kicknews.today – Warisan sejarah dan peradaban Bima kembali mengukir prestasi di tingkat internasional. Naskah kuno Bo’ Sangaji Kai, yang merekam perjalanan Kerajaan dan Kesultanan Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), resmi ditetapkan UNESCO sebagai Memory of the World (MoW) atau Ingatan Dunia kawasan Asia-Pasifik.
Pengakuan internasional tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Bima. Sebab, Bo’ Sangaji Kai bukan sekadar manuskrip kuno, melainkan bukti tertulis yang menyimpan jejak sejarah, pemerintahan, kebudayaan, hingga kehidupan sosial masyarakat Bima sejak abad ke-17 hingga ke-19.
Kepala Museum Sampajara Bima, Dewi Ratna Muchlisa, mengungkapkan rasa syukur atas keberhasilan tersebut. Menurutnya, pengakuan UNESCO merupakan terwujudnya harapan panjang untuk membawa warisan sejarah Bima dikenal lebih luas di dunia.
“Alhamdulillah, harapan dan mimpi Bo’ Sangaji Kai mendapatkan MoW UNESCO akhirnya terwujud,” ungkap Dewi, Minggu (8/11/2026).
Perempuan yang akrab disapa Dae Dewi itu menjelaskan, sebelum mendapatkan pengakuan UNESCO, dirinya terlebih dahulu mempresentasikan naskah Bo’ Sangaji Kai dalam pertemuan Memory of the World Committee for Asia and Pacific (MoWCAP) di Jakarta.
Presentasi tersebut berlangsung pada Rabu (4/11/2026). Sehari kemudian, Kamis (5/11/2026), Bo’ Sangaji Kai resmi ditetapkan sebagai Memory of the World UNESCO kawasan Asia-Pasifik.
“Rabu (4/11/2026) saya presentasikan dan sehari kemudian atau Kamis (5/11/2026) resmi ditetapkan Memory of The World Asia-Pasifik UNESCO,” jelas cucu Sultan Bima XIV Muhammad Salahuddin tersebut.
Secara etimologi, Bo’ Sangaji Kai berasal dari dua kata dalam bahasa Bima. Bo’ berarti buku, sedangkan Sangaji Kai merupakan gelar Raja Bima sebelum berubah menjadi Sultan. Dengan demikian, Bo’ Sangaji Kai merupakan kumpulan catatan perjalanan Kerajaan dan Kesultanan Bima.
Pada awalnya, naskah tersebut ditulis menggunakan daun lontar dengan bahasa dan aksara Bima (Mbojo). Namun, pada masa pemerintahan Sultan Abil Khair Sirajuddin yang mulai berkuasa pada 1645, penulisan naskah kemudian dialihkan ke bahasa Melayu dengan menggunakan aksara Arab.
Kandungan manuskrip ini memiliki nilai sejarah yang sangat penting. Tidak hanya merekam pergantian pemerintahan dan perjalanan Kesultanan Bima, tetapi juga mendokumentasikan kehidupan sosial, budaya, tradisi, hukum, serta struktur pemerintahan yang berpadu dengan adat istiadat masyarakat setempat.
Salah satu catatan penting di dalamnya adalah peristiwa dahsyat letusan Gunung Tambora pada 1815. Peristiwa tersebut tidak hanya berdampak besar bagi wilayah Bima dan sekitarnya, tetapi juga memberikan pengaruh hingga ke sejumlah negara di Eropa.
“Naskah Bo’ Sangaji Kai mencatat peristiwa meletusnya Gunung Tambora. Dampak letusannya sampai ke negara-negara benua Eropa,” terang Dae Dewi.
Selain sejarah Tambora, manuskrip tersebut juga menyimpan informasi mengenai berbagai tradisi dan kebudayaan Bima, termasuk Hanta Ua Pua, hukum adat, serta sistem pemerintahan pada masa Kerajaan dan Kesultanan Bima.
“Cerminan Kerajaan dan Kesultanan Bima ada di dalam naskah ini,” ujarnya.
Sebelum mendapatkan pengakuan UNESCO, Bo’ Sangaji Kai terlebih dahulu ditetapkan sebagai Ingatan Kolektif Nasional (IKON) oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia pada 2024.
Dua tahun berselang, tepatnya pada 2026, manuskrip bersejarah tersebut berhasil melangkah lebih jauh dengan memperoleh pengakuan Memory of the World UNESCO kawasan Asia-Pasifik.
Menurut Dae Dewi, pengakuan tersebut tidak terlepas dari nilai dan kandungan informasi penting yang tersimpan dalam manuskrip. Bo’ Sangaji Kai menjadi sumber pengetahuan yang menggambarkan identitas, perjalanan sejarah, dan peradaban masyarakat Bima.
Ia berharap pencapaian ini menjadi momentum bagi seluruh masyarakat, terutama generasi muda Bima, untuk semakin mengenal, mencintai, serta menjaga warisan budaya peninggalan leluhur.
Dae Dewi mengajak generasi penerus agar tidak sekadar bangga atas pengakuan dunia, tetapi juga memiliki kepedulian untuk mempelajari dan melestarikan manuskrip bersejarah tersebut.
Sebab, Bo’ Sangaji Kai bukan hanya milik masa lalu. Di dalamnya tersimpan identitas dan jati diri Bima yang harus terus diwariskan kepada generasi mendatang. (jr)



