaya khazanah budaya Nusantara.
Dari masa ke masa, ketupat tetap menjadi simbol perdamaian, kebersamaan, dan kebahagiaan di hari raya. (*)
<!–/data/user/0/com.samsung.android.app.notes/files/clipdata/clipdata_bodytext_250405_193243_308.sdocx–>