Pelan tapi pasti, Alumni IPDN rintis Kampung Hijau di Kota Bima

kicknews.today – Perubahan besar tidak selalu lahir dari langkah yang besar. Terkadang, ia tumbuh dari hal-hal sederhana: sampah yang mulai dipilah, lubang biopori yang dibuat di halaman rumah, hingga sayuran yang tumbuh di pekarangan sendiri.

Dari langkah-langkah kecil itulah, Lingkungan Salama, Kelurahan Nae, Kota Bima, mulai diarahkan menuju sebuah cita-cita bersama: menjadi Kampung Hijau yang bersih, sehat, dan produktif.

Di balik ikhtiar tersebut, ada sosok Lurah Nae, Fazhurrahman, S.STP., M.AP. Alumni Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) itu memilih bergerak secara bertahap, membangun kesadaran masyarakat dari lingkungan terdekat, sekaligus mendorong warga menjadi bagian penting dari perubahan.

Bagi Fazhurrahman, yang akrab disapa Fazhur, persoalan lingkungan tidak cukup diselesaikan dengan mengangkut sampah atau membersihkan jalan sesekali. Perubahan yang lebih mendasar harus dimulai dari rumah tangga, terutama dengan mengubah cara masyarakat memandang sampah.

Sesuatu yang selama ini dianggap tidak berguna, menurut pendekatan yang dikembangkan melalui Kampung Hijau Salama, justru dapat menjadi sumber manfaat apabila dikelola dengan benar.

Gagasan Kampung Hijau Salama tidak berhenti pada penataan lingkungan agar terlihat lebih asri. Program ini berupaya membangun kebiasaan baru yang menghubungkan kepedulian terhadap lingkungan dengan kebutuhan sehari-hari masyarakat.

Warga didorong memilah sampah sejak dari rumah. Sampah organik kemudian diarahkan untuk dikelola melalui lubang biopori, yang dapat membantu penyerapan air ke dalam tanah sekaligus menjadi tempat penguraian bahan organik.

Di sisi lain, pekarangan rumah didorong menjadi ruang produktif melalui penanaman sayuran. Langkah sederhana ini diharapkan dapat memberikan manfaat langsung bagi keluarga, sekaligus menumbuhkan kesadaran bahwa lingkungan yang terawat bisa berjalan beriringan dengan ketahanan pangan rumah tangga.

Dua persoalan yang kerap dihadapi masyarakat perkotaan—sampah dan kebutuhan pangan—coba dijawab melalui satu pendekatan yang dekat dengan kehidupan warga.

Tidak harus menunggu fasilitas besar atau program yang rumit. Perubahan bisa dimulai dari apa yang tersedia di sekitar rumah, selama dilakukan secara konsisten dan melibatkan masyarakat.

Dalam mengembangkan gagasan tersebut, Fazhurrahman membangun kolaborasi bersama Smartfren dan berbagai pihak untuk mendorong partisipasi warga dalam gerakan peduli lingkungan.

Kolaborasi menjadi bagian penting karena membangun kampung yang lebih hijau bukan pekerjaan satu orang atau satu institusi. Dibutuhkan keterlibatan masyarakat, dukungan berbagai pihak, serta pendampingan agar kebiasaan yang mulai tumbuh tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat.

Di sinilah tantangan sesungguhnya berada. Mengajak masyarakat mengikuti sebuah kegiatan mungkin dapat dilakukan dalam waktu singkat. Namun, membangun kebiasaan agar warga terus memilah sampah, merawat tanaman, dan menjaga kebersihan lingkungan membutuhkan proses yang lebih panjang.

Karena itu, Kampung Hijau Salama diarahkan menjadi gerakan yang tumbuh bersama masyarakat. Warga bukan sekadar penerima program, melainkan pelaku utama yang menentukan keberlanjutannya.

Sebagai alumni IPDN, Fazhurrahman mengemban tanggung jawab pemerintahan di tingkat kelurahan yang bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat.

Dalam konteks itu, Kampung Hijau menjadi salah satu upaya menerjemahkan gagasan pelayanan publik dan pemberdayaan masyarakat ke dalam kegiatan nyata yang dekat dengan kebutuhan warga.

Pendekatan yang dilakukan menempatkan perubahan perilaku sebagai bagian penting dari pembangunan. Sebab, lingkungan yang bersih tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan sarana, tetapi juga oleh kesadaran masyarakat untuk menjaga dan merawatnya.

Program ini sekaligus memperlihatkan bahwa inovasi di tingkat kelurahan tidak selalu harus berbentuk proyek besar. Gagasan sederhana pun dapat berkembang menjadi gerakan yang bermanfaat apabila dirancang sesuai kebutuhan masyarakat, dibangun melalui kolaborasi, dan dijalankan secara konsisten.

Respons positif terhadap konsep Kampung Hijau Salama, termasuk perhatian di ruang digital, menjadi dorongan untuk terus mengembangkan gagasan tersebut.

Namun, ukuran keberhasilan pada akhirnya bukan sekadar seberapa menarik sebuah program diperbincangkan, melainkan sejauh mana perubahan itu benar-benar hadir dalam keseharian warga.

Ke depan, skema Kampung Hijau Salama ditargetkan dapat direplikasi di lingkungan lain di Kelurahan Nae. Harapannya, praktik yang tumbuh dari tingkat RT dan RW ini dapat menjadi inspirasi bagi wilayah lain di Kota Bima.

Tentu, upaya tersebut membutuhkan proses, pendampingan, serta evaluasi secara berkala. Pengelolaan sampah perlu berjalan konsisten, tanaman harus dirawat, dan partisipasi warga perlu terus diperkuat agar manfaat program dapat dirasakan dalam jangka panjang.

Pelan tapi pasti, Salama sedang menapaki jalan menuju lingkungan yang lebih hijau, bersih, dan produktif.

Dari sampah yang mulai dipilah hingga sayuran yang ditanam di pekarangan, setiap langkah menyimpan pesan bahwa perubahan tidak selalu dimulai dari sesuatu yang megah.

Kadang, perubahan justru berawal dari kesediaan seseorang untuk bergerak, mengajak warga di sekitarnya, lalu menjaga agar langkah kecil itu terus berlanjut.

Bagi Fazhurrahman, Kampung Hijau bukan sekadar tentang membuat Salama terlihat lebih hijau. Lebih dari itu, ada harapan agar tumbuh kesadaran kolektif bahwa menjaga lingkungan merupakan tanggung jawab bersama—dimulai dari rumah sendiri, diperkuat oleh kebersamaan warga, dan diwariskan sebagai kebiasaan baik untuk masa depan Kota Bima. (jr)

Facebook
Twitter
WhatsApp
Email

Kontributor →

Kontributor kicknews

–

Artikel Terkait

Ultah Lombok Tengah

OPINI